Periskop.id - Status Maroko sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 kini goyah. Krisis migrasi di wilayah Ceuta memicu desakan dari sejumlah partai politik di Spanyol dan Portugal agar FIFA meninjau ulang keterlibatan Maroko dalam turnamen tersebut.
Partai Sumar di Spanyol dan partai hijau Portugal, Livre, sama-sama meminta federasi sepak bola negara masing-masing menyampaikan tuntutan itu ke FIFA. Kedua partai menilai krisis di perbatasan Ceuta menunjukkan belum ada jaminan stabilitas politik, keamanan, dan kerja sama yang memadai antara Maroko, Spanyol, dan Portugal untuk menggelar turnamen bersama.
Sumar meminta pemerintah Spanyol, Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), serta pemerintah Portugal menyampaikan kepada FIFA perlunya evaluasi terhadap skema penyelenggaraan bersama Piala Dunia 2030. Partai tersebut mengutip laporan media Spanyol, 20Minutos, sebagai dasar tuntutannya.
Menurut Sumar, penyelenggaraan Piala Dunia melibatkan dana publik, pembangunan infrastruktur, dan membawa nama negara tuan rumah di mata dunia. Karena itu, setiap negara penyelenggara dinilai wajib memenuhi standar penghormatan terhadap hak asasi manusia, hukum internasional, dan prinsip demokrasi.
Partai tersebut turut meminta FIFA melakukan evaluasi khusus atas risiko pelanggaran HAM di negara tuan rumah, termasuk dampak krisis migrasi Ceuta terhadap komitmen yang sudah disepakati dalam proses penyelenggaraan.
Di sisi lain, Livre bahkan menyebut partisipasi Maroko dalam Piala Dunia 2030 sudah sulit dipertahankan setelah peristiwa di Ceuta. Partai itu mengirim surat resmi kepada pemerintah dan federasi sepak bola Portugal untuk mendesak peninjauan ulang.
Krisis di Ceuta bermula dari gelombang migrasi besar yang berlangsung sejak Kamis (30/7). Mengutip laporan Reuters pada Minggu (2/8), sedikitnya 72 orang tewas setelah puluhan ribu warga Maroko nekat menyeberang melalui laut maupun jalur darat menuju enklave Spanyol tersebut.
Lebih dari 50.000 orang tercatat memasuki Ceuta hanya dalam hitungan hari. Jumlah itu menjadikan peristiwa tersebut salah satu gelombang migrasi terbesar yang pernah terjadi di perbatasan Eropa-Afrika, sekaligus memaksa Spanyol memperketat pengamanan di wilayah perbatasannya.
Ceuta merupakan wilayah otonom milik Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, wilayah ini menjadi satu dari dua titik perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika, sehingga selama bertahun-tahun menjadi jalur utama migran yang ingin masuk ke Eropa lewat cara berenang, memakai pelampung, atau memanjat pagar pembatas.
Banyak migran mengaku nekat menyeberang karena kondisi ekonomi yang sulit di negara asal. Informasi yang beredar di media sosial soal peluang kerja dan kehidupan lebih baik di Spanyol turut mendorong mereka mengambil risiko tersebut.
Piala Dunia 2030 sendiri rencananya digelar di enam negara yang tersebar di tiga benua. Spanyol, Portugal, dan Maroko berperan sebagai tuan rumah utama, sementara Argentina, Uruguay, dan Paraguay masing-masing menggelar satu pertandingan untuk memperingati satu abad Piala Dunia pertama yang berlangsung di Uruguay pada 1930.
Montevideo, kota yang menjadi lokasi final edisi perdana turnamen itu, dijadwalkan kembali menjadi tuan rumah seremoni peringatan satu abad Piala Dunia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar