Periskop.id – Gelombang investasi di industri tekstil dan pakaian jadi berpotensi membuka sekitar 9.000 hingga 9.800 lapangan kerja baru. Proyek tersebut melibatkan enam perusahaan yang berinvestasi di Brebes, Subang, Demak, dan Sumedang sepanjang 2025 hingga Agustus 2026.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Garment dan Textile Indonesia Rizal Tanzil Rakhman mengatakan, dampak investasi sektor tekstil tidak berhenti pada penyerapan tenaga kerja langsung di dalam pabrik.
“Investasi industri tekstil dan pakaian jadi tidak hanya menghadirkan fasilitas produksi. Investasi ini juga menciptakan pekerjaan, meningkatkan ekspor, menggerakkan logistik, dan menumbuhkan kegiatan ekonomi baru di sekitar kawasan industri,” ujar Rizal dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (6/8).
Enam perusahaan tersebut terdiri atas PT Xinhai Knitting Indonesia, PT Binkova Textiles Indonesia, PT Dafei Textile Indonesia, PT Serendipity Fashion Indonesia, PT FHG Tekstil Indonesia, dan PT Citra Terus Makmur.
Brebes dan Subang jadi penyumbang terbesar
Proyeksi lapangan kerja terbesar berasal dari pembangunan pabrik PT Xinhai Knitting Indonesia di Desa Ciampel, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Pemerintah Kabupaten Brebes mencatat investasi pabrik tersebut mencapai Rp675 miliar dengan proyeksi penyerapan sekitar 6.000 tenaga kerja. Fasilitas seluas delapan hektare itu dirancang memproduksi sekitar 25 juta potong pakaian rajut per tahun untuk melayani sejumlah merek internasional.
Angka penyerapan tenaga kerja Xinhai masih memiliki perbedaan antarsumber. Pemkab Brebes dan AGTI menggunakan proyeksi sekitar 6.000 pekerja, sedangkan Kementerian Perindustrian sebelumnya memperkirakan proyek senilai US$40 juta tersebut dapat menyerap hingga 8.000 orang. Perbedaan itu menunjukkan jumlah akhirnya masih dapat berubah mengikuti tahap investasi dan kapasitas produksi yang terealisasi.
Investasi besar lainnya berada di kawasan Subang Smartpolitan, Jawa Barat. PT Binkova Textiles Indonesia, PT Dafei Textile Indonesia, dan PT Serendipity Fashion Indonesia membangun kawasan manufaktur tekstil terintegrasi dengan nilai investasi sekitar US$60 juta.
Ketiga perusahaan diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 hingga 3.800 pekerja. Fasilitas tersebut mengintegrasikan proses pembuatan kain, pencelupan dan penyelesaian bahan, hingga produksi pakaian jadi dalam satu kawasan. Pembangunan ditargetkan selesai pada akhir 2026 dengan orientasi utama pasar ekspor, khususnya Eropa.
Dengan demikian, proyeksi 9.000 hingga 9.800 kesempatan kerja yang disampaikan AGTI terutama berasal dari proyek Xinhai di Brebes dan pembangunan tiga pabrik di Subang.
FHG Telah Merekrut 600 pekerja
Di Kabupaten Demak, PT FHG Tekstil Indonesia telah mempekerjakan sekitar 600 tenaga kerja lokal. Produsen kain greige dan kain berwarna itu memulai investasi sebesar Rp569 miliar pada 2025 dan menargetkan total investasi mencapai Rp1,2 triliun pada 2029.
Jumlah pekerjanya juga ditargetkan meningkat menjadi 1.305 orang pada 2029. Hasil produksi perusahaan dipasarkan ke Bangladesh, Sri Lanka, Vietnam, Amerika Serikat, Thailand, dan Myanmar. Nilai ekspornya diproyeksikan tumbuh dari Rp281 miliar pada 2025 menjadi sekitar Rp1,9 triliun pada 2029.
Sementara itu, PT Citra Terus Makmur telah menyelesaikan perluasan fasilitas produksinya di Kabupaten Sumedang. Namun, perusahaan belum mengumumkan besaran tambahan tenaga kerja yang diserap dari ekspansi tersebut.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya menilai ekspansi PT Citra Terus Makmur menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek industri tekstil nasional.
“Investasi ini menjadi bukti kuatnya kepercayaan investor terhadap industri TPT nasional. Kami berharap langkah PT Citra Terus Makmur dapat menginspirasi pelaku industri lainnya untuk terus berinovasi dan memperluas kapasitas produksinya,” kata Agus.
Di luar enam proyek investasi tersebut, pengoperasian kembali fasilitas PT Wong Hang Bersaudara dan PT Akarsa Garment di Kabupaten Pemalang turut memulihkan sekitar 1.500 pekerjaan yang sebelumnya terdampak penghentian operasional.
Industri TPT Serap 3,96 juta pekerja
Investasi baru masuk ketika industri TPT masih menjadi salah satu sektor manufaktur dengan penyerapan tenaga kerja terbesar. Kementerian Perindustrian mencatat jumlah tenaga kerja sektor tersebut mencapai sekitar 3,96 juta orang pada 2025 atau setara 19,48% dari keseluruhan pekerja industri pengolahan.
Pada tahun yang sama, industri TPT tumbuh 3,55% secara tahunan. Nilai ekspornya mencapai US$12,08 miliar dengan surplus perdagangan sebesar US$3,45 miliar, terutama ditopang oleh ekspor pakaian jadi. Realisasi investasi sektor ini tercatat mencapai Rp20,23 triliun.
Kinerja tersebut membuat pemerintah menilai industri tekstil masih memiliki prospek pertumbuhan meski menghadapi tekanan bahan baku, perubahan permintaan global, persoalan energi, dan persaingan produk impor.
“Menurut data yang kami terima bahwa kita sudah bisa mulai memutarbalikkan narasi yang menyatakan bahwa sektor TPT di Indonesia ini merupakan sektor yang sunset, bahkan kita secara optimis harus berani mengatakan, it's a sunrise,” kata Agus.
Meski demikian, proyeksi hampir 10 ribu pekerjaan baru belum seluruhnya menjadi penyerapan tenaga kerja aktual. Realisasinya akan bergantung pada penyelesaian konstruksi, dimulainya produksi, kapasitas pabrik, permintaan ekspor, dan kesiapan tenaga kerja di sekitar kawasan industri.
Rizal menilai pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha perlu menjaga iklim investasi agar ekspansi perusahaan dapat benar-benar diterjemahkan menjadi pekerjaan baru.
“Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha perlu terus diperkuat. Dengan pasokan bahan baku dan energi yang kompetitif, tenaga kerja terampil, kemudahan investasi, akses ekspor, serta pengawasan terhadap impor ilegal dan praktik perdagangan tidak sehat, industri TPT memiliki peluang besar untuk terus tumbuh dan menjadi motor penciptaan lapangan kerja nasional,” kata Rizal.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar