Periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat karhutla, banjir, dan tanah longsor mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Minggu (26/7) hingga Senin (27/7). Kebakaran hutan dan lahan tercatat di lima daerah berbeda, sementara kebakaran permukiman juga melanda Sukabumi.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, rangkaian kejadian itu berdampak pada masyarakat di sejumlah daerah. Sebagian bencana, menurutnya, masih dalam proses penanganan hingga saat ini.

"Penyebab kebakaran masih diselidiki oleh pihak berwajib. Luas lahan terdampak diperkirakan sekitar tiga hektare dan tidak ada korban jiwa akibat peristiwa ini," ujar Abdul Muhari dalam keterangan resmi, Senin (27/7).

Pernyataan itu merujuk pada karhutla yang menghanguskan sekitar tiga hektare lahan di Desa Penyak, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, pada Sabtu (25/7). Tim Reaksi Cepat BPBD setempat mengerahkan truk tangki air berkapasitas 5.000 liter hingga api padam pada hari yang sama.

Karhutla serupa turut melanda empat daerah lain. Di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tiga hektare lahan terbakar dan berhasil dipadamkan pada Minggu (26/7).

Kebakaran lahan gambut seluas dua hektare di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, masih dalam proses pemadaman hingga Minggu (26/7). Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, dengan luas lahan terbakar satu hektare yang masih ditangani tim gabungan.

Sementara di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, api yang membakar 2,8 hektare lahan berhasil dipadamkan pada Minggu (26/7) sore.

Di luar karhutla, kebakaran permukiman juga terjadi di Kampung Adat Cipta Mulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Diduga dipicu korsleting listrik, kebakaran itu merusak berat 51 rumah dan memaksa 159 jiwa mengungsi.

Sebanyak 132 jiwa mengungsi ke rumah kerabat, sedangkan 27 jiwa lainnya ditampung di lapangan sepak bola Kasepuhan Cipta Mulya. Satu tempat ibadah, satu gedung PAUD, lumbung dan penumbuk padi, serta dua fasilitas sanitasi umum turut rusak akibat kebakaran tersebut.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi telah mengaktifkan Posko Tanggap Darurat Bencana lengkap dengan dapur umum, tenda pengungsian, pos logistik, dan pos kesehatan. BNPB menyalurkan bantuan berupa 100 paket sembako, 50 paket family kit, satu tenda pengungsi, dan dua unit toilet portabel.

Bencana lain juga tercatat di berbagai wilayah. Longsor di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memutus saluran pipa air bersih akibat runtuhnya rumpun bambu sepanjang sekitar 10 meter, membuat sekitar 5.000 jiwa terancam kesulitan air bersih.

Banjir di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, sempat merendam 168 rumah dan berdampak pada 504 jiwa, meski kini dilaporkan sudah surut. Longsor di daerah yang sama memutus akses jalan antara Desa Lemowalia dan Desa Salubiro sehingga 2.104 jiwa masih terisolasi dan membutuhkan jembatan darurat.

Di Sumatera Barat, hujan lebat memicu banjir dan longsor di Kabupaten Agam yang merusak satu rumah, tiga ruas jalan, satu jembatan, dan satu tanggul. Kabupaten Pasaman Barat mengalami nasib serupa, dengan empat rumah dan jalur utama Simpang Empat-Talu terdampak, sementara hujan masih mengguyur wilayah tersebut hingga Minggu (26/7).

BNPB mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG memperkirakan hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang pada periode 27-29 Juli 2026 di berbagai wilayah, mulai dari Aceh, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, hingga sebagian besar Sumatera.

Pemerintah daerah diimbau memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan pemantauan dan deteksi dini, serta memastikan kesiapan sarana pemadaman karhutla selama musim kemarau. Masyarakat juga diminta tidak membakar lahan dan segera melapor ke aparat jika menemukan titik api.

Warga di daerah rawan banjir diimbau segera mengungsi apabila hujan lebat berlangsung lebih dari satu jam dan mengurangi jarak pandang. Bagi warga di kawasan rawan longsor, BNPB meminta mewaspadai tanda pergerakan tanah seperti retakan, pohon atau tiang miring, maupun suara gemuruh dari lereng, serta segera evakuasi jika kondisi membahayakan.