Periskop.id – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI di sektor e-commerce tidak hanya meningkatkan personalisasi layanan, tetapi juga membuat ancaman siber semakin sulit dikenali. Kaspersky mendorong platform perdagangan digital menerapkan keamanan sejak tahap perancangan atau security-by-design untuk melindungi data dan transaksi pengguna.

Kaspersky Security Network mencatat 6.651.955 percobaan akses ke tautan phishing yang menyasar pengguna toko daring, sistem pembayaran, dan layanan pengiriman sepanjang November 2024 hingga Oktober 2025. Sebanyak 50,58% serangan menyamar sebagai platform belanja online, 27,3% meniru sistem pembayaran, dan 22,12% membidik pengguna layanan pengiriman.

Besarnya ancaman tersebut menjadi perhatian karena Indonesia merupakan pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Momentum Works memperkirakan nilai transaksi bruto atau gross merchandise value e-commerce Indonesia mencapai US$57,7 miliar pada 2025, setara dengan sekitar 37% dari total pasar regional.

Perkiraan itu berbeda dengan laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company yang menaksir GMV e-commerce Indonesia sekitar US$71 miliar. Perbedaan angka dapat dipengaruhi cakupan platform dan metodologi penghitungan, tetapi keduanya sama-sama menunjukkan besarnya aktivitas perdagangan digital Indonesia. Laporan e-Conomy SEA juga memperkirakan nilai ekonomi digital nasional secara keseluruhan mendekati US$100 miliar pada 2025.

AI Menguntungkan Platform, tetapi Juga Dipakai Penipu

Sejauh ini, platform e-commerce memanfaatkan AI untuk memberikan rekomendasi produk, menjalankan chatbot layanan pelanggan, mengatur logistik, serta mendeteksi transaksi mencurigakan. Namun, teknologi serupa dapat digunakan pelaku kejahatan untuk membuat pesan phishing yang lebih personal, meniru komunikasi perusahaan, serta mengotomatisasi serangan dalam skala besar.

Kepala Saluran Konsumen untuk Asia Pasifik di Kaspersky, Choon Hong Chee, menilai AI telah mengubah inovasi digital sekaligus lanskap ancaman siber.

"AI sedang membentuk kembali inovasi digital dan lanskap ancaman siber," kata Choon Hong Chee, Kepala Saluran Konsumen untuk Asia Pasifik di Kaspersky. 

Ia melanjutkan, meskipun bisnis-bisnis merangkul AI untuk memberikan pengalaman pelanggan yang lebih cerdas dan personal, para penyerang juga menggunakan AI untuk membuat phishing, penipuan, dan malware lebih mudah diskalakan dan meyakinkan. “Hal ini membuat keamanan sejak tahap perancangan menjadi lebih penting dari sebelumnya. Organisasi harus membangun keamanan langsung ke dalam aplikasi mereka sehingga mereka dapat secara proaktif melindungi pengguna dari ancaman saat ini dan serangan berbasis AI di masa mendatang,” tuturnya. 

Ancaman serupa juga menjadi sorotan media internasional. Associated Press melaporkan AI memungkinkan pelaku memperbanyak konten penipuan dengan kecepatan dan skala yang sebelumnya sulit dicapai. Di Amerika Serikat, FBI menerima lebih dari 22.000 laporan penipuan terkait AI sepanjang 2025 dengan kerugian mencapai lebih dari US$893 juta.

Reuters juga melaporkan Google menemukan lebih dari 1,5 juta alamat situs yang terkait dengan perangkat phishing bernama Outsider dalam kurun November 2025 hingga April 2026. Perangkat tersebut diduga menggunakan AI untuk membantu pelaku meniru ratusan situs tepercaya dan mencuri informasi pribadi serta keuangan pengguna.

Keamanan Harus Dibangun Sejak Aplikasi Dirancang

Konsep security-by-design menempatkan keamanan sebagai bagian utama dari perencanaan, pengembangan, pengujian, dan pengoperasian aplikasi. Keamanan tidak hanya ditambahkan setelah produk selesai dibuat atau sesudah ditemukan insiden.

Cybersecurity and Infrastructure Security Agency atau CISA mendefinisikan keamanan sejak desain sebagai pendekatan yang menempatkan perlindungan pelanggan sebagai kebutuhan utama bisnis, bukan sekadar fitur teknis tambahan. Sementara itu, kerangka pengembangan perangkat lunak aman dari National Institute of Standards and Technology mendorong praktik keamanan untuk diintegrasikan ke dalam setiap tahap siklus pengembangan aplikasi.

“Pada saat yang sama, konsumen saat ini mengharapkan pengalaman belanja digital yang cepat, lancar, dan aman. Keamanan tidak boleh dianggap sebagai fitur opsional yang ditambahkan kemudian—keamanan harus dibangun langsung ke dalam aplikasi yang digunakan orang setiap hari. Dengan menyematkan perlindungan ke dalam aplikasi seluler, organisasi dapat secara proaktif melindungi pengguna dari phishing, malware, pencurian kredensial, dan ancaman canggih lainnya tanpa mengganggu pengalaman pelanggan,” bebernya.

Pendekatan tersebut semakin penting karena sebagian besar aktivitas belanja online dilakukan melalui perangkat seluler. Selain melindungi aplikasi dari malware, platform perlu menjaga kredensial akun, informasi pembayaran, koneksi jaringan, dan integritas setiap transaksi.

Sebagai salah satu solusi yang ditawarkan, Kaspersky menyediakan Mobile Security Software Development Kit atau KMS SDK. 

Perangkat tersebut dapat ditanamkan langsung ke aplikasi Android dan iOS untuk mendeteksi perangkat yang telah di-root atau jailbreak, memeriksa aplikasi berbahaya, memblokir situs phishing, mengidentifikasi jaringan Wi-Fi tidak aman, serta melindungi aplikasi dari modifikasi tanpa izin.

Kaspersky menyebut perangkat tersebut ditujukan bagi organisasi yang mengelola data pelanggan dan informasi keuangan sensitif, termasuk bank, perusahaan teknologi finansial, lokapasar, jaringan ritel, penyedia perjalanan, dan layanan pemerintahan. Sistem itu terhubung dengan Kaspersky Security Network yang mengolah data ancaman global menjadi informasi untuk mendeteksi risiko baru secara lebih cepat.

Meski demikian, penerapan security-by-design tidak cukup hanya mengandalkan satu perangkat keamanan. Platform e-commerce tetap perlu menerapkan autentikasi berlapis, pengujian rutin, pembaruan perangkat lunak, enkripsi data, pemantauan transaksi, serta prosedur respons insiden.

Ketika penggunaan AI semakin luas, persaingan tidak hanya terjadi dalam meningkatkan pengalaman berbelanja, tetapi juga dalam mendeteksi ancaman lebih cepat daripada pelaku kejahatan. Perlindungan yang dibangun sejak aplikasi dirancang menjadi penting untuk menjaga keamanan transaksi dan mempertahankan kepercayaan konsumen terhadap ekosistem e-commerce Indonesia.