Periskop.id - Di Kerajaan Eudaimonia, tangis, amarah, dan kesedihan bukan bagian dari kehidupan. Seluruh emosi negatif rakyat dikunci rapat oleh Kristal Bhava agar kerajaan selalu terlihat damai dan bahagia.
Namun, ketenangan itu berubah ketika gelang kristal milik Putri Adara retak. Emosi yang selama ini dipendam menyerbu jiwanya sekaligus mengguncang tatanan kerajaan. Adara dianggap sebagai ancaman, bahkan oleh ayahnya sendiri. Ia pun melarikan diri menuju Hutan Aishthesis.
Di tempat itulah Adara bertemu Liber, seorang pemuda pemberontak yang perlahan mengubah pandangannya tentang emosi dan arti menjadi manusia seutuhnya.
Kisah tersebut menjadi jantung pertunjukan teater berjudul “Negeri Tanpa Tangis”, penampilan utama dalam FOURTALE 2026 yang digelar SMA Negeri 14 Jakarta di Auditorium Abdurrahman Saleh, Gedung RRI Jakarta Pusat, Sabtu (1/8/2026).
Lewat dunia fantasi yang dibangun di atas panggung, para siswa mengajak penonton melihat bahwa menjadi manusia tidak selalu berarti harus terlihat baik-baik saja. Tangis, kesedihan, dan kemarahan bukan semata-mata kelemahan, melainkan bagian dari proses memahami diri.
Pesan itu sejalan dengan tema besar FOURTALE 2026, yakni BELL atau “Before Every Line is Lived”. Tema tersebut merefleksikan masa SMA sebagai fase pembentukan, ketika seseorang belajar mengenali emosi, membangun relasi, dan mempersiapkan diri sebelum melangkah menuju kehidupan yang lebih luas.
Panggung yang Dibangun oleh Para Siswa
FOURTALE yang merupakan singkatan dari “Fourteen Tale”, adalah sebuah program yang menghadirkan pertunjukan seni sekaligus kompetisi kesenian antar-SMA, SMK, dan sederajat.
Pertunjukan teater dalam acara ini merupakan hasil kolaborasi berbagai ekstrakurikuler di bawah naungan bidang PAKKS bersama siswa SMA Negeri 14 Jakarta. Tidak hanya tampil sebagai pemain, para siswa juga terlibat dalam berbagai proses di balik layar.

Kepala SMA Negeri 14 Jakarta Nisfatul Ummah menilai, FOURTALE bukan sekadar penutup dari rangkaian program sekolah. Di dalamnya terdapat pengalaman yang kelak dapat menjadi bagian penting dari perjalanan para siswa.
“Fourtale bukan sekadar akhir penutup program, tetapi awal lahirnya pengalaman, persahabatan, kolaborasi, kreatifitas, dan cerita yang akan dikenang menjadi jejak manis di SMA. Fourtale menjadi ruang seni murid, untuk bertumbuh, berkarya, dan menginspirasi yang terukir dalam canvas pelajar Jakarta,” tuturnya.
Panggung tersebut tidak lahir dalam waktu singkat. Para siswa menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyusun konsep, berlatih, membangun koordinasi, serta memastikan setiap bagian pertunjukan dapat berjalan sesuai rencana.
Ketua Panitia FOURTALE 2026 Avrilla Kayyasah mengungkapkan kebahagiaannya, setelah melihat kerja keras selama delapan bulan terbayar melalui respons kru dan penonton.
“Setelah delapan bulan mempersiapkan FOURTALE 2026, tidak ada yang mengalahkan perasaan melihat kru dan penonton pulang dengan senyum tulus di wajah mereka, mengetahui bahwa semua kerja keras kami terbayar,” ujarnya.
Kerja panjang itu menjadi bukti, sebuah pertunjukan sekolah tidak hanya berbicara tentang siapa yang tampil di bawah sorotan lampu. Ada proses belajar yang berjalan di baliknya, mulai dari mengelola waktu, membagi tanggung jawab, menghadapi tekanan, hingga menyelesaikan persoalan bersama.
Ketua Komite SMA Negeri 14 Jakarta Amirah pun memberikan apresiasi kepada para siswa yang mengerjakan pertunjukan tersebut tanpa melibatkan event organizer.
“Apresiasi setingginya saya ucapkan buat panitia fourtale 2026 yang dengan segenap kemampuannya mampu memberikan pertunjukan yang luar biasa. Semuanya mereka kerjakan sendiri, murid murid SMAN 14 Jakarta, tanpa melibatkan event organizer. Fourtale bukan hanya memberikan pertunjukan semata, namun disisi lain memberikan pesan moral yang sangat berharga bagi generasi muda untuk terus bertumbuh dan dapat menjadi manusia seutuhnya….,” bebernya.

Seni sebagai Ruang Belajar di Luar Kelas
Di tengah kesibukan mengejar nilai akademik, FOURTALE juga menunjukkan, proses pendidikan juga dapat berlangsung melalui panggung seni. Ketika memainkan karakter, mengatur produksi, atau bekerja bersama dalam satu tim, para siswa sedang mempelajari keterampilan yang tidak selalu ditemukan di dalam buku pelajaran.
Guru Pembina Ekstrakurikuler Thalas atau Theater 14 Annisa Aulia menyebut, keberhasilan pertunjukan tahun ini sebagai hasil dari kreativitas, kolaborasi, dan keberanian para siswa untuk berkarya. Menurutnya, Fourtale merupakan wujud nyata kreativitas, kolaborasi, dan keberanian murid-murid SMAN 14 Jakarta dalam berkarya.
“Kami bangga karena tahun ini untuk kedua kalinya pementasan theater diselenggarakan secara terbuka yang berlangsung sukses. Keberhasilan ini membuktikan bahwa seni bukan hanya menjadi ruang berekspresi, tetapi juga menjadi wadah bagi murid untuk mengembangkan karakter, tanggung jawab, kerja sama, serta keterampilan yang melengkapi prestasi akademik mereka,” ucapnya.
Ia berharap, Fourtale dapat terus menjadi program kerja yang dilanjutkan oleh kepanitiaan berikutnya, dengan penyelenggaraan yang semakin baik, semakin sukses, dan mampu melahirkan karya-karya yang lebih berkualitas. “Semoga Fourtale terus menjadi kebanggaan SMAN 14 Jakarta sekaligus membentuk generasi yang seimbang antara prestasi akademik dan keterampilan di bidang seni,” imbuh Annisa.
Pandangan serupa disampaikan Yuli Utami, orang tua siswa SMA Negeri 14 Jakarta. Baginya, kegiatan teater dapat menjadi penyeimbang bagi siswa agar kehidupan sekolah tidak hanya berpusat pada urusan akademik.
Menurutnya, teater bukan bidang seni yang poluper diminati oleh siswa karna butuh passion, latihan yg intens, pengorbanan waktu dan sebagainya. “Sangat bersyukur SMA 14 punya wadah ekskul Teater. Buat saya orang tua murid, pilihan anak menjadikan teater sebagai kegiatan utama sangat saya dukung penuh,” ujarnya.

Menurutnya, ekskul seperti teater dibutuhkan sebagai penyeimbang kebutuhan jiwa para siswa, tidak melulu soal akademik. “Bersyukur sekali Ekskul Teater SMA 14 tahun ini bisa menyajikan sesuatu yang spektakuler, berkat kerja keras semua pihak Sekolah, OSIS, MPP, pelatih, dan para penampil. Teruslah berkibar untuk bisa menyalurkan bakat siswa di bidang Seni Teater,” kata Yuli.
Dukungan-dukungan tersebut menjadi penting, mengingat teater menuntut lebih dari sekadar keberanian tampil. Para pemain perlu memahami karakter, menghafal dialog, mengolah ekspresi, dan membangun hubungan dengan pemain lain.
Sementara itu, tim produksi harus bekerja agar cerita dapat diterima penonton secara utuh. Semua proses tersebut bertemu dalam satu panggung, lalu menjelma menjadi pengalaman bersama.
Membuat Penonton Masuk ke Dalam Cerita
Bagi sebagian siswa, FOURTALE 2026 juga menjadi pertemuan pertama mereka dengan pertunjukan teater. Salah satunya Nadhifa Ramadhania, siswi kelas X-4 SMA Negeri 14 Jakarta.
Ia mengaku terkesan dengan kekuatan cerita dan karakter para pemain dalam “Negeri Tanpa Tangis”. Pertunjukan tersebut membuatnya seolah ikut masuk ke dalam dunia yang sedang dimainkan di atas panggung.
“Fourtale 2026 keren banget, apalagi penampilan Teaternya. Ini pengalaman pertama aku nonton Teater, ternyata bagus teater itu. Cerita dan karakter pemainnya kuat. Seperti ikut berada dalam ceritanya. Sukses selalu Thalas. Semoga next bisa bikin yang lebih megah dan ada bintang tamunya, biar tambah seru,” ucapnya.
Pengalaman Nadhifa memperlihatkan, pertunjukan seni sekolah dapat membuka pintu bagi siswa lain untuk mengenal teater. Dari yang awalnya sekadar datang menonton, mereka dapat pulang dengan rasa penasaran, pengalaman baru, bahkan keinginan untuk ikut berkarya.

FOURTALE 2026 pada akhirnya bukan hanya cerita tentang kompetisi atau pertunjukan yang selesai ketika tirai ditutup. Acara ini menjadi ruang bertemunya berbagai bakat, karakter, dan emosi para siswa.
Melalui “Negeri Tanpa Tangis”, mereka seakan mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu harus diisi senyum. Ada kalanya manusia perlu marah, bersedih, merasa kecewa, atau menangis agar dapat memahami dirinya sendiri.
Sebab, seperti yang ditemukan Adara setelah gelang kristalnya retak, menjadi manusia seutuhnya bukan berarti menghapus emosi yang tidak menyenangkan. Menjadi manusia justru berarti berani mengenali, menerima, dan menjalani setiap perasaan sebelum melangkah menuju cerita berikutnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar