Periskop.id – Petani perkotaan di Kelurahan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, meminta pemerintah menyediakan jaring peneduh dan menambah sumur resapan setelah cuaca panas selama musim kemarau membuat tanaman cepat layu dan menekan hasil panen hingga 30%.

Ketua Kelompok Tani Kebun Guyub Sundiro RW 014 Rorotan, Candra Putra Jaya, mengatakan tingginya paparan sinar matahari menyebabkan tanaman membutuhkan perlindungan tambahan. Paranet atau jaring antipanas dinilai dapat mengurangi paparan langsung terhadap tanaman.

“Kami berharap, pemerintah dapat memberikan bantuan berupa paranet atau jaring anti panas sebagai peneduh tanaman,” kata Candra di Jakarta, Senin (3/8).

Menurut Candra, dampak kemarau mulai terlihat dari kondisi tanaman yang lebih cepat layu dan tanah yang semakin kering. Situasi itu menyebabkan produktivitas kebun turun sekitar 20% hingga 30% dibandingkan kondisi normal.

“Kalau ada bantuan alat peneduh tentu tanaman tidak akan terlalu layu meski cuaca panas,” kata dia.

Petani Menyiram Tanaman Dua Kali Sehari

Untuk menjaga tanaman tetap hidup, petani harus melakukan penyiraman dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore. Kebutuhan air sementara masih dapat dipenuhi dari sumur resapan yang tersedia di sekitar kawasan pertanian.

“Beruntung kami memiliki sumur resapan sehingga kebutuhan air hingga kini masih tercukupi dan tanaman tetap terjaga,” ucapnya.

Meski pasokan air belum menjadi persoalan mendesak, Candra berharap pemerintah menambah jumlah sumur resapan. Infrastruktur tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko kekurangan air apabila kemarau berlangsung lebih lama atau suhu semakin panas.

Petani juga telah memperoleh pendampingan dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Utara untuk mengantisipasi hama dan penyakit tanaman yang kerap meningkat pada musim kemarau. “Pendampingan ini bertujuan agar kualitas hasil panen tetap terjaga,” serunya.

Kepala Sudin KPKP Jakarta Utara Novy Christine Palit mengatakan, musim kemarau tidak hanya menimbulkan keterbatasan air. Petani juga perlu mewaspadai kutu putih pada tanaman buah, serangan burung, serta tikus di area persawahan. Budidaya sayuran masih dapat dilakukan melalui sistem hidroponik karena kebutuhan air dan nutrisinya bisa diatur secara lebih terukur.

Petani Diarahkan Menanam Palawija

Untuk menghadapi kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September, Sudin KPKP sejatinya sudah mengarahkan petani memilih komoditas yang tidak membutuhkan banyak air.

“Petani telah kami arahkan untuk menyiasati musim kemarau dengan memilih jenis tanaman yang lebih tahan terhadap keterbatasan air, seperti singkong, jagung, dan kacang-kacangan,” kata Novy.

Palawija dinilai lebih sesuai dibudidayakan pada musim kemarau dibandingkan tanaman yang memerlukan pasokan air dalam jumlah besar. Penyesuaian komoditas dan jadwal tanam menjadi bagian dari strategi adaptasi agar petani tidak mengalami penurunan produksi yang lebih besar.

Sementara itu, tanaman padi di Rorotan diperkirakan memasuki masa panen dalam dua pekan. Kondisinya masih relatif aman karena kebutuhan air terbesar terjadi pada awal masa tanam, sedangkan lahan tersebut sudah mendekati periode panen.

Cuaca kering bahkan dapat membantu proses pematangan dan pemanenan padi. Petani akan menunggu ketersediaan air kembali stabil sebelum memulai musim tanam berikutnya.

“Penanaman kembali akan dilakukan saat awal musim hujan,” kata dia.

 

sawah, rorotan, produksi beras jakarta
Petani mengeringkan padi usai panen di area sawah yang tergenang banjir di Rorotan, Jakarta, Rabu (28/1/2026). Antara Foto/ Fakhri Hermansyah

 

 

Puncak Kemarau Terjadi Agustus hingga September

Permintaan petani muncul ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau. Hingga pertengahan Juli 2026, BMKG mencatat 509 Zona Musim atau sekitar 54,5% luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau.

BMKG memperkirakan puncak kemarau pada Agustus terjadi di 369 Zona Musim atau sekitar 48,84% luas daratan Indonesia, termasuk sebagian besar Pulau Jawa. Sebanyak 169 Zona Musim lainnya diperkirakan mencapai puncak kemarau pada September.

Kondisi tahun ini juga dipengaruhi El Niño kuat. Indeks bulanan Niño 3.4 pada akhir Juni mencapai 1,56, melampaui ambang kategori kuat. BMKG memperkirakan curah hujan tinggi baru muncul secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.

BMKG merekomendasikan sektor pertanian menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tahan kekeringan, menggunakan tanaman berumur pendek, serta memastikan ketersediaan sumber air. Rekomendasi tersebut sejalan dengan langkah Sudin KPKP Jakarta Utara yang mengarahkan petani beralih sementara ke singkong, jagung, dan kacang-kacangan.

Urban Farming Jakarta Perlu Dijaga

Perlindungan terhadap petani Rorotan penting karena pertanian perkotaan tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan warga dan pemanfaatan lahan terbatas.

Data Dinas KPKP DKI Jakarta pada September 2025 mencatat terdapat 5.910 pelaku pertanian perkotaan yang tergabung dalam 521 kelompok tani. Pemprov DKI memberikan dukungan berupa sarana produksi, pendampingan teknis, pelatihan, dan penguatan kelembagaan.

Rorotan juga masih menjadi lokasi produksi padi di Jakarta Utara. BPS Jakarta Utara secara berkala melaksanakan survei ubinan di kawasan tersebut untuk mengukur produktivitas padi dan menyediakan data bagi penyusunan kebijakan ketahanan pangan.

Bantuan paranet, penguatan sumber air, serta pendampingan pengendalian hama dapat menjadi langkah jangka pendek untuk menahan penurunan hasil panen. Dalam jangka lebih panjang, pemerintah perlu memastikan pertanian perkotaan memiliki sistem irigasi dan pola tanam yang mampu beradaptasi dengan musim kemarau yang semakin kering dan panjang.