Periskop.id - Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir, kini berada di level 5,75%. Kebijakan ini memicu derasnya aliran modal asing ke instrumen SRBI dan SBN, dengan total inflow secara year to date mencapai sekitar US$9 miliar hingga akhir Juni.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, kenaikan suku bunga ini merupakan bagian dari kebijakan jangka pendek untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global. Ia menyebut, langkah ini berimbas pada penyesuaian harga sejumlah instrumen yang diterbitkan BI maupun pemerintah.
"Dalam satu bulan terakhir ini, kami memang sudah menaikkan BI rate kami sebesar 100 basis poin, sehingga sekarang berada di posisi 5,75%," ujar Destry Damayanti dalam konferensi pers rapat koordinasi ekonomi DPR RI, Senin (29/6).
Destry menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan ini berdampak pada repricing atau penyesuaian harga instrumen SRBI dan SBN, baik yang diterbitkan BI maupun pemerintah. Penyesuaian harga itu disebut mendorong masuknya dana asing ke portofolio kedua instrumen tersebut.
"Secara year to date dari Januari hingga akhir Juni, inflow yang masuk ke portofolio SBN dan SRBI kita sudah mencapai sekitar US$9 miliar," kata Destry.
Destry menilai, derasnya dana asing yang masuk ini mencerminkan kepercayaan investor luar negeri terhadap pasar keuangan domestik. Kepercayaan dari investor offshore itu, menurutnya, juga akan berimbas positif pada kepercayaan masyarakat Indonesia sendiri.
Selain menjaga nilai tukar, BI disebut juga fokus mempertahankan likuiditas di pasar uang lewat berbagai instrumen operasi moneter. Destry mencontohkan, ekspansi likuiditas yang dilakukan BI meningkat signifikan dalam sebulan terakhir.
"Kalau kita lihat di akhir bulan Mei, ekspansi yang kami lakukan sekitar Rp600 triliun, maka di akhir bulan Juni ini kami sudah melakukan ekspansi hingga Rp1.000 triliun," ungkap Destry.
Destry menyebut, pertemuan koordinasi ini merupakan forum rutin antara otoritas fiskal dan moneter, digelar khusus untuk merespons ketidakpastian ekonomi global. Penjagaan nilai tukar dan likuiditas, menurutnya, menjadi dua fokus utama BI dalam jangka pendek.
"Untuk menjaga likuiditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita," tutup Destry.
Tinggalkan Komentar
Komentar