Periskop.id - Indeks acuan KOSPI di Bursa Efek Korea Selatan ditutup melemah 1% pada Kamis (30/7/2026), tergerus sekitar 40% dari level puncaknya akhir Juni 2026. Koreksi ini terjadi tak lama setelah Samsung Electronics dan SK Hynix sempat menembus kapitalisasi pasar senilai US$1 triliun, atau setara Rp18 kuadriliun, berkat lonjakan permintaan chip AI secara global.

Kedua raksasa produsen chip memori itu sebelumnya mencatat kesuksesan besar di bidang kecerdasan buatan, hingga masuk jajaran perusahaan teknologi paling bernilai di dunia pada Mei 2026. Namun performa gemilang tersebut justru berbalik jadi salah satu pemicu utama merosotnya pasar saham Korea Selatan.

Business Insider melaporkan, Jumat (31/7/2026), peningkatan kinerja dua perusahaan pembuat chip terbesar itu menjadi penyebab utama tekanan yang dialami KOSPI belakangan ini.

Samsung sendiri mencatat kenaikan laba operasional sekitar 1.800% menjadi US$62 miliar, atau sekitar Rp1,1 kuadriliun. Angka fantastis ini bahkan melampaui perkiraan para analis.

Meski laba melonjak drastis, harga saham Samsung justru tercatat 45% lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Saham perusahaan ditutup turun 1% pada perdagangan Kamis.

SK Hynix mengalami nasib serupa. Perusahaan ini memecahkan rekor dengan kenaikan laba operasional 557%, meski capaian tersebut masih di bawah ekspektasi analis.

Saham SK Hynix ditutup anjlok 6% dan telah merosot sekitar 56% dibandingkan level Juni lalu. Penurunan ini menyoroti posisi SK Hynix sebagai produsen chip memori yang kinerjanya sangat bergantung pada siklus pasar.

Perusahaan ini sempat melesat menjadi pemasok utama chip memori high bandwidth untuk akselerator AI. Awal Juli 2026, SK Hynix bahkan mencatat penawaran American Depositary Receipt (ADR) di Nasdaq senilai US$26,5 miliar, atau sekitar Rp478,8 triliun.

Harga saham SK Hynix yang tercatat di bursa Amerika Serikat kini justru merosot. Kondisi ini mencerminkan antusiasme investor terhadap saham perusahaan chip AI mulai mereda.

Penurunan tajam ini turut menyoroti risiko maraknya exchange-traded fund (ETF) berbasis leverage saham tunggal di Korea Selatan. Skema investasi tersebut disebut memperparah penurunan karena mendorong percepatan koreksi harga saham.

Sebelumnya, KOSPI sempat melonjak signifikan seiring reli saham-saham chip. Bursa Asia bahkan sempat mencatat penguatan besar dengan KOSPI melonjak hingga 14% didorong sektor chip sebelum akhirnya berbalik arah.