iklan periskop
Internasional

Rusia dan Ukraina Bertukar Ratusan Tawanan Perang, Uni Emirat Arab Jadi Penengah

Rusia dan Ukraina sepakat menukar masing-masing 103 tawanan perang lewat penanganan Uni Emirat Arab di tengah mandeknya dialog damai kedua negara.

5 hari yang lalu · 2 mnt baca
Rusia dan Ukraina Bertukar Ratusan Tawanan Perang, Uni Emirat Arab Jadi Penengah
Ilustrasi tentara Ukraina usai dibebaskan oleh Rusia. (AI)
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pemerintah Rusia dan Ukraina menyepakati proses pertukaran ratusan tentara yang menjadi tawanan perang kedua belah pihak. Masing-masing negara menyerahkan sebanyak 103 personel militer.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi pembebasan para tentara tersebut langsung ke publik. Menurutnya, pemulangan ini menjadi momen penting bagi perjuangan kemanusiaan negaranya.

"Hari ini, 103 pejuang Ukraina kembali ke tanah air dari penawanan Rusia," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dilansir AFP, Kamis (20/8).

Zelensky menjelaskan bahwa deretan pejuang yang bebas mencakup para penjaga wilayah Mariupol. Selain itu, beberapa anggota pasukan yang ditangkap di tujuh titik garis depan turut dipulangkan.

Upaya pencarian dan pemulangan warga dipastikan bakal terus berlanjut tanpa henti. Menurut Zelensky, pemerintahnya tidak akan melupakan para pejuang yang masih tertahan di markas lawan.

"Kami mengingat setiap pria dan wanita yang masih berada dalam penawanan. Kami melakukan segala upaya untuk membawa pulang seluruh rakyat kami," tambah Zelensky.

Pihak Kementerian Pertahanan Rusia turut membenarkan keberhasilan proses diplomasi pembebasan tawanan ini. Lembaga tersebut mencatat jumlah personel militer yang diserahkan kedua negara berada pada angka seimbang.

Para tentara Moskow yang baru lepas kini disiagakan di wilayah Belarus. Menurut keterangan resmi militer, mereka dijadwalkan terbang ke Rusia guna menjalani perawatan medis serta rehabilitasi psikologis.

Langkah pertukaran tentara serta pemulangan jenazah menjadi bentuk kerja sama langka kedua negara. Interaksi terbatas ini terus dipertahankan sejak Moskow memulai operasi militer pada Februari 2022.

Proses diplomasi tingkat tinggi ini terlaksana berkat bantuan intensif dari pihak luar. Kementerian Pertahanan Rusia mengungkap bahwa Uni Emirat Arab bertindak sebagai penengah utama dalam proses negosiasi.

Negara Teluk tersebut dinilai konsisten menjalankan peran mediasi sejak awal pertempuran pecah. Terhitung puluhan agenda pembebasan tahanan antara Moskow dan Kyiv berhasil difasilitasi oleh mereka.

Kondisi jalur diplomasi politik kedua belah pihak sendiri saat ini masih mengalami jalan buntu. Perundingan resmi untuk menghentikan peperangan secara permanen praktis tidak menunjukkan kemajuan berarti.

Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan situasi kemanusiaan yang makin memburuk. Menurut PBB, angka kematian warga sipil melonjak drastis hingga menyentuh level tertinggi sejak awal invasi.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai rusia, Ukraina, dan perang dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.