Periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan penerbitan obligasi Panda Bond yang dijadwalkan pada akhir Juli 2026 menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Langkah ini diyakini dapat menekan tekanan terhadap nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat stabilitas cadangan devisa.
Purbaya menjelaskan, diversifikasi sumber pembiayaan melalui pasar keuangan China akan membuat kebutuhan pendanaan pemerintah tidak lagi terlalu bergantung pada penerbitan obligasi dalam denominasi dolar AS.
"Jadi ketergantungan kita terhadap dolar akan semakin sedikit dan akan mengurangi tekanan ke rupiah. Tapi esensinya lebih besar daripada itu," kata Purbaya saat media briefing di Jakarta, dikutip Sabtu (27/6).
Menurutnya, manfaat Panda Bond tidak hanya sebatas diversifikasi pembiayaan. Apabila skema Local Currency Transaction (LCT) berjalan optimal, Indonesia juga akan memiliki akses lebih besar terhadap fasilitas kerja sama dengan bank sentral yang nilainya mencapai sekitar US$50 miliar.
"Kalau LCT betul-betul jalan, sebetulnya secara de facto, itu kan cadangan kita dengan, perjanjian dengan bank sentral kita kan sekitar 50 miliar dolar," jelas dia.
Purbaya menerangkan, meskipun fasilitas tersebut tidak tercatat sebagai cadangan devisa secara de jure, kemudahan akses terhadap likuiditas itu secara de facto memperkuat posisi cadangan devisa Indonesia dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kalau itu dipakai dengan betul dan cepat sehingga seolah-olah cadangan kita naik 50 miliar dolar, walaupun secara de juri nggak tercata, tapi saya bisa bilang cadangan devisa kita naik seperti itu. Karena kita bisa akses ke sana dengan gampang. Artinya ketergantungan kita terhadap dolar akan lebih bisa ditekan. Rupiah akan lebih stabil," paparnya.
Purbaya juga membuka peluang meningkatkan nilai penerbitan Panda Bond apabila minat investor di pasar China lebih tinggi dari perkiraan. Bahkan, apabila seluruh kebutuhan penerbitan obligasi global pemerintah dapat dipenuhi melalui Panda Bond, pemerintah siap mengurangi penerbitan obligasi berdenominasi dolar AS.
"Kita lihat marketnya seperti apa. Kalau dia nyampe besar, kita perbesar sekali. Kita belum berapa sih dolar? Total global bond tinggal 3 miliar dolar lagi. Kalau semuanya bisa dipenuhi Panda bond, yaudah Panda Bond aja," tegas dia.
Ia menambahkan, salah satu keunggulan menggarap pasar China adalah investor di negara tersebut tidak terlalu bergantung pada penilaian lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings maupun Moody's. Investor China lebih mengacu pada hasil pemeringkatan lembaga domestik China yang akan diumumkan menjelang penerbitan Panda Bond.
"Jadi kita perlu diversifikasi, karena investor di China tidak terlalu dipengaruhi oleh rating atau peringkat dari S&P, Moody's, dan lain-lain. Mereka akan melihat pemeringkat dari China seperti apa, dan Panda Bond diperingkat oleh lembaga pemeringkat dari Cina. Nanti akan dipublish beberapa hari sebelum Panda bond-nya dijual. Hasilnya kita sudah tahu kira-kira amat baik," Purbaya mengakhiri.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar