Periskop.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membantah kabar penutupan sejumlah gerai ritel modern disebabkan oleh melemahnya daya beli masyarakat. Ia menegaskan penutupan tersebut lebih banyak dipicu perubahan konsep bisnis mengikuti pergeseran perilaku konsumen.

Budi menyampaikan, pemerintah sudah berkoordinasi dengan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) serta Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) terkait isu ini. Menurutnya, banyak peritel memilih mengubah format toko demi menyesuaikan permintaan pasar terkini.

"Jadi itu penutupan lebih pada perubahan konsep. Misalnya Hypermart berubah menjadi supermarket, konsepnya saja yang berubah sesuai permintaan pasar dan konsumen sekarang," kata Budi dikutip Kamis (6/8).

Ia menerangkan, transformasi format toko itu berjalan seiring derasnya aliran investasi baru ke sektor ritel modern. Skala investasi yang membesar, menurutnya, justru bisa menggantikan toko-toko yang gagal menyesuaikan diri dengan pasar.

"Ada beberapa gerai memang juga berubah karena sekarang investasi ritel modern makin besar. Justru semakin banyak ritel yang investasinya masuk ke Indonesia," ujarnya.

Investasi tersebut, menurut Budi, tidak hanya datang dari pelaku usaha domestik. Modal asing pun ikut mengalir ke industri ritel Tanah Air, dengan China sebagai penyumbang terbesar.

"Salah satunya asing dan juga dalam negeri. Toko, mal dan sebagainya harus bisa menyesuaikan dengan selera konsumen yang terus berkembang. Paling banyak dari China," ujarnya.

Pemerintah, kata Budi, tetap menyiapkan sederet program belanja nasional sepanjang Agustus untuk mendorong transaksi ritel. Setelah Belanja Holiday dan Back to School, giliran Indonesia Shopping Festival digelar pada 7-23 Agustus, disusul Bina Happy Birthday Indonesia dan Merdeka Madness.

"Kita terus lakukan supaya pasar kita tetap bergairah," ujarnya.

Rangkaian program tersebut, menurut Budi, menjadi salah satu upaya pemerintah menjaga konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga disebutnya sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Isu daya beli masyarakat kembali disorot publik setelah muncul kabar penutupan sejumlah gerai ritel modern di berbagai daerah. Kabar rencana penutupan sebagian gerai merek fesyen asal Swedia, H&M, turut memperkuat sorotan tersebut sebagai bagian dari strategi bisnis global perusahaan.

"Salah satunya memang harus ada aktivasi program belanja nasional. Kalau belanja masyarakat semakin meningkat, tentu bisa menumbuhkan pertumbuhan ekonomi kita," pungkas Budi.