periskop.id - Bayangkan jika tubuhmu sudah lama mengirimkan sinyal peringatan, tetapi semuanya dianggap sepele, sekadar jerawat, rambut rontok, atau haid yang berantakan. Tanpa disadari, tanda-tanda itu bukan soal penampilan, melainkan pesan penting tentang kesehatan.
Itulah kenyataan yang dialami banyak perempuan dengan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, kondisi ini dialami oleh sekitar 6–13% perempuan usia reproduksi. Namun, yang lebih mengkhawatirkan, hingga 70% pengidap PCOS di dunia belum terdiagnosis.
Lantas, mengapa kondisi yang begitu umum bisa luput dikenali? Jawabannya sering kali terletak pada bagaimana kita salah mengartikan gejala-gejalanya.
Sinyal Awal PCOS yang Sering Diabaikan Perempuan
Salah satu penyebab utama PCOS kerap terlambat terdiagnosis adalah karena gejalanya sering menyamar sebagai persoalan penampilan semata. Banyak perempuan mengira perubahan pada tubuh mereka hanyalah urusan kulit dan rambut, bukan sinyal gangguan kesehatan yang lebih serius.
Padahal, menurut National Institute of Child Health and Human Development (NICHD), gejala seperti kulit berminyak, jerawat, atau pertumbuhan rambut berlebih kerap tidak disampaikan saat konsultasi medis. Alasannya sederhana, gejala tersebut dianggap tidak ada kaitannya dengan kesehatan hormon atau organ reproduksi.
Di sinilah persoalannya. Tubuh sebenarnya sudah memberi sinyal peringatan sejak dini, tetapi sering kali tidak disadari atau dianggap sepele. Menurut WHO, PCOS kerap ditandai oleh gejala yang berkaitan dengan kelebihan hormon androgen, yang terlihat jelas melalui perubahan pada kulit dan rambut.
Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:
- Pertumbuhan rambut berlebih di wajah atau tubuh
Rambut tumbuh lebih tebal dan gelap di area seperti wajah, dada, atau perut, pola yang umumnya dikaitkan dengan hormon pria. - Jerawat atau kulit berminyak
Jerawat yang menetap hingga usia dewasa dan sulit membaik meskipun sudah mencoba berbagai perawatan. - Penipisan rambut di kulit kepala
Rambut menjadi lebih tipis di bagian depan atau atas kepala, menyerupai pola kebotakan pada pria.
WHO menegaskan bahwa gejala-gejala ini merupakan bagian dari spektrum PCOS, namun sering kali tidak langsung dikaitkan dengan gangguan hormon atau kesehatan reproduksi, sehingga banyak kasus baru teridentifikasi setelah masalah lain muncul.
Kenali Tanda PCOS Lewat Perubahan pada Kulit
Pernah memperhatikan bercak kulit yang menggelap, menebal, dan terasa lembut seperti beludru di area leher, ketiak, atau lipatan tubuh? Banyak orang mengira itu hanya kotoran membandel. Padahal, anggapan tersebut keliru.
Kondisi ini dikenal sebagai acanthosis nigricans. Menurut penjelasan NICHD, acanthosis nigricans berhubungan dengan gangguan sensitivitas insulin, yaitu ketika tubuh tidak merespons insulin secara efektif. Masalah ini merupakan bagian dari kondisi metabolik yang sering menyertai PCOS.
NICHD juga mencatat bahwa lebih dari separuh perempuan dengan PCOS mengalami resistensi insulin, sehingga perubahan warna dan tekstur kulit tersebut dapat menjadi tanda fisik yang muncul bersamaan dengan gejala PCOS lainnya dan penting untuk diperhatikan dalam proses pengenalan dini kondisi ini.
Gangguan Haid sebagai Sinyal Awal PCOS
Banyak perempuan menganggap haid yang tidak teratur sebagai hal biasa, sekadar efek stres, kelelahan, atau pola hidup yang berubah. Padahal, menurut WHO, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. PCOS merupakan penyebab paling umum terjadinya anovulasi, yaitu kegagalan ovarium melepaskan sel telur, yang berdampak langsung pada siklus menstruasi.
Ada beberapa pola haid yang perlu mendapat perhatian khusus, antara lain:
- Amenorrhea
Tidak mengalami haid sama sekali dalam waktu yang lama. - Oligomenorrhea
Haid datang sangat jarang, dengan jarak siklus yang jauh lebih panjang dari normal. - Haid berat
Pendarahan menstruasi yang sangat banyak saat haid terjadi, sering kali disertai durasi yang lebih lama.
Sayangnya, banyak kasus PCOS baru terdeteksi ketika perempuan sudah menikah dan mengalami kesulitan untuk hamil. Keterlambatan ini membuat risiko komplikasi jangka panjang, seperti gangguan metabolik dan masalah kesuburan menjadi lebih besar. Padahal, deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu mengendalikan gejala dan mencegah dampak kesehatan di kemudian hari.
Tinggalkan Komentar
Komentar