Periskop.id - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Kamis (6/8), setelah pelaku pasar mencermati kemajuan perundingan Iran dan Oman yang berpotensi membuka jalan bagi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak mentah Brent turun 0,5% ke US$79,08 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tergelincir 0,7% ke US$74,69 per barel.

Mengutip Reuters, harga Brent untuk kontrak berjangka turun 37 sen menjadi US$79,08 per barel pada pukul 00.24 GMT. WTI turun 53 sen menjadi US$74,69 per barel pada waktu yang sama. Pada perdagangan sebelumnya, Brent sempat ditutup menguat tipis, sementara WTI berakhir di zona merah.

Ekonom Nomura Securities Yuki Takashima menjelaskan, tekanan jual muncul setelah beredar laporan kemajuan pembicaraan antara Iran dan Oman. Ia menilai harga minyak saat ini kembali ke level yang tercatat ketika AS dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara pada 17 Juni lalu.

Menurutnya, investor kini menunggu apakah kedua negara mampu mencapai kesepakatan final soal jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Sumber senior Iran dan dua pejabat kawasan sebelumnya menyebutkan kepada Reuters, usulan kesepakatan Iran-Oman untuk mengakhiri konflik dengan AS akan memberikan Teheran kendali atas kapal-kapal yang melintasi Teluk Persia lewat Selat Hormuz. Usulan tersebut disebut sebagai salah satu konsesi terbesar yang pernah ditawarkan kepada Iran.

Hingga kini, pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi atas proposal tersebut.

Presiden Donald Trump menyebutkan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz sudah mendekati final. Namun sejumlah pejabat AS berulang kali menegaskan Washington tidak akan menyetujui Iran menguasai akses ke salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.

Di sisi lain, Iran memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru dari AS ke wilayahnya akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi strategis di kawasan.

Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengklaim telah meluncurkan serangan rudal terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di dekat pelabuhan Yanbu di Laut Merah, serta kapal tanker lain di Teluk Aden. Klaim tersebut belum dikonfirmasi pemerintah Arab Saudi.

Takashima menilai, ancaman serangan Houthi terhadap jalur pelayaran di Laut Merah masih membatasi optimisme pasar terhadap normalisasi distribusi minyak di Timur Tengah.

Dari sisi fundamental, harga minyak juga tertekan setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS naik 2,5 juta barel menjadi 407 juta barel pada pekan yang berakhir 31 Juli. Kenaikan stok tersebut berlawanan dengan proyeksi analis dalam jajak pendapat Reuters yang sebelumnya memperkirakan penurunan persediaan sebesar 1,5 juta barel.