Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan rawan terkoreksi pada perdagangan Rabu (29/7). Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai tekanan jual masih membayangi pasar meski volumenya mulai mengecil.
Herditya memaparkan, dalam jangka pendek pergerakan IHSG cenderung sideways di kisaran MA20 dan MA60. Menurutnya, indeks saat ini berada pada fase wave iv dari wave (c) wave [iv], dengan area 6.074-6.107 perlu diwaspadai sebagai zona koreksi.
"Adapun kami perkirakan, area penguatan terdekatnya berada di 6.262-6.299," tulis Herditya dalam risetnya, Rabu (29/7).
MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG berada di kisaran 6.111-6.007, sementara level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.599-6.705.
Support merupakan titik harga saham yang diyakini sebagai level terendah, tempat daya beli biasanya kembali menguat. Sementara itu, resistance adalah level tertinggi yang kerap memicu aksi jual sehingga menahan laju kenaikan harga.
MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk sejumlah saham. Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) disarankan diakumulasi pada rentang Rp1.435-Rp1.470, dengan target harga Rp1.550-Rp1.615 dan stoploss di bawah Rp1.385.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga direkomendasikan dengan strategi trading buy di area Rp2.050-Rp2.090, target harga Rp2.390-Rp2.600, dan stoploss di bawah Rp2.000.
Sentimen pergerakan IHSG hari ini turut dipengaruhi kondisi perdagangan sehari sebelumnya. Indeks ditutup melemah 0,89% ke level 6.130,59 pada Selasa (28/7).
Analis Phintraco Sekuritas menguraikan, histogram MACD terus menyempit sementara Stochastic RSI melemah di area pivot. Kondisi itu membuat IHSG diperkirakan menguji area support di kisaran 6.050-6.100 pada perdagangan Rabu (29/7).
Phintraco juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah, yang ditutup melemah 0,41% ke level Rp18.083 per dolar AS di pasar spot. Level itu mendekati rekor terendah sepanjang masa di Rp18.190 per dolar AS.
"Sedangkan dari domestik, investor masih bersikap wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait penunjukkan Gubernur Bank Indonesia definitif berikutnya yang dinilai dapat berpengaruh terhadap kebijakan bank sentral ke depannya," tulis Phintraco dalam analisisnya, Rabu (29/7).
Dari sisi eksternal, Phintraco menyoroti potensi sentimen dari Amerika Serikat menyusul sinyal Perwakilan Dagang AS (USTR) soal kemungkinan tarif impor tambahan terhadap sejumlah negara Asia, termasuk Tiongkok, Vietnam, dan Korea Selatan. Langkah itu menyusul penyelidikan USTR terkait dugaan kelebihan kapasitas produksi dan praktik dumping manufaktur dari negara-negara tersebut.
Menurut Phintraco, pemerintah perlu mewaspadai perkembangan ini, mengingat AS pekan lalu telah mengenakan tarif tambahan sebesar 10% terhadap produk asal Indonesia.
Selain ADMR dan TPIA, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).
"Sementara itu investor akan menantikan hasil pertemuan the Fed yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 3,5%-3,75%," tulis Phintraco.
Tinggalkan Komentar
Komentar