Periskop.id - Bank Indonesia (BI) mencatat penggunaan mata uang lokal dalam transaksi ekonomi dan keuangan lintas negara atau local currency transaction (LCT) melonjak signifikan sepanjang awal 2026. Hingga April 2026, volume transaksi LCT mencapai US$22,61 miliar atau sekitar Rp368 triliun, naik lebih dari tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$7,33 miliar.
Lonjakan tersebut menunjukkan semakin banyak pelaku usaha yang mulai bertransaksi langsung menggunakan mata uang domestik, tanpa harus bergantung pada dolar Amerika Serikat (AS) sebagai mata uang perantara. Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia Ruth A. Cussoy Intama mengatakan, tren peningkatan LCT menjadi sinyal positif bagi diversifikasi sistem pembayaran dan stabilitas transaksi internasional Indonesia.
“Volume ini naik tajam. Ini mendorong diversifikasi mata uang, bahwa tidak harus semua itu lewat dolar AS,” kata Ruth dalam diskusi media di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5).
Sepanjang 2025, total transaksi LCT tercatat mencapai US$25,72 miliar. Artinya, realisasi hingga April 2026 hampir menyamai total transaksi selama satu tahun penuh sebelumnya.
Berdasarkan data BI, China masih menjadi mitra utama transaksi LCT Indonesia dengan porsi mencapai 89%. Posisi berikutnya ditempati Jepang sebesar 6% dan Malaysia sekitar 3%.
Selain nilai transaksi yang meningkat, jumlah pelaku usaha yang menggunakan skema LCT juga terus bertambah. Hingga April 2026, rata-rata terdapat 5.265 pelaku transaksi LCT setiap bulan.
Skema Cross Rate
Ruth menjelaskan, selama ini transaksi perdagangan internasional umumnya masih menggunakan skema cross rate, yakni konversi rupiah ke dolar AS terlebih dahulu sebelum ditukar kembali ke mata uang negara tujuan. Mekanisme tersebut dinilai membuat biaya transaksi menjadi lebih mahal karena adanya dua kali konversi nilai tukar.
Melalui sistem LCT, eksportir dan importir kini dapat langsung menggunakan mata uang lokal masing-masing negara sehingga transaksi menjadi lebih efisien dan risiko fluktuasi dolar dapat ditekan.
“Bukan kita menghindari atau tidak mau dolar AS, kita tahu global itu masih menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang transaksinya bisa langsung dengan domestik itu banyak, kenapa kita harus pakai dolar dulu,” jelasnya.
Implementasi LCT sendiri dilakukan melalui bank-bank yang ditunjuk sebagai Appointed Cross Currency Dealers (ACCD). Bank tersebut bertugas memfasilitasi transaksi lintas negara menggunakan mata uang lokal yang telah disepakati oleh bank sentral masing-masing negara.
Saat ini Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan sejumlah negara, antara lain Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. BI juga tengah memperluas kerja sama serupa dengan Arab Saudi, Singapura, dan India.
Langkah tersebut dinilai penting karena kebutuhan valuta asing, khususnya riyal Saudi, biasanya meningkat menjelang musim haji dan umrah. “Kita tahu ada permintaan SAR yang besar, itu yang sedang kita lakukan. Bagaimana caranya dengan LCT ini, kalau bisa tanpa dolar, kita inginnya punya LCT langsung dengan Saudi Arabia. Mungkin itu beberapa hal yang sedang kita usahakan,” kata Ruth.
Kerja sama transaksi langsung rupiah dengan riyal Saudi diperkirakan dapat membantu menekan kebutuhan dolar AS di pasar domestic, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah saat musim haji.
Bank Indonesia sebelumnya juga menyebut penguatan penggunaan mata uang lokal menjadi bagian dari strategi memperdalam pasar keuangan domestik dan mengurangi tekanan eksternal akibat gejolak global, termasuk fluktuasi suku bunga AS dan penguatan dolar.
Di tingkat regional, penggunaan transaksi berbasis mata uang lokal juga semakin didorong oleh negara-negara ASEAN dan Asia sebagai upaya memperkuat ketahanan ekonomi kawasan di tengah ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar