Periskop.id - Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi mendorong otoritas memperkuat strategi non-moneter, untuk membantu menopang stabilitas nilai tukar rupiah yang belakangan ini mengalami tekanan hingga mendekati level Rp17.000 per dolar AS.

“Nasib rupiah itu bergantung pada pemerintah, bukan Bank Indonesia (BI) saja,” kata Rahma seperti dikutip dari Antara di Jakarta, Jumat (23/1). 

Rahma menilai, pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, tekanan datang dari perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China, perubahan arah kebijakan suku bunga The Fed, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.

Sementara dari sisi domestik, ia menilai tantangan utama berada pada aspek fiskal. Defisit anggaran yang melebar serta meningkatnya beban fiskal dinilai mempengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Rahma juga mengingatkan, tekanan nilai tukar yang berlangsung lama berpotensi memperberat pengelolaan APBN, khususnya di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas. Karena itu, ia menegaskan, persoalan rupiah saat ini tidak dapat disederhanakan sebagai isu moneter semata.

Menurut dia, kekuatan fundamental ekonomi Indonesia masih terbatas, terutama akibat meningkatnya tekanan fiskal. Adapun nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dinilai telah bergerak menuju keseimbangan baru, sehingga kecil kemungkinan terjadi pembalikan kembali ke level Rp15.000 per dolar AS.

Jika terjadi penguatan rupiah dalam jangka menengah, menurut Rahma, penguatan tersebut diperkirakan hanya bertahan hingga kisaran Rp16.500 per dolar AS. Dalam konteks tersebut, ia menilai pemerintah perlu memperkuat strategi non-moneter untuk membangun kembali kepercayaan pasar.

Diplomasi Ekonomi
Upaya yang dapat ditempuh termasuk diplomasi ekonomi dan perdagangan guna memperbaiki persepsi terhadap prospek ekonomi nasional. “Jika dalam pertemuan WEF ini Presiden Prabowo bisa meyakinkan Presiden Trump, karena ini momentum. Presiden Prabowo kalau bisa melobi Presiden Trump untuk keringanan tarif dengan meyakinkan Trump bahwa barang-barang ekspor kita ke AS tidak merusak ekonomi Amerika,” kata Rahma.

Meski demikian, ia menilai langkah intervensi yang dilakukan bank sentral Indonesia di pasar offshore NDF, DNDF, dan pasar spot sudah tepat. Intervensi tersebut bertujuan meredam tekanan spekulatif, terutama yang berasal dari pasar offshore.

Namun, menurut dia, kondisi pelemahan rupiah kali ini berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Pada periode terdahulu, pelemahan rupiah yang cukup signifikan biasanya diikuti oleh pelaku pasar yang berani mengambil posisi short dolar AS terhadap rupiah.

Selain itu, pelemahan rupiah kerap diikuti aliran dana masuk karena investor luar negeri melihat aset Indonesia berada pada level yang menarik. Namun, catat Rahma, pola tersebut tidak terjadi pada kondisi saat ini. Meskipun dolar AS cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang global, tingkat kepercayaan investor terhadap rupiah justru lebih terbatas.

Tekanan Mereda
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat, bergerak menguat 76 poin atau 0,45% menjadi Rp16.820 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.896 per dolar AS Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan, penguatan kurs rupiah mencerminkan respons pasar atas tekanan global yang mereda.

“Penguatan (rupiah) mencerminkan respons pasar terhadap meredanya tekanan global dalam jangka pendek, terutama dari pergerakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury,” tuturnya, Jumat (23/1).

Kendati begitu, lanjutnya, ruang penguatan rupiah masih terbatas karena pelaku pasar cenderung wait and see terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat dan dinamika sentimen global. Secara global, rupiah dipengaruhi ekspektasi arah kebijakan The Fed, pergerakan yield US Treasury, serta kondisi geopolitik yang masih berpotensi mendorong sentimen risk-off.

Adapun sentimen dalam negeri, rupiah ditopang fundamental ekonomi yang relatif solid, inflasi terkendali, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. “Arus modal asing ke pasar obligasi domestik juga menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan rupiah,” ujar Taufan.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.838 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.902 per dolar AS.