Periskop.id - Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mengungkap rumah subsidi dari Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) rupanya paling diminati generasi muda. Sekitar 62% dari total penyaluran FLPP tahun lalu diakses Gen Z dan milenial berusia 19 sampai 30 tahun.

Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho menyebutkan, realisasi penyaluran FLPP sepanjang 2025 mencapai 278.868 unit rumah subsidi. Ia menilai capaian tersebut menandakan kesadaran generasi muda untuk berinvestasi jangka panjang lewat kepemilikan rumah masih cukup tinggi.

"Realisasi penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan rumah subsidi tahun lalu sebesar 278.868 unit, itu kurang lebih 62 persennya diakses oleh Gen Z dan milenial, usia 19 sampai 30 tahun," ujar Heru di Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7) seperti dilansir Antara.

Heru menambahkan, realisasi penyaluran FLPP per 30 Juli sudah mencapai sekitar 118.700 unit. Ia optimistis capaian penyaluran FLPP sepanjang tahun ini bisa melampaui hasil 2025.

Tren peningkatan minat generasi muda terhadap rumah subsidi juga terlihat di level pengembang daerah. Ketua Dewan Pengurus Daerah Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (DPD Himperra) Jawa Tengah Sugiyatno menyebutkan, mayoritas pembeli rumah subsidi berasal dari kelompok usia produktif 22-35 tahun.

Sekitar 80-85% dari pembeli tersebut, menurutnya, merupakan karyawan pabrik yang bekerja di kawasan industri.

"Jawa Tengah kini menjadi salah satu pusat industri. Otomatis kebutuhan rumah juga terus meningkat. Karena itu pembangunan perumahan memang mengikuti perkembangan kawasan industri," kata Sugiyatno.

Fenomena serupa juga dirasakan pengembang swasta. Direktur Utama PT DwiWahana Deltamegah Sri Widodo memaparkan, mayoritas pembeli rumah subsidi di perusahaannya berusia 20 sampai 35 tahun dan didominasi milenial yang sudah berkeluarga. Namun belakangan, pembeli dari kalangan Gen Z mulai bermunculan.

"Bahkan ada pembeli berusia 20 tahun yang masih lajang sudah membeli rumah subsidi. Ini menunjukkan kesadaran Generasi Z terhadap pentingnya memiliki rumah mulai meningkat," kata Sri Widodo.

Konsumen rumah subsidi di perusahaannya sebagian besar berasal dari kalangan buruh pabrik, karyawan swasta, dan pekerja sektor informal di sekitar kawasan industri Batang. Sri Widodo menilai kondisi ini menunjukkan rumah subsidi tetap jadi pilihan utama masyarakat, kendati sektor properti secara umum tengah melambat.

"Saat banyak masyarakat menunda membeli rumah nonsubsidi karena bunga KPR komersial yang bersifat floating, rumah subsidi justru semakin diminati karena menawarkan bunga tetap hingga lunas, cicilan yang ringan, dan uang muka yang rendah," katanya.