periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons pelemahan tajam nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang merosot hingga menembus level Rp17.600.

Purbaya menegaskan kewenangan utama terkait pengaturan stabilitas mata uang berada di tangan Bank Indonesia (BI) selaku pemegang otoritas moneter. Ia menyampaikan hal tersebut guna menanggapi pertanyaan masyarakat melalui siaran langsung di platform TikTok, Senin (18/5).

"Soal rupiah bisa tanyakan ke bank sentral," ujar Purbaya.

Kendati demikian, ia memastikan pemerintah tidak akan lepas tangan. Kementerian Keuangan bersiap membantu upaya pemulihan nilai tukar mata uang Garuda tersebut agar segera kembali ke level fundamentalnya.

"Nanti kita akan bantu. Seminggu, dua minggu depan telah kembali stabil," tegasnya.

Berdasarkan data perdagangan Senin (18/5) pagi, nilai tukar rupiah dibuka anjlok 75 poin menjadi Rp17.672 per dolar AS. Analis pasar uang Ibrahim menilai kombinasi sentimen global dan domestik menjadi pemicu utama kejatuhan nilai tukar ini.

Ibrahim secara spesifik menyoroti pernyataan Presiden Prabowo yang dinilai menganggap enteng dampak penguatan dolar AS bagi masyarakat perdesaan.

Menurutnya, narasi kepala negara tersebut memicu persepsi negatif di kalangan pelaku pasar. Kondisi ini secara langsung memperburuk tekanan terhadap pergerakan perbandingan kurs.

Ia merinci faktor fundamental lain juga turut membebani langkah rupiah. Tingginya angka impor minyak mentah Indonesia, yang mencapai 1,5 juta barel per hari, menguras cadangan devisa di tengah tren lonjakan harga energi global.

Tekanan kian berat menjelang periode pembagian dividen perusahaan yang mendongkrak permintaan valuta asing. Ibrahim juga mencatat fenomena masifnya peralihan simpanan masyarakat dari instrumen rupiah menuju mata uang asing guna mengamankan nilai aset.