Iran Pulihkan 40% Kapasitas Ladang Gas South Pars yang Rusak, Perbaikan Penuh Butuh 2 Tahun
Iran mengklaim 40% kapasitas South Pars yang rusak kembali berproduksi. Pemulihan penuh ladang gas strategis tersebut diperkirakan butuh minimal dua tahun.

Periskop.id - Iran mengklaim telah mengembalikan sekitar 40% kapasitas produksi yang rusak di ladang gas South Pars ke dalam jaringan produksi, setelah fasilitas energi strategis tersebut terdampak perang yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Wakil Menteri Perminyakan Iran Ahmad Zeraatkar mengatakan, proses pembersihan puing telah selesai dan rekonstruksi terus dilakukan. Namun, kerusakan yang terjadi cukup berat sehingga pemulihan secara penuh diperkirakan membutuhkan setidaknya dua tahun.
“Kami dapat mengatakan bahwa kami... berhasil memulihkan sekitar 40% kapasitas yang rusak,” kata Zeraatkar dalam wawancara dengan kantor berita Fars, Kamis (27/8/2026).
Angka tersebut perlu dipahami sebagai 40% dari kapasitas South Pars yang mengalami kerusakan akibat perang, bukan 40% dari keseluruhan kapasitas ladang gas tersebut.
South Pars merupakan ladang gas, bukan ladang minyak. Kawasan tersebut juga menghasilkan kondensat dan terhubung dengan kompleks pengolahan serta petrokimia di pesisir Iran.
South Pars Pasok hingga 75% Gas Iran
Pemulihan South Pars menjadi sangat penting bagi Iran karena fasilitas tersebut merupakan tulang punggung sistem energi negara. Reuters mencatat South Pars memiliki cadangan sekitar 1.800 triliun kaki kubik gas dan menyumbang sekitar 70%-75% produksi gas Iran. Lebih dari 90% gas Iran dikonsumsi di dalam negeri, terutama untuk pemanas rumah, pembangkit listrik, dan industri petrokimia.
South Pars berada di Teluk Persia dan berbagi reservoir yang sama dengan Qatar, yang menyebut wilayahnya sebagai North Field. Secara keseluruhan, reservoir tersebut merupakan ladang gas alam lepas pantai terbesar di dunia.
Besarnya kontribusi South Pars membuat kerusakan fasilitas pengolahan di darat dapat berdampak langsung terhadap pasokan gas nasional meskipun platform produksi di laut tidak semuanya ikut rusak.
Pada Mei 2026, Pars Oil and Gas Company mengatakan, tiga platform lepas pantai South Pars sebenarnya masih dalam kondisi operasional, tetapi produksinya sempat dihentikan karena fasilitas pengolahan di darat tidak mampu menerima dan memproses gas. Produksi kemudian dialihkan menuju fasilitas lain yang masih dapat digunakan.
South Pars Diserang pada Maret
Perang terbaru bermula pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Konflik kemudian berkembang menjadi perang terbuka yang turut menyasar infrastruktur energi.
Pada 18 Maret, fasilitas minyak dan gas di South Pars serta pusat pengolahan Asaluyeh diserang. Media pemerintah Iran mengonfirmasi serangan tersebut, sementara sumber Israel mengatakan serangan terhadap South Pars dilakukan Israel dan dikoordinasikan dengan Amerika Serikat.
Serangan terhadap South Pars menjadi salah satu titik eskalasi penting karena kemudian diikuti ancaman Iran untuk menyerang fasilitas energi di negara-negara Teluk.
Reuters saat itu mencatat harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari 6% mendekati US$110 per barel setelah muncul kabar serangan terhadap fasilitas tersebut.
Konflik juga mengganggu jalur energi melalui Selat Hormuz. Sebelum perang, jalur tersebut dilewati hampir 20% perdagangan minyak mentah dan LNG dunia, tetapi arus kapal turun tajam setelah konflik berlangsung.
Rekonstruksi Ditargetkan Maksimal Dua Tahun
Iran telah menyusun rencana rekonstruksi sejak Mei. Komite Energi Parlemen Iran ketika itu menyatakan pemulihan dan modernisasi infrastruktur penyulingan serta petrokimia South Pars ditargetkan selesai dalam waktu maksimal dua tahun.
Sekitar 50% pekerjaan rekonstruksi sebelumnya ditargetkan rampung sebelum musim dingin untuk membantu mengamankan pasokan energi ketika permintaan gas domestik meningkat.
Zeraatkar kini kembali menegaskan bahwa kerusakan pada fasilitas sangat berat dan rekonstruksi penuh diperkirakan membutuhkan setidaknya dua tahun. Iran menyatakan, proses pemulihan dilakukan dengan mengandalkan tenaga ahli dan peralatan domestik. Selain mengembalikan fasilitas yang rusak, sejumlah bagian juga direncanakan dimodernisasi sehingga kapasitas produksinya dapat lebih tinggi dibandingkan sebelum serangan.
Kenapa Ada Angka Pemulihan 70%?
Sebelumnya, Direktur Pars Oil and Gas Company Touraj Dehghani menyebut tingkat pemulihan mencapai 70%. Angka tersebut berbeda dari 40% yang kini disampaikan Zeraatkar.
Keduanya tidak semestinya dibandingkan secara langsung. Laporan Anadolu Agency pada 22 Agustus menyebut, angka 70% secara spesifik mengacu pada pemulihan kapasitas kilang Fase 14 South Pars, yang sebelumnya juga mengalami kerusakan akibat serangan Israel pada Juni 2025. Sementara angka 40% dari Zeraatkar merujuk pada kapasitas South Pars yang rusak dalam perang secara lebih luas.
Fase 14 sendiri dirancang mampu memproses sekitar 56,6 juta meter kubik gas per hari, termasuk menghasilkan sekitar 50 juta meter kubik sweet gas dan 75.000 barel kondensat gas per hari.
Dalam perang 2026, Dehghani mengatakan, empat kilang South Pars mengalami kerusakan, dengan fasilitas ketiga dan kelima termasuk yang membutuhkan rekonstruksi lebih berat.
Dengan demikian, laporan 70% menggambarkan kemajuan pada satu bagian fasilitas, sementara 40% lebih menggambarkan pemulihan kapasitas terdampak secara keseluruhan menurut pemerintah Iran.
Konflik Iran-AS Belum Benar-Benar Berakhir
Pemulihan South Pars dilakukan ketika perang dan ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda. Amerika Serikat dan Iran sempat mencapai kesepakatan sementara pada Juni 2026 yang ditujukan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, kesepakatan tersebut gagal berkembang menjadi perdamaian permanen. Pada 8 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan, memorandum tersebut "berakhir" setelah kembali terjadi serangan militer.
Hingga akhir Agustus, upaya diplomatik masih berlangsung. Qatar, Oman, dan Pakistan terlibat dalam mediasi, termasuk pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, Washington menyatakan tidak sedang melakukan perundingan langsung dengan Teheran.
Gangguan tersebut terus memengaruhi pasar energi. Pada Jumat (28/8), minyak Brent diperdagangkan sekitar US$89,45 per barel dan WTI US$83,31, sementara pasar masih memperhitungkan risiko pasokan dari Timur Tengah.
Bagi Iran, pengembalian South Pars menjadi lebih mendesak menjelang musim dingin karena sebagian besar produksi gas digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Dengan baru 40% kapasitas terdampak yang diklaim kembali beroperasi, kecepatan rekonstruksi South Pars akan menentukan kemampuan Iran menjaga pasokan listrik, pemanas, dan industri di tengah perang yang belum sepenuhnya berakhir.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai iran, cadangan migas, rekonstruksi, dan perang iran dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.