Slow Mode

Bukan Cuma Lagi Mens, Ini 4 Fase Siklus Haid yang Dialami Perempuan

Kenali 4 fase siklus haid perempuan, dari menstruasi, folikular, ovulasi, hingga luteal yang memengaruhi hormon dan mood.

7 jam yang lalu · 2 mnt baca
5 Mitos Menstruasi yang Wajib Kamu Ketahui dan Faktanya
Menstruasi. Pexels/Karola G
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Banyak orang, terutama kaum adam, yang masih mengira bahwa siklus haid hanya sebatas pendarahan bulanan atau periode menstruasi saja. Padahal, siklus haid merupakan proses alami berkelanjutan sepanjang bulan yang terbagi menjadi empat fase unik. Masing-masing fase membawa perubahan hormon yang berpengaruh langsung pada kondisi fisik maupun suasana hati seorang perempuan.

Memahami fluktuasi ini sangat penting agar pasangan maupun lingkungan sekitarnya tidak salah membaca situasi. Pemahaman mengenai siklus tubuh sendiri dapat membantu perempuan mengelola energi, emosi, serta aktivitas harian dengan jauh lebih optimal. Berikut penjelasannya.

Fase Menstruasi

Siklus ini dimulai dari fase menstruasi. Pada fase ini, tubuh perempuan kehilangan darah dan energi, yang sering kali disertai dengan rasa kram, kelelahan, hingga perubahan suasana hati. Gejala ini merupakan peristiwa biologis nyata akibat perubahan hormonal, sehingga bukan merupakan alasan yang dibuat-buat.

Fase Folikular

Setelah fase menstruasi selesai, tubuh memasuki fase folikular. Kadar hormon estrogen mulai meningkat, membawa lonjakan energi baru. Fase ini umumnya menjadi waktu paling produktif dan bersemangat bagi perempuan, sangat pas untuk melakukan diskusi berat atau menyusun rencana-rencana besar bersama.

Fase Ovulasi

Fase ketiga dinamakan fase ovulasi, yang dikenal sebagai masa paling subur. Fase ini merupakan momen kunci bagi pasangan yang sedang merencanakan maupun mengusahakan untuk menghindari kehamilan. Karena perannya yang sangat krusial, informasi pada masa subur ini perlu dipahami bersama oleh kedua belah pihak pasangan dan tidak hanya diketahui oleh satu pihak saja.

Fase Luteal

Perjalanan siklus ini ditutup oleh fase luteal, di mana hormon progesteron akan naik lalu turun secara drastis. Gejala Premenstrual Syndrome (PMS) biasanya mulai muncul pada fase ini, ditandai dengan tubuh yang gampang lelah, lebih sensitif, atau suasana hati yang mudah berubah. Kondisi ini murni merupakan respons biologis tubuh, bukan kesalahan siapa-siapa.

Memahami siklus bulanan ini bukan bertujuan untuk menjadikan seseorang ahli kandungan. Pengetahuan ini hadir agar semua pihak bisa lebih peka dalam memahami kondisi perempuan, tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan dukungan, serta kapan harus memberikan ruang tanpa menghakimi.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Menstruasi, dan perempuan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.