Dana Darurat Berapa Bulan? Ini Batas Minimal Menurut OJK
Angka 3, 6, 9, sampai 12 kali beredar tanpa standar yang seragam. Ini cara menentukan targetmu sendiri, dan kapan utang perlu didahulukan.

Periskop.id - Dasar perhitungannya adalah pengeluaran bulananmu, bukan gajimu.
Kekeliruan ini yang paling sering membuat orang menyerah sebelum mulai. Menghitung enam kali gaji menghasilkan angka yang terasa mustahil, padahal yang dibutuhkan enam kali pengeluaran.
Kalau gajimu Rp7 juta dan pengeluaranmu Rp4,5 juta, selisihnya besar. Target Rp42 juta berubah jadi Rp27 juta.
Angka yang Beredar Tidak Seragam
Kamu mungkin pernah melihat tabel yang membagi target berdasarkan status pernikahan. Lajang sekian kali, menikah sekian kali, punya anak sekian kali.
Tabel itu beredar di banyak tempat, tapi angkanya berbeda-beda tergantung siapa yang menerbitkan.
Untuk kategori sudah menikah tanpa anak saja, ada yang menyebut 6 kali, ada yang 9 kali, ada yang memberi rentang 6 sampai 9 kali. Untuk lajang, ada yang menulis 3 sampai 4 kali, ada yang 3 sampai 6 kali, ada yang langsung 6 kali.
Artinya tabel itu konvensi perencana keuangan, bukan ketentuan baku.
Yang punya pijakan resmi cuma batas bawahnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut dana darurat setidaknya setara tiga kali pengeluaran bulanan untuk menjaga kestabilan keuangan.
Anggap tiga kali sebagai lantai. Sisanya kamu tentukan sendiri.
Yang Sebenarnya Menentukan Angkamu
Status pernikahan cuma penanda kasar. Dua hal ini lebih menentukan.
Seberapa stabil penghasilanmu. Karyawan tetap di perusahaan yang sehat berada di posisi berbeda dengan pekerja lepas yang pendapatannya naik turun tiap bulan. Makin tidak pasti pemasukanmu, makin tebal bantalan yang kamu butuhkan.
Berapa orang yang bergantung padamu. Ini bukan soal punya anak atau tidak. Lajang yang menanggung biaya orang tua punya kewajiban tetap yang sama beratnya dengan orang berkeluarga.
Seberapa cepat kamu bisa dapat kerja lagi. Kalau keahlianmu banyak dicari, tiga bulan mungkin cukup. Kalau bidangmu sempit dan lowongannya jarang, siapkan lebih.
Hitung dari situ, bukan dari tabel.
Cara Menghitungnya
Buka mutasi rekening dan riwayat dompet digitalmu tiga bulan terakhir. Jangan mengira-ngira, karena ingatan cenderung meleset jauh.
Jumlahkan yang benar-benar rutin: sewa atau cicilan tempat tinggal, makan, transportasi, listrik dan air, internet, iuran, dan kewajiban ke keluarga.
Ambil rata-ratanya, lalu kalikan dengan target bulan yang kamu tentukan.
Angka yang keluar mungkin terasa besar. Itu wajar, dan bukan alasan untuk tidak memulai.
Kalau Punya Utang, Mana Dulu?
Ini pertanyaan yang jarang dijawab tuntas, padahal paling menentukan.
Mengejar dana darurat penuh sambil menanggung cicilan berbunga tinggi secara matematis merugikan. Bunga yang kamu bayar hampir selalu lebih besar daripada imbal hasil tempat kamu menyimpan dana darurat.
Urutan yang lebih masuk akal:
Kumpulkan bantalan tipis dulu, sekitar satu kali pengeluaran bulanan. Fungsinya mencegahmu berutang lagi saat ada kejadian kecil tak terduga.
Lalu habiskan cicilan berbunga tinggi, biasanya paylater dan kartu kredit.
Setelah itu baru lengkapi dana daruratnya sampai target.
Kalau cicilanmu sudah melewati 30% penghasilan, urusan utang memang perlu diselesaikan lebih dulu.
Di Mana Menyimpannya
Dua syaratnya sederhana: bisa dicairkan cepat, dan terpisah dari rekening harianmu.
Rekening terpisah penting bukan karena bunganya, melainkan karena jarak. Dana yang terlihat setiap kali kamu membuka aplikasi perbankan akan terpakai untuk hal yang bukan darurat.
Instrumen yang umum dipakai adalah tabungan terpisah, deposito jangka pendek, atau reksa dana pasar uang. Ketiganya mengutamakan kemudahan pencairan.
Jangan menaruhnya di instrumen yang nilainya bisa turun. Dana darurat dipakai justru saat keadaan sedang buruk, dan itu sering bertepatan dengan saat pasar sedang jatuh.
Soal Inflasi, Terima Saja
Dana darurat memang tergerus inflasi. Bunga tabungan biasanya lebih rendah daripada laju kenaikan harga.
Itu bukan kegagalan, melainkan harga dari ketersediaan. Tugas dana ini adalah ada saat dibutuhkan, bukan bertumbuh.
Yang perlu kamu jaga cukup satu hal: setelah target tercapai, berhenti menambah. Kelebihannya lebih berguna dialihkan ke tujuan lain.
Yang Bukan Keadaan Darurat
Batasan ini yang membuat dana daruratmu bertahan.
Liburan bukan darurat. Ponsel baru bukan darurat. Diskon besar bukan darurat. Menambah modal usaha bukan darurat.
Yang termasuk: kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan mendesak, perbaikan yang tidak bisa ditunda, dan kejadian keluarga yang membutuhkan biaya langsung.
Kalau ragu, pertanyaannya sederhana. Apakah ini bisa menunggu sampai bulan depan?
Mulai dari Angka yang Terasa Kecil
Target Rp27 juta terasa jauh kalau dilihat sekaligus. Dibagi ke Rp750 ribu per bulan, tiga tahun.
Terlalu lama? Naikkan setorannya saat ada penghasilan tambahan seperti bonus atau tunjangan hari raya.
Yang menentukan bukan besarnya setoran awal, melainkan apakah setorannya berjalan terus.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan, dan dana darurat dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.