Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Ini PR yang Menanti
Destry Damayanti resmi diajukan sebagai calon tunggal Gubernur BI. Di balik sambutan positif pasar, kredibilitas, independensi, dan tarik-menarik suku bunga dengan rupiah jadi tant...

Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto resmi mengajukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Senin (10/8/2026).
Di balik sambutan positif pasar, sederet pekerjaan rumah menanti sosok yang kini menjabat Pejabat Gubernur Sementara BI itu begitu resmi menduduki kursi tertinggi bank sentral.
Pencalonan Tunggal, Sinyal Kontinuitas bagi Pasar
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi langsung pengajuan nama tunggal ini usai penyerahan Surat Presiden (Surpres) di kompleks parlemen.
"Namanya tunggal ya, satu nama, yaitu atas nama Ibu Destry Damayanti. Yang sekarang beliau menjabat sebagai penjabat gubernur sementara," kata Prasetyo.
Langkah cepat pemerintah mengajukan nama tunggal ini dinilai berhasil meredakan spekulasi dan ketidakpastian pasar pascamundurnya Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI. Penguatan tajam nilai tukar rupiah pun terjadi pada hari yang sama, di mana mata uang Garuda ditutup menguat 142 poin atau melesat 0,79% ke level Rp17.755 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pimpinan DPR RI akan menindaklanjuti Surpres ini dengan menugaskan Komisi XI DPR menggelar uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test. Agenda ini diperkirakan baru terlaksana setelah Masa Sidang DPR resmi dibuka pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Bukan Soal Siapa, Tapi Soal Independensi
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan bahwa persoalan terpenting sebenarnya bukan siapa sosok pengganti Perry Warjiyo.
Menurutnya, tantangan utama nahkoda BI ke depan adalah menjaga independensi dan kredibilitas bank sentral.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, punya pandangan senada meski dari sudut yang berbeda.
"Saya tidak melihat Ibu Destry sebagai seorang hawk ataupun dove. Saya melihat beliau sebagai seorang central banker yang adaptif dan berorientasi pada stabilitas dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan," papar Fakhrul.
Fakhrul menegaskan independensi BI tetap menjadi fondasi utama kredibilitas kebijakan moneter, namun bukan berarti BI harus bekerja sendiri.
Ia menilai koordinasi dan independensi bukan dua hal yang bertentangan, karena bank sentral juga perlu memahami konsekuensi kebijakannya terhadap fiskal, perbankan, pasar keuangan, dunia usaha, dan neraca pembayaran secara keseluruhan.
Rekam Jejak Panjang, Tapi Ujian Baru Menanti
Destry membawa modal pengalaman yang terbilang lengkap ke kursi Gubernur BI. Ia telah malang melintang mulai dari dunia akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga lebih dari tujuh tahun berada di jajaran Dewan Gubernur BI sejak 2019.
Pengalaman panjang ini justru menempatkan Destry pada tantangan yang lebih besar. Sebab tantangan bank sentral saat ini semakin luas, bukan lagi sekadar inflasi dan suku bunga.
Bank sentral kini turut menghadapi perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi sistem pembayaran, deglobalisasi rantai pasok, transisi energi, hingga polarisasi geopolitik.
Ketika BI mulai memasuki fase normalisasi setelah periode stabilisasi panjang, pekerjaan rumah terbesar bukan hanya soal menentukan tingkat suku bunga.
Komunikasi kebijakan menjadi bagian penting untuk memastikan pasar memahami arah kebijakan bank sentral ke depan.
Suku Bunga dan Rupiah, Dua Beban yang Saling Tarik
Di tengah harapan penurunan suku bunga, BI justru menghadapi dilema. Suku bunga acuan saat ini berada di level 5,75%, angka yang dinilai masih membebani dunia usaha dan masyarakat.
Sejumlah pengamat mendorong BI menurunkannya hingga di bawah 5% demi meringankan beban ekonomi domestik.
Namun ruang untuk itu tidak sepenuhnya lapang. Ketika inflasi terkendali tetapi tekanan terhadap rupiah masih tinggi, ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi terbatas.
BI perlu mengandalkan instrumen lain seperti intervensi di pasar valuta asing, kebijakan makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas melalui operasi pasar.
Selama Juli 2026, kurs rupiah bahkan sempat bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.800 hingga di atas Rp18.100 per dolar AS, menandakan penguatan rupiah belum berlangsung konsisten.
Bila rupiah melemah terlalu dalam, dampaknya bisa merembet ke ekspektasi inflasi dan kepercayaan investor, sehingga stabilitas nilai tukar diperkirakan tetap jadi fokus utama BI ke depan.
BI bahkan tidak menutup kemungkinan mempertahankan suku bunga pada level yang lebih tinggi, atau bahkan menaikkannya, apabila kondisi memang membutuhkan.
Kredibilitas yang Akan Terus Diuji Pasar
Ke depan, pasar tidak hanya menguji siapa yang menjadi Gubernur BI, tetapi juga seberapa kuat independensi, konsistensi, dan kredibilitas kebijakan moneter tetap terjaga.
Kemampuan Destry mempertahankan kebijakan yang dianggap tepat, meskipun tidak selalu sejalan dengan pemerintah, akan menjadi salah satu ukuran awal kredibilitas kepemimpinannya.
Jika kepemimpinan baru mampu menjaga stabilitas rupiah, kredibilitas suku bunga, dan koordinasi fiskal-moneter tanpa mengurangi independensi BI, sentimen positif pasar terhadap pencalonan ini berpotensi bertahan lebih lama.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Destry Damayanti, dan Bank Indonesia (BI) dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.