iklan periskop
Energi

PLTS Terapung Gajah Mungkur Mulai Dibangun, Investasi Rp1,6 Triliun

PLTS Terapung Gajah Mungkur senilai Rp1,6 triliun mulai dibangun. Berkapasitas 134 MWp, pembangkit ditargetkan beroperasi pada akhir 2027

2 jam yang lalu · 4 mnt baca
PLTS Terapung Gajah Mungkur Mulai Dibangun, Investasi Rp1,6 Triliun
Lokasi pembangunan PLTS Terapung Gajah Mungkur. dok. Pemprov Jateng
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, resmi dimulai. Proyek senilai sekitar Rp1,6 triliun itu memiliki kapasitas sekitar 134 MWpdan ditargetkan beroperasi pada akhir 2027.

Saat beroperasi penuh, pembangkit yang dibangun di Waduk Gajah Mungkur tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 218 GWh listrik setiap tahun, setara dengan sekitar 37% kebutuhan listrik Kabupaten Wonogiri selama satu tahun.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut PLTS Gajah Mungkur menjadi salah satu proyek energi surya berkapasitas besar yang dikembangkan di wilayahnya.

“Hari ini kita melakukan groundbreaking terkait dengan PLTS. Di Jawa Tengah ini adalah salah satu PLTS yang terbesar di Wonogiri, dengan kapasitas 134 megawatt peak,” kata Luthfi.

Peletakan batu pertama proyek dilakukan pada Selasa (25/8/2026), bersamaan dengan peluncuran Program PLTS 100 GWp oleh Presiden Prabowo Subianto dari PLTS Site Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Bali.

Menurut Sekretariat Negara, tahap awal program nasional tersebut mencakup 14 PLTS di enam provinsi dengan kapasitas total sekitar 5,3 GWp. Proyek tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Reuters juga mencatat 14 proyek itu merupakan bagian dari target pemerintah menambah kapasitas tenaga surya hingga 100 GWp.

Listrik Masuk Jaringan Jawa-Madura-Bali

Listrik yang dihasilkan PLTS Gajah Mungkur nantinya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Wonogiri. General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi Jawa Tengah Bramantyo Anggun Pambudi menjelaskan, daya dari pembangkit akan dialirkan melalui jaringan 150 kilovolt menuju Gardu Induk Nguntoronadi, dengan jarak sekitar 11,7 kilometer.

Setelah terhubung ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali, listrik dari pembangkit tersebut dapat disalurkan ke berbagai wilayah lain yang berada dalam jaringan yang sama.

"Ketika listrik tersebut sudah masuk ke jaringan interkoneksi, maka listrik tersebut tidak khusus untuk berada di sekitaran daerah tersebut. Itu juga bisa disalurkan ke semua daerah di jaringan yang tersambung dengan interkoneksi," katanya.

Direktur Operasi Pembangkit Gas PT PLN Indonesia Power Daniel Eliawardhana mengatakan tahap persiapan dan aspek teknis pembangunan saat ini tengah dilakukan.

"Secara target waktu sesuai yang disampaikan Gubernur tadi, kita akhir tahun 2027 ini sudah bisa beroperasi setara 134 megawatt peak," katanya.

Dari sisi kapasitas, PLTS Gajah Mungkur nantinya akan menjadi salah satu PLTS terapung besar di Indonesia. Sebagai perbandingan, PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat memiliki kapasitas 192 MWp dan saat diresmikan pada 2023 tercatat sebagai PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara. Pembangkit Cirata dibangun di atas area sekitar 200 hektare dan mampu memasok listrik setara kebutuhan sekitar 50.000 rumah.

Panel Surya Gunakan Kurang dari 5% Luas Waduk

Pembangunan pembangkit juga dirancang agar tidak mengambil sebagian besar permukaan Waduk Gajah Mungkur. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut panel surya akan menempati kurang dari 5% luas waduk yang mencapai sekitar 5.600 hektare.

Penempatan panel turut mempertimbangkan perubahan muka air waduk sekaligus menjaga jalur aktivitas masyarakat dan nelayan agar tetap dapat digunakan.

Selain menghasilkan listrik, proyek tersebut diproyeksikan memberikan dampak ekonomi selama proses konstruksi. Sekitar 150 hingga 250 tenaga pendukung diperkirakan dibutuhkan dan dapat direkrut dari masyarakat lokal melalui perusahaan kontraktor yang mengerjakan proyek.

Pemprov Jawa Tengah juga menyiapkan pengembangan PLTS lain. Salah satunya direncanakan berada di Waduk Kedung Ombo dengan kapasitas sekitar 100 MWac, sementara proyek berkapasitas sekitar 7,4 MW disiapkan di Karimunjawa.

Tenaga Surya Jadi Andalan RUPTL

Pembangunan PLTS Gajah Mungkur juga sejalan dengan arah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan penambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 GW hingga 2034. Dari jumlah itu, sekitar 76% atau 52,9 GW berasal dari energi baru terbarukan dan sistem penyimpanan energi.

Tenaga surya mendapat porsi terbesar di antara sumber energi terbarukan yang akan dikembangkan, yakni mencapai 17,1 GW, disusul tenaga air 11,7 GW, tenaga angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, dan bioenergi 0,9 GW.

Program PLTS 100 GWp yang diluncurkan pemerintah pada Agustus 2026 memperbesar skala ambisi tersebut. Pemerintah menempatkan energi surya sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Bagi Jawa Tengah, PLTS Gajah Mungkur menjadi salah satu proyek konkret dalam agenda tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan pembangunan selesai sesuai target 2027, koneksi ke jaringan listrik dapat berjalan tepat waktu, serta pemanfaatan area waduk tetap berjalan berdampingan dengan aktivitas masyarakat sekitar.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai ahmad luthfi, Pemprov Jateng, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan Wonogiri dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.