Groundbreaking PLTS 100 GW di Bali, Investasi Rp1.140 Triliun
Pemerintah RI menggarap PLTS 100 GWp senilai Rp1.140 triliun, dengan target rampung dalam dua hingga tiga tahun sesuai arahan Presiden Prabowo.

Periskop.id - Pemerintah Indonesia resmi menggarap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt peak (GWp) dengan nilai investasi mencapai US$73 miliar atau setara Rp1.140 triliun. Presiden Prabowo Subianto menargetkan proyek raksasa ini rampung dalam waktu kurang dari tiga tahun.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan pembangunan PLTS ini bakal digarap secara masif demi memaksimalkan potensi sinar matahari Indonesia yang tersedia sepanjang tahun. Menurutnya, langkah ini juga sejalan dengan upaya menekan konsumsi bahan bakar minyak pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).
"Total investasinya, Bapak Presiden, dari 100 Gigawatt adalah kurang lebih sekitar US$73 miliar atau setara dengan Rp1.140 triliun lebih. Dari total pekerjaan ini bisa kita melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun Rp73,9 triliun," kata Bahlil dalam peresmian program PLTS 100 GWp di Kabupaten Jembrana, Bali, Rabu (26/8).
Program ini diproyeksikan mendongkrak efisiensi fiskal sekaligus membuka lapangan kerja baru dalam skala besar. Pemerintah menargetkan penyerapan tenaga kerja hingga 5,52 juta orang seiring dimulainya pengerjaan infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia.
"Bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja. Dan untuk di hari yang kita laksanakan ini adalah kita groundbreaking 5,3 Gigawatt dan untuk di Bali adalah 1.000 Megawatt tambah plus baterai," ungkap Bahlil.
Selain dampak ekonomi, proyek PLTS 100 GWp ini ditargetkan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 140 juta ton per tahun. Bahlil menjelaskan, nilai ekonomi karbon dari pengurangan emisi tersebut diperkirakan menyumbang pendapatan tambahan bagi negara.
"Selain daripada itu, Bapak Presiden, kalau ini mampu kita implementasikan semuanya, penurunan emisi sebesar 140 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon sebesar Rp6,31 triliun," imbuh Bahlil.
Presiden Prabowo dalam kesempatan yang sama menantang Bahlil merampungkan proyek jumbo ini lebih cepat dari target awal. Ia meminta pembangunan PLTS 100 GWp bisa kelar dalam waktu kurang dari tiga tahun.
"Saya percaya mungkin kurang dari 3 tahun kita akan sampai 100 Giga Watt. Iya kan?" kata Prabowo dalam peresmian program PLTS 100 GWp di Kabupaten Jembrana, Bali, Rabu (26/8).
Prabowo menegaskan, pejabat saat ini harus berdedikasi penuh mengejar kemajuan nyata bagi kesejahteraan rakyat di tengah tantangan krisis energi dunia. Ia mencontohkan keberhasilan program swasembada pangan yang rampung lebih cepat dari target semula sebagai patokan.
"Dulu swasembada pangan saya beri target 4 tahun, tim ekonomi, tim pertanian, tim pangan berhasil 1 tahun. Berarti kalau saya kasih target 3 tahun untuk tim energi, ya nggak lah, udah 2 tahun lah ya," tegas Prabowo.
Ia lantas memaparkan perbandingan skala megaproyek ini dengan kapasitas listrik nasional Indonesia saat ini yang baru mencapai 88 GW dari berbagai sumber energi primer. Menurutnya, pembangunan PLTS 100 GW dapat mendorong Indonesia lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan listriknya sendiri.
"Dan hari ini adalah hari yang penting kita launching listrik dari tenaga surya 100 GW untuk bangsa Indonesia. Seluruh listrik Indonesia sekarang 88 GW. Kita akan membangun 100 GW. Kita tidak main-main, target kita adalah 100 GW dalam tiga tahun," jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengecek langsung kesiapan para menteri dan pimpinan BUMN energi dalam mengeksekusi target itu. Ia meminta jaminan agar Indonesia segera menghentikan ketergantungan pada impor minyak mentah maupun elpiji yang selama ini menguras devisa negara.
"Kita tidak boleh impor lagi satu barel pun minyak. Kita tidak boleh impor lagi, insya Allah dalam waktu sesingkat-singkatnya, satu tabung LPG pun kita tidak boleh impor lagi. Menteri ESDM, sanggup?" tegasnya.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, pembangunan tahap awal difokuskan pada 14 proyek dengan total kapasitas 5.216 Megawatt peak yang tersebar di berbagai wilayah. Beberapa proyek yang sudah masuk tahap tender antara lain PLTS Terapung Jatiluhur berkapasitas 1.688 MWp, PLTS Terapung Cirata 1.250 MWp, dan PLTS Terapung Jatigede 636 MWp di Jawa Barat, sementara sejumlah proyek lain seperti PLTS Terapung Karangkates dan PLTS Terapung Saguling sudah memasuki tahap konstruksi.
"Kalau berhasil 2 tahun, tim energi dapat bintang lagi aku kasih tanda kehormatan," tandas Prabowo.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Bahlil Lahadalia, Prabowo Subianto, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.