Periskop.id — Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus mengakselerasi program Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai senjata utama menjaga stabilitas harga pangan. Hingga akhir Juli 2026, Bapanas mencatat GPM telah terlaksana sebanyak 6.589 kali di 38 provinsi, dengan klaim instrumen ini turut berkontribusi meredam tekanan inflasi di berbagai daerah.
"Dalam catatan Bapanas, total GPM yang telah dimasifkan di seluruh Indonesia sejak Januari sampai akhir Juli (2026) ini telah mencapai 6.589 kali di 38 provinsi dan 448 kabupaten/kota," kata Direktur Stabilisasi Pangan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas Maino Dwi Hartono dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (1/8).
Ia menyampaikan hal itu dalam pelaksanaan GPM di Tasikmalaya, Jawa Barat, yang dilaksanakan atas sinergi Bapanas dengan pemerintah kota setempat, DPD, dan DPR RI. Menurutnya, instrumen GPM menjadi andalan pemerintah untuk meredam inflasi di daerah.
"GPM Kota Tasikmalaya ini lengkap mulai dari legislator, senator, pemkot, dan tentu Badan Pangan Nasional sendiri," tuturnya.
Nyaris 1.000 GPM Digelar Hanya dalam Sebulan
Jika dibandingkan dengan data resmi Bapanas sebelumnya, percepatan pelaksanaan GPM pada Juli 2026 terlihat cukup signifikan. Berdasarkan catatan, pada awal Juli, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan, sepanjang Januari hingga Juni 2026 baru terlaksana 5.597 GPM di 37 provinsi dan 378 kabupaten/kota.
Artinya, hanya dalam kurun waktu sebulan setelah itu, pemerintah menggelar hampir 1.000 kegiatan GPM tambahan, sekaligus memperluas cakupan ke satu provinsi baru dan 70 kabupaten/kota tambahan — menandakan pengetatan implementasi program menjelang paruh kedua tahun ini.
Ia menekankan, GPM menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam membantu masyarakat memperoleh pangan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjaga stabilitas harga. Menurut dia, pelaksanaan GPM yang dilakukan secara rutin di berbagai daerah terbukti berkontribusi terhadap upaya pengendalian inflasi, sehingga masyarakat dapat mengakses kebutuhan pangan dengan harga lebih terjangkau di tengah fluktuasi harga.
Makin Rajin Gelar GPM, Makin Rendah Inflasinya
Ia menyebutkan berdasarkan data Juni 2026, tingkat inflasi nasional tercatat sebesar 3,34%, sedangkan Jawa Barat berada di level 3,08%. Adapun Kota Tasikmalaya mencatat inflasi lebih rendah, yakni 2,72%, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 2,82%.
"Inflasi di bulan Juni secara nasional sekitar 3,34%. Jawa Barat sedikit lebih rendah di 3,08%. Tapi Tasikmalaya hanya 2,72% dan ini ternyata turun dari bulan sebelumnya 2,82%," beber Maino.
Ia menekankan bagi provinsi yang rajin melaksanakan GPM secara rutin setiap bulannya, tercatat memperoleh tingkat inflasi yang lebih stabil. Lebih lanjut, Provinsi Jawa Barat telah menyelenggarakan GPM sebanyak 754 kali dan masuk tiga besar terbanyak secara nasional dari segi pelaksanaan. Inflasinya masih cukup baik di level 3,08%. Sementara, Provinsi Jawa Tengah yang menjadi daerah GPM terbanyak dengan 910 kali mencatatkan inflasi Juni 2026 di level yang cukup baik, 2,92%. Hal itu membuktikan adanya pasar murah seperti GPM dapat meningkatkan keterjangkauan harga pangan pokok bagi masyarakat.
Sejalan dengan Tren Nasional: Inflasi Pangan Terus Melandai
Klaim korelasi antara masifnya GPM dan rendahnya inflasi ini juga sejalan dengan tren inflasi pangan nasional yang terus melandai. Berdasarkan catatan, pada Mei 2026, dan kian mendekati target inflasi pangan tahunan yang dipatok pemerintah pada kisaran 3 hingga 5%. Inflasi pangan bulanan juga melandai dari 0,22% pada Mei menjadi 0,14% pada Juni 2026, dengan bawang merah, bawang putih, dan beras sebagai komoditas penyumbang andil utama.
Meski demikian, pemerataan program ini masih menjadi pekerjaan rumah. Hingga awal Juli 2026 Provinsi Papua Pegunungan tercatat belum pernah sekalipun menggelar GPM di wilayahnya, menandakan masih adanya kesenjangan implementasi program antarwilayah di Indonesia.
Maino menambahkan hal itu sejalan dengan arahan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menekankan agar GPM terus digelar bersama pemerintah daerah serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan terkait.
"Sehingga menjadi salah satu instrumen yang signifikan dalam menjaga stabilitas harga pangan," kata Maino.
Adapun komoditas pangan yang dijual dalam program GPM utamanya meliputi bahan pokok seperti beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), minyak goreng kemasan, dan gula pasir. Selain itu, program itu juga menyediakan pasokan protein hewani seperti telur ayam ras, daging ayam segar, dan daging sapi beku dengan harga di bawah pasar.
Tinggalkan Komentar
Komentar