Periskop.id - Kebakaran lahan di kawasan Kawah Wadon, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat, terus menjadi perhatian setelah area terdampak dilaporkan meluas hingga lebih dari enam hektare. Sekitar 150 petugas gabungan dan relawan masih berjibaku memadamkan api di tengah medan sulit, vegetasi kering, keterbatasan air, serta embusan angin yang mempercepat penjalaran api.
Memasuki hari kedua penanganan, personel dari Balai Besar TNGGP, TNI-Polri, BPBD dan Damkar Cianjur, Masyarakat Mitra Polhut, serta berbagai kelompok relawan terus berdatangan untuk memperkuat operasi pemadaman.
Juru Bicara Balai Besar TNGGP Ade Bagja mengatakan, kondisi geografis menjadi salah satu hambatan terbesar. Sejumlah titik kebakaran berada di area yang tidak mudah dijangkau, sementara rerumputan dan pepohonan yang mengering membuat api mudah kembali membesar.
"Kendala pemadaman karena lokasi yang sulit dijangkau ditambah banyaknya pepohonan kering yang mudah terbakar, sehingga menyulitkan petugas dan relawan, untuk data pasti kami masih menunggu," katanya.
Laporan terpisah pada Minggu (9/8) bahkan menyebut sedikitnya 10 titik api baru terdeteksi di sekitar Kawah Wadon. Petugas berusaha membawa air secara estafet sekaligus membuat sekat atau parit untuk mencegah api menjalar lebih jauh.
Angin Kencang Bikin Api Cepat Menjalar
Kondisi cuaca menjadi persoalan lain. Angin yang berembus kencang sejak pagi hingga petang membuat api lebih cepat berpindah ke vegetasi lain.
Petugas BPBD Cianjur Ombing mengatakan, upaya pemadaman tetap dilakukan meskipun sebagian besar masih mengandalkan peralatan manual. "Sekitar 150 orang petugas dan relawan masih berjibaku memadamkan api agar tidak terus menjalar dan meluas, angin kencang dan alat seadanya membuat api dengan cepat menjelar," kata Ombing.
Relawan yang berada di lokasi juga melaporkan sejumlah area yang sebelumnya telah ditangani masih mengeluarkan asap ketika diterpa angin. Kondisi itu meningkatkan risiko api kembali menyala sehingga petugas belum dapat sepenuhnya meninggalkan titik-titik terdampak.
Ketua Gede Pangrango Operation Dudan Darmawan sebelumnya mengatakan personel di lapangan telah bekerja lebih dari 36 jam, tetapi kondisi kering dan angin membuat proses pemadaman berlangsung lebih lama.
"Meskipun puluhan relawan sudah melakukan penanganan selama lebih dari 36 jam atau hampir dua hari dua malam tetapi api belum berhasil dipadamkan," ujar Dudan.
Dugaan Awal Dipicu Faktor Alam
Balai Besar TNGGP untuk sementara menduga kebakaran di Kawah Wadon dipicu faktor alam, meski penyebab definitif masih dalam pendalaman. Ade menuturkan, hasil penelusuran awal tidak menemukan aktivitas manusia sebelum munculnya api di kawasan tersebut.
"Kemungkinan besar kebakaran di kawah Wadon karena faktor alam, suhu panas membakar rumput yang mengering sehingga menjalar ke pohon dan tanaman lainnya, namun hal tersebut nanti akan didalami petugas," terangnya.
Kepala Balai Besar TNGGP Sadtata Noor Adirahmanta sebelumnya juga menyampaikan indikasi serupa. Kawah Wadon merupakan zona inti yang tidak diperuntukkan bagi aktivitas wisata dan pendakian. Rekaman kamera pengawas Pos Pengamatan Gunung Api Ciloto juga disebut tidak menunjukkan aktivitas manusia menjelang kebakaran.
"Kondisi musim kemarau yang menyebabkan vegetasi mengering serta suhu tinggi di sekitar kawasan kawah diduga menjadi faktor pemicu terjadinya kebakaran," ujarnya.
Meski demikian, dugaan faktor alam belum dapat dianggap sebagai kesimpulan akhir sebelum pemeriksaan lapangan selesai.
Kebakaran Kedua dalam Waktu Berdekatan
Kebakaran Kawah Wadon terjadi hanya berselang singkat setelah api melanda kawasan Alun-Alun Barat Surya Kencana pada Kamis (6/8). Pada kejadian sebelumnya, Balai Besar TNGGP memperkirakan sekitar satu hektare area terdampak, terutama berupa rumput kering dan sebagian kecil vegetasi berkayu. Api sempat dinyatakan berhasil dipadamkan, tetapi petugas tetap melakukan penyisiran untuk mencegah bara kembali menyala.
Sehari kemudian, kebakaran baru terdeteksi di sekitar Kawah Wadon. Titik asap pertama kali diketahui melalui CCTV Pos Pengamatan Gunung Api Ciloto sekitar pukul 03.00 WIB pada Jumat (7/8). Sebanyak 28 relawan dari jalur Gunung Putri dan 52 personel dari arah Cibodas kemudian bergerak menuju lokasi.
Vegetasi yang terdampak di sekitar Kawah Wadon didominasi semak belukar dan rerumputan. Balai Besar TNGGP menyebut tidak ditemukan tanaman edelweiss pada area yang teridentifikasi terbakar.
Jalur Pendakian Ditutup hingga 11 Agustus
Untuk menjamin keselamatan pengunjung sekaligus memberi ruang bagi petugas menangani kebakaran, seluruh jalur pendakian Gunung Gede Pangrango ditutup sementara pada 7-11 Agustus 2026. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor SE.18 Tahun 2026.
Calon pendaki yang telah melakukan pemesanan pada periode penutupan dapat mengajukan pengembalian dana melalui mekanisme yang disiapkan Balai Besar TNGGP.
"Langkah penutupan ini kami ambil demi keselamatan bersama. Bagi para calon pendaki yang sudah melakukan pemesanan untuk tanggal 7 hingga 11 Agustus 2026, pihak Balai Besar TNGGP memfasilitasi pengembalian dana (refund). Link pengajuan refund akan dikirimkan secara langsung melalui WhatsApp resmi BBTNGGP ke nomor ketua kelompok yang terdaftar saat registrasi," jelas Sadtata.
Gunung Gede sendiri masih berada pada status aktivitas vulkanik Level I atau Normal berdasarkan evaluasi terakhir yang tersedia. Badan Geologi tetap merekomendasikan masyarakat dan pengunjung tidak menuruni, mendekati, maupun bermalam dalam radius 600 meter dari Kawah Wadon karena adanya potensi bahaya di sekitar kawasan kawah.
Dengan kondisi lahan yang masih sangat kering dan potensi titik api kembali muncul, operasi di Gunung Gede belum hanya berfokus pada memadamkan kobaran yang terlihat. Petugas juga harus memastikan tidak ada bara tersisa yang dapat kembali menyala ketika angin menguat.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar