iklan periskop
Industri

China Serap 80% Ekspor Sarang Walet RI, Nilainya Tembus US$172 Juta

Ekspor sarang burung walet Indonesia ke China mencapai US$172,15 juta pada semester I 2026. China masih menyerap sekitar 80% ekspor nasional

3 jam yang lalu · 5 mnt baca
China Serap 80% Ekspor Sarang Walet RI, Nilainya Tembus US$172 Juta
Proses pengolahan sarang Burung Walet PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. dok. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - China masih menjadi pasar terpenting bagi industri sarang burung walet Indonesia. Sepanjang semester I 2026, nilai ekspor komoditas tersebut ke Negeri Tirai Bambu mencapai US$172,15 juta atau sekitar Rp3 triliun, dengan volume 186,8 ton.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China menyerap sekitar 80% dari total ekspor sarang burung walet Indonesia pada periode tersebut. Meski tetap dominan, nilai ekspor ke China tercatat turun sekitar 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Besarnya ketergantungan terhadap China memperlihatkan dua sisi industri sarang walet Indonesia. Pasar tersebut menawarkan permintaan dan nilai ekonomi yang besar, tetapi sekaligus membuat eksportir nasional sangat bergantung pada keberlanjutan akses pasar serta kepatuhan terhadap standar mutu yang ditetapkan otoritas China.

Posisi China sebagai pembeli utama bukan fenomena baru. Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor sarang burung walet Indonesia ke China sepanjang 2025 mencapai US$380,20 juta, sedangkan tren ekspornya dalam lima tahun terakhir, periode 2021-2025, masih tumbuh rata-rata 2,66%.

Indonesia juga tercatat sebagai pemasok sarang burung walet terbesar di dunia pada 2025 dengan nilai ekspor US$551,56 juta dan pangsa 58,31% terhadap ekspor dunia. Malaysia berada di posisi berikutnya dengan US$215,35 juta.

Hong Kong dan Singapura Jadi Pasar Berikutnya

Meski China mendominasi, sarang burung walet Indonesia juga masuk ke sejumlah negara dan wilayah lain. Berdasarkan data BPS semester I 2026, Hong Kong menjadi tujuan terbesar berikutnya dengan nilai ekspor sekitar US$15,7 juta, disusul Singapura sekitar US$10 juta. Produk Indonesia juga dikirim ke Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jepang dan sejumlah pasar Asia lainnya.

Pemerintah berupaya memperluas pasar tanpa meninggalkan China yang masih menjadi pusat permintaan terbesar. Pada April 2026, Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan China Agricultural Wholesale Markets Association (CAWA) menggelar China-Indonesia Bird's Nest Trade Summit Forum di Jakarta. 

Forum tersebut mempertemukan eksportir Indonesia dengan pelaku pasar China untuk menjaga akses ekspor sekaligus membuka peluang transaksi baru. Kemendag melihat kebijakan China yang mendorong konsumsi domestik dapat menciptakan peluang tambahan bagi produk pertanian dan makanan bernilai tinggi asal Indonesia. 

CAWA sendiri memiliki jaringan distributor produk pertanian, perikanan dan sarang burung walet di berbagai kota besar China. Menurut Kemendag, sekitar 80% pasokan sarang walet bagi pedagang grosir utama di negara tersebut berasal dari Indonesia.

Ekspor juga terus berlangsung pada Agustus. Badan Karantina Indonesia pada 21 Agustus melepas berbagai komoditas unggulan Banten dengan nilai total Rp40,8 miliar. Dari jumlah tersebut, sarang burung walet menyumbang Rp38,7 miliar, dengan pasar tujuan kegiatan ekspor mencakup China dan Taiwan.

“Di balik nilai ekspor ini ada kerja keras petani, nelayan, pelaku usaha, eksportir, dan seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasok,” kata Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding.

Dominasi China Datang dengan Standar Ketat

Besarnya peluang ekspor juga datang bersama persyaratan yang semakin ketat.

Pada pertengahan 2026, otoritas China menyoroti kadar aluminium pada sebagian produk sarang burung walet Indonesia serta meminta penguatan sistem ketertelusuran hingga rumah walet. Hasil audit General Administration of Customs of China (GACC) juga menekankan kepatuhan perusahaan terhadap standar keamanan pangan.

Barantin pada Juli menyebut 19 dari sekitar 50 perusahaan eksportir ketika itu terkena penangguhan sementara oleh China akibat persoalan kadar aluminium. Pemerintah kemudian meningkatkan pengawasan dan evaluasi terhadap eksportir.

Dalam perkembangan berikutnya, Barantin pada 21 Agustus menyatakan 19 perusahaan dikenai penangguhan dari sisi Indonesia karena belum memenuhi standar mutu. Dari total 57 perusahaan yang terdaftar, pemerintah memilih memperketat kontrol sebelum produk bermasalah kembali dikirim ke negara tujuan.

"Yang memang nakal, terpaksa harus kita suspend. Kita suspend dari Indonesia dulu, jangan sampai di-suspend dari China, yang memang nakal," ujar Karding.

Selain pengawasan terhadap perusahaan, aturan ekspor ke China juga mewajibkan ketertelusuran produk sampai ke rumah walet. Badan Karantina telah menetapkan pedoman baru pada 2026 mengenai tindakan karantina dan monitoring pengiriman sarang burung walet menuju China.

Data Barantin pada awal Juli menunjukkan 4.204 rumah walet telah teregistrasi, sementara 104 rumah lainnya masih dalam proses registrasi. Sebanyak 50 perusahaan juga telah terdaftar dalam sistem importir pangan China, sedangkan 25 lainnya ketika itu masih menjalani proses pendaftaran.

Ekspor Bernilai Tinggi, tetapi Konsentrasi Pasar Jadi Tantangan

Sarang burung walet menjadi komoditas menarik karena volume ekspornya relatif kecil dibandingkan banyak komoditas pertanian lain, tetapi mempunyai nilai per kilogram yang tinggi.

Berdasarkan data BPS semester I tahun ini, volume 186,8 ton yang dikirim ke China sudah menghasilkan devisa lebih dari US$172 juta. Kondisi tersebut membuat kualitas, keamanan pangan dan konsistensi pasokan memiliki pengaruh besar terhadap nilai perdagangan.

Namun, pangsa China yang mencapai sekitar 80% juga menunjukkan konsentrasi pasar yang sangat tinggi. Gangguan regulasi, perubahan standar, penangguhan eksportir atau pelemahan permintaan di China dapat langsung memengaruhi kinerja industri dalam negeri.

Karena itu, strategi pemerintah tidak hanya perlu mengejar peningkatan volume ekspor ke China. Diversifikasi ke Hong Kong, Singapura, Amerika Serikat, Kanada, Australia dan pasar lain juga penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara.

Pada saat yang sama, mempertahankan China tetap menjadi prioritas karena ukuran pasarnya belum dapat digantikan dalam jangka pendek. Kementerian Perdagangan menilai kolaborasi dengan pelaku distribusi China dan peningkatan kepatuhan eksportir menjadi kunci untuk menjaga posisi Indonesia sebagai pemasok terbesar dunia.

Dengan ekspor US$172,15 juta hanya dalam enam bulan pertama 2026, sarang burung walet tetap menjadi salah satu komoditas bernilai tinggi Indonesia. Tantangannya kini bukan sekadar memproduksi lebih banyak, tetapi memastikan kualitas produk memenuhi standar pasar utama sekaligus memperluas tujuan ekspor agar industri tidak terlalu bergantung pada permintaan China.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor, china, dan Industri Sarang Walet dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.