Periskop.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah merancang formula baru penetapan harga gas industri atau Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) di tengah penurunan produksi sumur-sumur gas di Jawa Barat. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi isu ini.

Bahlil mengungkapkan, ia telah menemui langsung pihak asosiasi pengusaha industri maupun perwakilan buruh untuk memetakan dampak nyata fluktuasi harga energi terhadap keberlangsungan usaha dan kesejahteraan pekerja.

"Kita lagi menghitung sekarang kapasitas daripada HGBT itu. Di Jawa Barat ada beberapa penurunan daripada sumur-sumur. Saya sudah temui juga asosiasi, saya sudah temui juga buruh," tutur Bahlil dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun INDEF bertema "Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi dan Iklim" di Jakarta, Kamis (25/6).

Dalam proses penyusunan kebijakan tersebut, Bahlil menyatakan komitmen untuk bersikap adaptif dan membuka ruang dialog seluas-luasnya bersama para pemangku kepentingan. Pendekatan ini dinilai penting agar kebijakan yang lahir benar-benar merespons kondisi lapangan.

Tantangan terbesar yang dihadapi, menurut Bahlil, adalah menemukan titik keseimbangan agar formula harga yang dihasilkan tidak memukul daya saing industri nasional, sekaligus tetap realistis bagi keberlangsungan sektor hulu dan hilir migas.

"Sekarang lagi saya mencari formulasi untuk bagaimana bisa memberikan harga terjangkau, tapi juga tidak bisa terlalu dengan harga yang mereka inginkan. Sekarang lagi kita mencari formula," kata Bahlil.

Terkait kekhawatiran pelaku usaha soal lonjakan tarif energi, Bahlil meluruskan adanya perbedaan struktur dalam komponen harga gas. Ia memastikan regulasi harga HGBT sejauh ini tidak mengalami kenaikan. Namun, ia tidak menampik adanya potensi penyesuaian apabila pasokan gas bersumber dari Liquefied Natural Gas (LNG).

Perbedaan sumber pasokan ini menjadi faktor krusial yang tengah diperhitungkan pemerintah dalam menyusun formula baru tersebut.

Formulasi kebijakan harga gas diharapkan dapat segera rampung dalam waktu dekat guna memberikan kepastian iklim investasi sekaligus menjaga daya saing industri di Indonesia.

"Kalau harga HGBT enggak naik. Tapi kalau memang harganya dari LNG, pasti naik," pungkas Bahlil.