Periskop.id - Samsung Electronics dan SK Hynix memimpin pelemahan tajam saham emiten semikonduktor Korea Selatan pada Selasa (28/7/2026). Aksi jual dipicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI), risiko pendanaan infrastruktur AI, serta meningkatnya persaingan dari China.

Reuters melaporkan, saham Samsung Electronics sempat merosot hingga 9,5%. SK Hynix bahkan anjlok lebih dalam, mencapai 10,9%.

Indeks acuan KOSPI ikut tertekan 7,3% pada perdagangan awal, mencerminkan tekanan yang meluas ke seluruh sektor chip. Saham SK Hynix yang tercatat di Amerika Serikat sebelumnya juga ditutup melemah ke level US$143,02, berada di bawah harga penawaran umum perdana atau IPO sebesar US$149.

Tekanan terhadap sektor chip ini muncul setelah serangkaian perkembangan yang memunculkan keraguan baru terhadap reli saham semikonduktor. Reli tersebut selama ini ditopang ledakan investasi AI secara global.

SK Hynix dikenal sebagai pemasok utama chip high-bandwidth memory (HBM) untuk Nvidia. Posisi ini membuat perusahaan sangat diuntungkan dari lonjakan belanja AI, sekaligus menjadikan sahamnya sensitif terhadap perubahan sentimen investor terkait sektor tersebut.

Analis menilai, aksi jual kali ini terjadi karena kombinasi beberapa faktor. Kekhawatiran atas pendanaan infrastruktur AI, kemajuan teknologi China, hingga meningkatnya persaingan dari produsen chip Negeri Tirai Bambu disebut jadi pemicu utama.

Salah satu sentimen negatif datang dari laporan Wall Street Journal yang menyebut Nvidia berpotensi menyediakan dukungan pendanaan sekitar US$250 miliar untuk proyek pusat data OpenAI. Kabar ini membuat saham Nvidia turun hampir 5% pada perdagangan sebelumnya, karena investor mempertanyakan sejauh mana perusahaan tersebut akan membiayai proyek para pelanggannya sendiri.

Di sisi lain, investor turut mencermati laporan kemajuan China dalam mengembangkan mesin litografi deep ultraviolet (DUV) buatan dalam negeri. Langkah ini dinilai bisa mengurangi ketergantungan China terhadap peralatan semikonduktor asal Barat, meski negara tersebut masih menghadapi pembatasan ekspor teknologi chip dari Amerika Serikat.

Sentimen negatif bertambah seiring meningkatnya popularitas model AI open-source murah asal China, seperti Kimi K3. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa kebutuhan komputasi AI di masa depan mungkin tak sebesar perkiraan sebelumnya, sehingga permintaan terhadap chip AI canggih dan HBM berpotensi melambat.

Debut kuat produsen chip memori China, CXMT, di pasar saham turut memicu kekhawatiran akan ketatnya persaingan di industri memori global. Laporan bahwa Apple melobi pemerintahan Presiden Donald Trump agar mengizinkan penggunaan chip buatan China pada sebagian produknya semakin memperkuat persepsi bahwa kemampuan teknologi semikonduktor China terus berkembang.

Rangkaian perkembangan ini bersama-sama membentuk persepsi baru di kalangan investor. Kemampuan teknologi China yang terus berkembang dinilai berpotensi menjadi ancaman serius bagi para pemain global di industri semikonduktor.