Periskop.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkap alasan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak tawaran pembiayaan dari Dana Moneter Internasional (IMF). Penolakan itu didasari penilaian bahwa kondisi ekonomi Indonesia masih cukup solid untuk tidak membutuhkan bantuan tersebut.
Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kemenkeu Herman Saheruddin memaparkan, tawaran IMF sejatinya dirancang untuk negara-negara yang menghadapi risiko tinggi. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi RI nyatanya masih bertengger di atas 5%.
"Pak Menteri (Purbaya) menolak tawaran IMF karena tergantung nature pembiayaannya dan kondisi ekonomi kita masih cukup baik. Mereka menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kita, tapi nyatanya ekonomi kita kan masih tumbuh di atas 5%," kata Herman saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (26/6).
Herman menguraikan, penurunan proyeksi pertumbuhan RI oleh IMF wajar terjadi karena lembaga itu memang mengevaluasi situasi dari sudut pandang risiko. Karakter pembiayaan yang ditawarkan pun sejalan dengan pendekatan tersebut.
"Jadi kalau mereka menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi, enggak usah kaget. Karena nature-nya mereka melihatnya dari sisi risiko. Karena mereka itu produk utamanya adalah pembiayaan untuk menghadapi risiko," terangnya.
Herman melanjutkan, Purbaya turut menegaskan komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3%. Menerima pembiayaan IMF, menurutnya, sama saja dengan mengakui Indonesia sedang berada dalam kondisi risiko tinggi yang belum mencerminkan keadaan sesungguhnya.
"Pak Purbaya bilang, kita bisa tumbuh lebih tinggi kok, dan kita committed untuk defisit kita jaga di bawah 3%. Kalau kita terima pembiayaan itu artinya pembiayaan itu pembiayaan untuk menghadapi kondisi yang risiko tinggi," tambahnya.
Herman juga menyampaikan respons langsung Purbaya ketika tawaran itu datang, yang menggambarkan keyakinan pemerintah atas kekuatan fiskal Indonesia.
"Memang sempat ditawari oleh IMF, tapi Pak Mentri menolak dan bilang, wah kita jangan menyerah dulu, soalnya kita banyak uangnya," ujarnya.
Tawaran pembiayaan itu disampaikan IMF saat Purbaya bertemu Managing Director Kristalina Georgieva di Washington DC, Amerika Serikat, pada 14 Juni lalu. Dalam pertemuan itu, Purbaya menyebut APBN masih dalam kondisi baik, salah satunya ditopang Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp420 triliun.
Kepada Georgieva, Purbaya sempat menanyakan apakah IMF memiliki kebijakan khusus untuk meredam ketidakpastian global. IMF menjawab tidak punya kewenangan untuk itu dan hanya menyediakan dana bagi negara yang memerlukan.
"Saya tanya ke mereka apakah ada kebijakan khusus dari IMF untuk membantu mengurangi ketidakpastian. Dia bilang IMF tidak punya otoritas melakukan hal itu, tetapi mereka menyediakan dana bantuan untuk negara-negara yang membutuhkan. Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan karena anggaran kita cukup baik dan kita masih punya bantalan yang cukup besar yaitu Rp420 triliun," kata Purbaya.
IMF juga sempat mempertanyakan bagaimana Indonesia mampu bertahan stabil di tengah guncangan ekonomi global. Purbaya menjawab, ketahanan itu merupakan buah dari perubahan kebijakan yang diterapkan pemerintah sejak tahun lalu, yang dinilai membuat ekonomi RI lebih siap menyerap tekanan eksternal.
"Kenapa kita bisa bertahan di tengah keadaan global yang seperti ini. Tapi saya jelaskan bahwa memang kita sudah merubah kebijakan sejak tahun lalu, dan tampaknya sudah jelas. Jadi kita sedang mengalami percepatan ketika shock dari ketidakpastian global, dari harga minyak yang tinggi. Sehingga kita bisa menyerap shock yang terjadi," pungkas Purbaya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar