iklan periskop
Internasional

Iran Ajukan Syarat ke AS untuk Buka Selat Hormuz, Minta Perang Diakhiri

Iran mengajukan syarat kepada AS untuk membuka Selat Hormuz, mulai penghentian perang hingga pencairan aset yang dibekukan. Negosiasi masih berlangsung

3 jam yang lalu · 5 mnt baca
Selat Hormuz
Ilustrasi Selat Hormuz. dok. Periskop.id/ AI generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Iran menetapkan sejumlah syarat kepada Amerika Serikat (AS) sebelum membuka kembali Selat Hormuz secara penuh bagi pelayaran komersial. Teheran meminta perang dengan AS dihentikan, aset Iran yang dibekukan dikembalikan, serta konflik di kawasan, termasuk Lebanon dan Gaza, diakhiri. Persyaratan tersebut telah disampaikan kepada Washington melalui mediator.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menegaskan Selat Hormuz akan tetap tertutup apabila Washington tidak mengubah kebijakannya dan menerima persyaratan yang diajukan Teheran. Pernyataan tersebut muncul ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik AS-Iran kembali menemui jalan terjal.

"Amerika harus mengakhiri perang, mengembalikan aset Iran yang dibekukan, dan perang di seluruh kawasan, termasuk Lebanon dan Gaza, harus berakhir. Syarat-syarat ini beserta ketentuan lainnya telah disampaikan kepada mereka melalui mediator," kata Rezaei, sebagaimana dikutip Press TV, Selasa (11/8/2026).

Reuters sebelumnya melaporkan Iran juga meminta berakhirnya ancaman terhadap negaranya, penghentian blokade dan sanksi, pelepasan aset Iran, serta diakhirinya serangan terhadap sekutunya di kawasan. Washington pada sisi lain menginginkan jalur pelayaran komersial kembali terbuka tanpa hambatan.

Kesepakatan Juni Belum Berhasil Akhiri Konflik

Ketegangan terbaru merupakan kelanjutan perang yang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Konflik kemudian mengganggu secara drastis pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting dunia.

Pada 18 Juni, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman berisi 14 poin. Kesepakatan sementara itu dirancang untuk menghentikan perang, memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, dan membuka kembali Selat Hormuz sembari kedua pihak merundingkan kesepakatan yang lebih permanen.

Kesepakatan tersebut sempat meningkatkan arus kapal melalui Hormuz. Badan Informasi Energi AS atau EIA pada Juli bahkan menaikkan proyeksi produksi minyak global setelah lalu lintas di selat mulai meningkat pascaperjanjian 18 Juni.

Namun, ketegangan kembali meningkat. Pada 10 Juli, Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir meskipun Washington menyetujui permintaan Teheran untuk melanjutkan pembicaraan. Serangan dan ketegangan terhadap pelayaran kemudian kembali meningkat.

Dengan demikian, informasi bahwa gencatan senjata dinyatakan tidak berlaku pada 8 Juli perlu diluruskan. Laporan Reuters mencatat Trump secara terbuka menyatakan “cease fire is over” pada 10 Juli 2026.

Iran dan Oman Bahas Skema Baru Selat Hormuz

Di tengah kebuntuan AS-Iran, Oman mengambil peran penting dalam negosiasi pengaturan pelayaran Hormuz. Iran dan Oman disebut telah mendekati kesepakatan mengenai jalur baru bagi kapal yang melintas selat tersebut. Namun, Teheran menegaskan kesepakatan teknis dengan Oman saja tidak otomatis membuat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sebelumnya mengatakan kedua negara sudah "sangat dekat" mencapai kesepakatan mengenai rute pelayaran baru. Akan tetapi, pembukaan selat tetap dikaitkan Iran dengan sejumlah tuntutan terhadap AS.

Pemerintah Oman menyebut perundingan berlangsung positif dan konstruktif serta meminta semua pihak menghindari tindakan yang dapat merusak kemajuan negosiasi. Sementara pejabat AS mengatakan Washington bersedia mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah pelayaran komersial melalui Hormuz kembali berjalan tanpa hambatan dan Iran memenuhi komitmennya.

Namun, jalan menuju kesepakatan kembali rumit setelah Trump mengajukan tuntutan balasan. Presiden AS meminta Iran memberikan kompensasi atas korban yang menurutnya disebabkan perang, serangan, dan aksi Iran selama beberapa dekade. Reuters menilai tuntutan baru itu berpotensi mempersulit pembicaraan mengenai pembukaan Hormuz.

Selat Hormuz Jadi Titik Krusial Pasokan Energi Dunia

Perebutan kendali dan keamanan Selat Hormuz berdampak jauh melampaui Iran dan Amerika Serikat. Sebelum perang pecah, jalur laut sempit yang memisahkan Iran dengan Oman tersebut membawa sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia, menjadikannya salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global.

Data EIA menunjukkan sekitar 20% perdagangan LNG global melewati Selat Hormuz sebelum konflik, dengan sebagian besar berasal dari Qatar. Ketika selat efektif tertutup setelah pecahnya perang, lebih dari 10 miliar kaki kubik pasokan LNG per hari terdampak. Harga LNG di Eropa dan Asia kemudian meningkat tajam.

Gangguan juga berdampak pada produksi minyak negara-negara Teluk. Data EIA menunjukkan arus minyak melalui Hormuz yang sebelumnya berada di kisaran lebih dari 20 juta barel per hari turun tajam setelah konflik, memaksa sejumlah negara produsen mengurangi produksi karena keterbatasan akses ekspor.

Ketegangan di selat kembali berdampak pada pasar pada pekan ini. Prospek tercapainya kesepakatan AS-Iran yang semakin redup ikut menekan bursa negara-negara Teluk, sementara harga minyak Brent berada di sekitar US$87 per barel pada Selasa.

AS dan Iran Masih Saling Tekan

Washington dan Teheran sama-sama menggunakan jalur pelayaran sebagai instrumen tekanan. Iran mempertahankan pembatasan di Hormuz, sedangkan AS kembali menerapkan blokade terhadap kapal yang masuk maupun keluar dari pelabuhan Iran setelah konflik memanas kembali.

Situasi bahkan kembali memanas pada Selasa ketika militer AS menembaki sebuah kapal berbendera Panama di Teluk Oman yang dituduh berupaya menembus blokade pelabuhan Iran. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, tetapi peristiwa itu menunjukkan betapa rapuhnya situasi keamanan pelayaran di kawasan.

Di sisi lain, Rezaei menegaskan pembukaan kembali Hormuz tidak dapat dipisahkan dari penyelesaian konflik secara lebih luas. Bagi Teheran, kesepakatan bukan hanya mengenai teknis pelayaran, melainkan juga penghentian perang dan pelepasan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Karena itu, peluang pembukaan penuh Selat Hormuz kini sangat bergantung pada kemampuan mediator mempertemukan dua paket tuntutan yang berbeda. Iran meminta penghentian perang, pelepasan aset, pengurangan tekanan ekonomi dan berakhirnya konflik kawasan, sedangkan AS menuntut jaminan kebebasan navigasi serta mengaitkan pencabutan blokade dengan pemenuhan komitmen Iran.

Selama kesepakatan belum tercapai, ketidakpastian di Selat Hormuz berpotensi terus menjadi risiko utama bagi perdagangan energi, harga minyak dan stabilitas ekonomi global.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Donald Trump, iran, Amerika Serikat, dan Selat Hormuz dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.