Periskop.id - Laju inflasi Indonesia pada Juli 2026 diperkirakan turun tajam setelah sempat meningkat pada bulan sebelumnya. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan diproyeksikan mampu menahan tekanan dari biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru.

Dua ekonom perbankan memperkirakan inflasi bulanan Juli berada pada kisaran 0,03% hingga 0,05%. Secara tahunan, inflasi diproyeksikan melandai ke rentang 3,06 hingga 3,08%.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi Juni 2026. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Juni sebesar 0,44% secara bulanan dan 3,34% secara tahunan. Inflasi sepanjang Januari hingga Juni tercatat 1,79%, sedangkan inflasi inti mencapai 0,23% secara bulanan dan 2,76% secara tahunan.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan, inflasi Juli hanya mencapai 0,03% secara bulanan dan 3,06% secara tahunan. “Kami memprediksi inflasi domestik yang rendah pada Juli,” kata Andry di Jakarta, Minggu (2/8). 

Harga Pangan Diperkirakan Turun

Menurut proyeksi Bank Mandiri, komponen pangan bergejolak atau volatile food berpotensi mengalami deflasi 1,12% secara bulanan. Kondisi itu berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni 2026.

Penurunan terutama dipengaruhi harga cabai dan bawang setelah memasuki periode panen. Turunnya harga pangan diperkirakan menjadi penahan utama inflasi umum pada Juli.

Bank Mandiri juga memperkirakan inflasi komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices melambat menjadi 0,10%, jauh lebih rendah dibandingkan 1,41% pada Juni. Perlambatan terjadi setelah tekanan dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada bulan sebelumnya mulai mereda.

Di sisi lain, Bank Permata memproyeksikan inflasi bulanan Juli sebesar 0,05%. Inflasi secara tahunan diperkirakan turun dari 3,34% menjadi 3,08%.

“Inflasi diproyeksikan melambat dari 3,34% (yoy) pada Juni 2026 menjadi 3,08% (yoy) pada Juli 2026,” kata Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman.

Berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, Faisal memperkirakan harga telur ayam, bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit bergerak lebih moderat. Penurunan itu diproyeksikan mengimbangi kenaikan harga beras, daging ayam, daging sapi, serta bawang putih.

Biaya Pendidikan Dorong Inflasi Inti

Meskipun inflasi umum diprediksi melambat, tekanan harga pada kelompok inti masih berpotensi meningkat. Bank Mandiri memperkirakan inflasi inti naik dari 0,23% pada Juni menjadi 0,29% pada Juli.

Kenaikan tersebut terutama disebabkan pengeluaran pendidikan yang bersifat musiman pada awal tahun ajaran baru. Pembayaran biaya sekolah diperkirakan memberikan andil sekitar 0,06 poin persentase terhadap inflasi bulanan.

Bank Permata juga melihat adanya kenaikan harga barang dan jasa pendidikan serta rekreasi. Namun, penurunan harga emas diperkirakan menahan tekanan pada inflasi inti.

“Meskipun kenaikan harga musiman pada barang dan jasa terkait pendidikan dan rekreasi diperkirakan terjadi, penurunan harga emas diperkirakan akan membantu menahan laju inflasi inti,” ujar Faisal.

Sementara pada komponen harga yang diatur pemerintah, kenaikan tarif pesawat selama liburan sekolah dan normalisasi pajak pertambahan nilai setelah berakhirnya kebijakan ditanggung pemerintah diperkirakan memberikan tekanan.

Namun, dampaknya dapat diimbangi penurunan harga BBM nonsubsidi serta LPG nonsubsidi ukuran 5,5 dan 12 kilogram.

Masih Berada dalam Sasaran Bank Indonesia

Apabila proyeksi kedua ekonom tersebut sesuai dengan realisasi, inflasi tahunan Juli akan tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.

Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi 2026 sebesar 2,5% dengan toleransi satu poin persentase. Artinya, rentang sasaran inflasi berada pada 1,5 hingga 3,5% secara tahunan.

Meski demikian, inflasi tahunan yang diperkirakan berada di atas 3% menunjukkan stabilitas harga pangan dan energi tetap perlu dijaga. Pergerakan harga beras, daging, bawang putih, tarif transportasi, serta biaya pendidikan berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.

Data resmi inflasi Juli 2026 dijadwalkan diumumkan BPS pada Senin, 3 Agustus 2026. Pada waktu yang sama, BPS akan merilis data ekspor dan impor Juni, indeks harga perdagangan besar dan nilai tukar petani Juli, perkembangan pariwisata dan transportasi Juni, serta perkembangan luas panen dan produksi padi maupun jagung.

Hasil rilis tersebut akan menunjukkan apakah penurunan harga pangan cukup kuat untuk membawa inflasi Juli mendekati nol, atau tekanan dari pendidikan, transportasi, dan komoditas lain membuat realisasinya lebih tinggi dari perkiraan ekonom.