Mengurai Isi Kepala Lewat Zine, SHEroes Ajak Perempuan Berani Bersuara
SHEroes menghadirkan Zine Making Workshop sebagai ruang kreatif dan refleksi bagi perempuan untuk berekspresi, berbagi cerita, dan terhubung.

Periskop.id - SHEroes kembali menghadirkan ruang kreatif bagi perempuan melalui SHEroes Series Vol.2: Zine Making Workshop yang digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di kantor Periskop.id, Jakarta Selatan.
Sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan yang dirancang sebagai ruang untuk berkreasi sekaligus melakukan self-reflection. Melalui zine, peserta diajak menuangkan berbagai hal yang mungkin selama ini sulit disampaikan lewat kata-kata.
Workshop ini dipandu oleh Gracia Leona atau yang dikenal dengan nama Corina Galea. Lebih dari satu dekade berkecimpung di industri kreatif, Corina pernah berkiprah sebagai Art Director hingga Chief Creative Officer.

Dalam perjalanan kreatifnya, Corina mengeksplorasi pertemuan antara emosi, bentuk, dan pesan. Ia juga mengembangkan zine Calm & Collected yang mengajak pembacanya menemukan ruang untuk menjaga keseimbangan di tengah dunia yang penuh kebisingan.
Salah satu karyanya pernah dipublikasikan dalam Bunga Zine Festival di Kongsi8, Jatinegara, Jakarta, pada 2024.
Ruang aman itu juga menjadi bagian dari workshop SHEroes sejak awal. Peserta diajak bersama-sama menjaga ruang yang inklusif, saling menghormati, dan memberi ruang bagi satu sama lain. Dengan begitu, setiap peserta bisa lebih leluasa mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan cerita personalnya lewat zine.
Zine dan Semangat Ekspresi Tanpa Batas
Bagi sebagian orang, istilah zine mungkin masih terdengar asing. Padahal, zine memiliki sejarah panjang sebagai media alternatif yang memungkinkan seseorang menyebarkan gagasan secara mandiri.
Semangat tersebut salah satunya berakar dari kultur punk yang menekankan kebebasan berekspresi dan tidak bergantung pada struktur redaksi maupun mekanisme penyuntingan seperti media konvensional.
Dalam workshop ini, kebebasan tersebut menjadi bagian penting dari proses kreatif peserta.
“Zine itu adalah media alternatif untuk kita bisa menyebarkan informasi. Semangatnya memang semangat punk. Karena tidak ada redaksi, tidak ada editor, jadinya no censorship. Hasil zine dari masing-masing peserta pasti akan sangat personal,” ujar Corina.

Menurut Corina, tidak ada aturan baku mengenai seperti apa sebuah zine harus dibuat. Kreator bebas menentukan bentuk, media, maupun isi yang ingin disampaikan.
“Sebenarnya tidak ada rules-nya, mau bentuknya seperti apa, pakai media apa. Intinya adalah isinya itu unek-unek atau mungkin controversial opinion dari penciptanya. Kalau penciptanya bilang, ‘ini yang aku bikin adalah zine’, ya sudah, itu berarti zine,” lanjutnya.
Kebebasan tersebut kemudian diterapkan dalam workshop SHEroes. Corina memberikan sejumlah prompt kepada peserta sebagai pemantik, dengan tema besar self-reflection. Setelah itu, peserta bebas menerjemahkan respons personal mereka ke dalam karya.
Menyuarakan Hal yang Sering Tak Terucap
Pemilihan zine sebagai materi workshop bukan tanpa alasan. SHEroes ingin menghadirkan format kegiatan yang lebih personal, tidak sekadar menjadi aktivitas kreatif, tetapi juga memberi ruang bagi peserta untuk berhenti sejenak dan mendengarkan diri sendiri.
Melalui proses membuat zine, peserta didorong untuk mengakomodasi berbagai rasa, pikiran, maupun pengalaman yang mungkin selama ini belum sempat terucapkan.
“Lewat kegiatan ini, SHEroes ingin memberikan ruang yang lebih personal bagi perempuan untuk berekspresi. Tidak semua hal selalu mudah disampaikan lewat percakapan. Karena itu, kami ingin membantu mengakomodasi rasa-rasa yang mungkin selama ini belum sempat terucap melalui medium yang bebas dan personal,” ujar Pipit Ramadhani, Pengampu SHEroes by Periskop.


Setelah mendapatkan prompt, peserta kemudian bebas berkreasi menggunakan pendekatan mixed media. Mereka dapat menggambar secara langsung, menyusun potongan majalah menjadi kolase, menulis, maupun menggabungkan berbagai medium sesuai dengan interpretasi masing-masing.
Beragam material seperti kertas, majalah, gunting, lem, alat gambar, dan material kolase lainnya disediakan untuk mendukung proses kreatif peserta.
Tidak berhenti pada proses membuat karya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi yang interaktif. Peserta mendapat kesempatan untuk menceritakan proses maupun makna di balik karya yang mereka buat.
Melepas Penat dan Menemukan Ruang Baru
Antusiasme peserta menjadi salah satu hal yang menonjol selama kegiatan. Ekspektasi awal terhadap workshop yang berlangsung dalam suasana santai tersebut justru berkembang menjadi sesi berbagi yang cukup mendalam.
Corina mengatakan, banyak peserta membawa cerita personal selama sesi berlangsung. Menurutnya, percakapan yang muncul membuat suasana workshop terasa hangat.
“Happy banget. Pesertanya banyak banget ceritanya dan deep, deep conversation. Pulang dari sini rasanya kayak warm,” kata Corina.
Hal serupa dirasakan Zahra, salah satu peserta yang datang dari Tangerang. Bagi Zahra, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk sejenak keluar dari rutinitas pekerjaan.
“Seru banget. Sebagai seorang yang bekerja dari sini sampai Jumat, ini cukup bikin refreshing pikiran dari hiruk-pikuk pekerjaan,” ujar Zahra.
Menurut Zahra, kegiatan seperti ini juga penting untuk dilakukan secara berkala karena dapat menjadi ruang untuk menyegarkan pikiran sekaligus mengasah kreativitas.
“Dengan adanya kegiatan seperti ini bisa mengasah pikiran, merefleksikan diri sambil have fun. Kita juga bisa ketemu teman-teman baru dan sama-sama memberikan wujud kreativitas kita masing-masing,” katanya.





Bagi SHEroes, respons tersebut menjadi pengingat bahwa ruang untuk berhenti sejenak, berekspresi, dan terhubung dengan orang lain tetap dibutuhkan di tengah rutinitas sehari-hari.
Ke depan, SHEroes berharap kegiatan serupa dapat terus menghadirkan ruang yang hangat bagi perempuan untuk mengenali diri, mengekspresikan perasaan, serta membangun koneksi dengan perempuan lainnya.
“Kami berharap SHEroes bisa terus menjadi ruang yang memungkinkan perempuan merasa didengar dan bebas menjadi dirinya sendiri. Bukan selalu tentang menghasilkan sesuatu yang sempurna, tetapi tentang memberi diri sendiri kesempatan untuk berhenti, berefleksi, dan menyampaikan apa yang selama ini mungkin tersimpan,” kata Pipit.
Ke depan, SHEroes akan terus menghadirkan rangkaian kegiatan dengan format yang beragam, sebagai ruang bagi perempuan untuk bertemu, berekspresi, dan terhubung satu sama lain.
Join WhatsApp Group SHEroes by Periskop melalui linktr.ee/periskopid dan nantikan keseruan event selanjutnya!
Baca berita dan informasi lainnya mengenai SHEroes, teman curhat, perempuan, dan Punk dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.