Periskop.id - Jakarta Sneakers Day atau JSD Blok M Festival 2026 menjadi panggung bagi ratusan pelaku industri kreatif untuk memperluas pasar. Dari lebih dari 260 gerai yang hadir, sekitar 75% di antaranya diisi oleh jenama lokal Indonesia.

Festival yang berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, tidak hanya menampilkan produk sepatu dan fesyen. Acara tersebut juga memadukan musik, seni, kecantikan dan kebugaran, kuliner, barang koleksi, serta kegiatan komunitas dalam satu kawasan.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai, kolaborasi lintas subsektor tersebut dapat memperbesar dampak ekonomi. Pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga menikmati hiburan dan berbagai aktivitas kreatif yang mendorong transaksi di kawasan Blok M.

"Ketika berbagai subsektor ekonomi kreatif bersinergi dalam satu ruang adaptif, dampaknya jauh lebih besar, mulai dari terciptanya audiens bersama, efisiensi promosi, hingga terbuka peluang ekspor dan penguatan posisi jenama lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri," ujar Riefky.

Ruang Publik Jadi Pasar bagi Produk Lokal

Menurut Kementerian Ekonomi Kreatif, festival berbasis komunitas seperti JSD dapat mengubah ruang publik menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus mempertemukan jenama lokal dengan konsumen baru.

Konsep multi experience yang diterapkan membuat arus pengunjung tidak terpusat pada satu kegiatan. Pergerakan pengunjung antarzona turut membuka peluang transaksi bagi pelaku fesyen, kuliner, musik, kecantikan, hingga usaha lain di sekitar lokasi.

JSD yang berdiri sejak 2017 awalnya dikenal sebagai pameran sepatu dan streetwear. Dalam perkembangannya, acara tersebut memperluas format menjadi festival kawasan yang menghubungkan komunitas, pelaku usaha, seniman, musisi, dan konsumen.

CEO Infia Corp Aji Pratomo mengatakan penyelenggaraan JSD tahun ini berangkat dari posisi Blok M sebagai salah satu tempat berkumpulnya komunitas dan pelaku industri kreatif di Jakarta.

“JSD Blok M Festival lahir dari semangat untuk merayakan Blok M sebagai ruang berkumpulnya komunitas kreatif. Karena itu kami mengajak berbagai event, komunitas, dan jenama untuk berkolaborasi dalam satu festival sehingga pengunjung bisa menikmati pengalaman yang lebih lengkap,” kata Aji.

Kementerian Ekonomi Kreatif berharap model kolaborasi semacam ini dapat diperluas ke kawasan lain. Festival dinilai dapat menjadi sarana promosi bersama yang lebih efisien sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk menampilkan karya, membangun jejaring, dan mengembangkan usaha.

Fesyen Sumbang 14,77% PDB Ekonomi Kreatif

Penguatan jenama lokal melalui JSD berlangsung ketika kontribusi ekonomi kreatif nasional terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik yang dikutip Kementerian Ekonomi Kreatif menunjukkan nilai Produk Domestik Bruto ekonomi kreatif pada 2025 mencapai Rp1.757,87 triliun atau setara 7,38% dari PDB nasional.

Sektor ekonomi kreatif juga menyerap 27,4 juta pekerja atau 18,70% dari total penduduk bekerja di Indonesia. Jumlah tersebut bertambah dari 26,48 juta pekerja pada 2024.

Di antara berbagai subsektor, fesyen menjadi salah satu penyumbang utama dengan kontribusi 14,77 persen terhadap PDB ekonomi kreatif pada 2025. Pada periode Januari hingga April 2026, produk fesyen juga menyumbang 58,55% dari total ekspor ekonomi kreatif Indonesia.

Besarnya kontribusi itu menunjukkan bahwa industri fesyen tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup. Rantai usahanya mencakup desainer, produsen bahan, penjahit, perajin, fotografer, model, penyelenggara acara, pekerja ritel, hingga pemasaran digital.

"Kementerian Ekraf akan mendukung penguatan kapasitas UMKM fesyen yang terlibat, sekaligus memperluas promosi demi menyukseskan acara ini. Bagaimanapun, fesyen bukan sekadar tren, melainkan pilar penting ekonomi kreatif nasional yang siap mendunia," ujar Riefky dalam kesempatan terpisah terkait Indonesia Fashion Week 2026.

Festival Fesyen Dinilai Buka Pasar Baru

Dampak kegiatan fesyen terhadap ekonomi juga terlihat dari penyelenggaraan Indonesia Fashion Week sebelumnya. Acara tersebut melibatkan lebih dari 200 jenama dan desainer, sekitar 4.000 pekerja kreatif, serta mendatangkan 34.000 pengunjung. Penyelenggara juga mencatat peningkatan transaksi digital hingga 50%.

Data tersebut menjadi gambaran bahwa festival dapat memberi manfaat lebih luas ketika dibarengi pameran dagang, promosi, pertemuan bisnis, dan perluasan akses pasar.

Dalam kunjungannya ke JSD Blok M Festival 2026, Riefky meninjau sejumlah jenama lokal, antara lain Cardinal, Clover, Eiger, HSF Eyewear, ISSHU, Kanky, Mars on Earth, Morteils, Nirmana, Othman, Parfumerie RATS, Weidenman Urban, White Noise, dan 910 NineTen.

Salah satu peserta, Othman, telah memperkenalkan produknya ke pasar Jepang. Pendiri Othman Dimas Muhammad Rusydi menilai dukungan pemerintah dan festival yang mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen menjadi modal penting untuk memperluas pasar internasional.

“Kami berharap semakin banyak jenama lokal Indonesia yang mendapatkan dukungan Pemerintah untuk menembus pasar internasional. Pengalaman Oathman yang berhasil memperkenalkan produk hingga Jepang menunjukkan bahwa karya anak bangsa memiliki daya saing global. Dengan dukungan pemerintah dan ekosistem seperti JSD Blok M Festival, kami optimis subsektor fesyen Indonesia dapat terus berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif nasional,” beber Dimas.

Melalui JSD Blok M Festival 2026, pemerintah berharap jenama lokal tidak sekadar menjadi peserta pameran. Pelaku usaha didorong membangun jaringan distribusi, meningkatkan kualitas produk, memperluas pemasaran digital, dan menyiapkan strategi untuk memasuki pasar global.