iklan periskop
Internasional

Trump Deklarasikan 'Economic D-Day', Perang Ekonomi terhadap Iran, Negara yang Bantu Ikut Diancam

Donald Trump mengancam perang ekonomi dan isolasi besar-besaran terhadap Iran. Negara yang membantu Teheran juga terancam konsekuensi ekonomi dari AS

5 jam yang lalu · 6 mnt baca
donald trump, selat hormuz, iran, blokade
Presiden AS Donald Trump dalam participates in a TrumpRx event, (18/5/2026). dok. Gedung Putih
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan mengumumkan apa yang disebutnya sebagai "ECONOMIC D-DAY", berupa perang ekonomi dan isolasi dalam skala besar. Ancaman itu tidak hanya ditujukan kepada Teheran, tetapi juga negara lain yang memberi bantuan ekonomi kepada Iran. Di tengah eskalasi tersebut, Iran dilaporkan mulai mengkaji opsi serangan terhadap aset militer AS di Eropa apabila Washington kembali meningkatkan operasi militernya.

Pengumuman Trump disampaikan melalui Truth Social Rabu (19/8/2026) waktu setempat, setelah tenggat 60 hari untuk mencapai kesepakatan AS-Iran berakhir tanpa terobosan. Reuters mengonfirmasi Trump mengancam konsekuensi ekonomi terhadap negara mana pun yang memberikan 'lifeline' atau bantuan kepada Iran, meski Gedung Putih belum merinci bentuk tindakan ekonomi yang akan digunakan.

"Ini akan menjadi Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Trump di Truth Social, seraya menuduh Iran gagal memanfaatkan kesempatan untuk mencapai kesepakatan.

Trump juga menggambarkan kondisi militer dan ekonomi Iran telah melemah akibat konflik yang berlangsung hampir enam bulan.

"Angkatan laut mereka sudah lenyap, angkatan udara mereka hancur, pabrik-pabrik militer mereka kini menjadi puing-puing, mata uang mereka tidak bernilai lagi, dan negara mereka sedang berada di ujung tanduk," ujarnya.

Namun, klaim Trump terkait kondisi militer Iran tersebut merupakan pernyataan politik dari pihak AS dan tidak seluruh rinciannya dapat diverifikasi secara independen.

Negara yang Bantu Iran Ikut Diancam

Bagian paling signifikan dari pengumuman Trump adalah ancaman terhadap negara ketiga. Washington memberi sinyal akan memperluas tekanan dari sanksi langsung terhadap Iran menjadi konsekuensi ekonomi bagi negara, perusahaan, lembaga keuangan, bahkan fasilitas transportasi yang membantu Teheran.

"Hari ini, saya juga mengumumkan bahwa negara manapun yang mengizinkan lembaga keuangan, bisnis, bandara, atau entitas pemerintahnya untuk memberikan bantuan dalam jenis apa pun kepada Iran akan menghadapi Konsekuensi Ekonomi yang sangat besar," imbuh Trump.

Reuters mencatat Trump belum menyebut negara mana yang secara khusus akan menjadi sasaran maupun instrumen ekonomi yang akan digunakan. Pernyataan tersebut karena itu belum dapat dipastikan berarti pemberlakuan sanksi atau tarif baru secara otomatis.

Salah satu negara yang bakal menjadi perhatian adalah China. Berdasarkan data Kpler yang dikutip Reuters, lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim melalui laut pada 2025 dibeli China. Penerapan tekanan ekonomi terhadap Beijing dapat menjadi jauh lebih kompleks karena besarnya hubungan perdagangan China-AS serta posisi China sebagai pemasok penting mineral tanah jarang.

Di kawasan Teluk, Uni Emirat Arab lebih dahulu mengumumkan penghentian seluruh aktivitas perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan selanjutnya. Langkah itu diumumkan setelah UEA mengatakan mendeteksi dua rudal dari Iran yang jatuh ke laut, sementara Teheran membantah tuduhan tersebut.

tentara bayaran, mata-mata, jaringan intelejen, Iran, AS, israel,
Ilustrasi - Penangkapan 17 orang di Provinsi Ilam, Iran barat, yang dituduh terlibat dalam jaringan sabotase terkait Amerika Serikat dan Israel. dok. Periskop.id/ AI Generated Image

 

Ekonomi Iran Sudah Tertekan

Ancaman Trump muncul ketika perekonomian Iran telah menghadapi tekanan berat akibat perang, sanksi, pelemahan mata uang, hingga terganggunya perdagangan.

Data Statistical Centre of Iran yang dikutip Reuters menunjukkan, inflasi tahunan Iran mencapai 66% pada Juli 2026, sementara harga konsumen naik 87,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Inflasi pangan bahkan mencapai 128% yoy.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya mengakui tekanan terhadap ekonomi negaranya meningkat karena pendapatan turun, penjualan minyak melemah, aktivitas bisnis terganggu, dan jalur distribusi menjadi lebih mahal akibat perang.

Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan tekanan ekonomi maupun militer tidak akan membuat Teheran menyerah. Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Mohammad Mokhber mengatakan Iran tetap membuka pintu dialog, tetapi tidak menyamakan negosiasi dengan penyerahan diri.

Iran Disebut Pertimbangkan Target AS di Eropa

Ketegangan juga berpotensi melebar secara geografis. Financial Times melaporkan Iran tengah mengkaji sejumlah opsi untuk menyerang aset militer AS di Eropa apabila Trump kembali meningkatkan serangan terhadap Iran.

Mengutip dua sumber yang disebut dekat dengan pemerintah Iran, Financial Times melaporkan fasilitas AS di Eropa tenggara, termasuk Bulgaria, menjadi salah satu opsi yang dipelajari. Siprus juga disebut masuk pertimbangan karena keberadaan pangkalan militer Inggris di pulau tersebut. Laporan itu masih berdasarkan sumber anonim dan bukan pengumuman resmi mengenai keputusan serangan Iran.

Kekhawatiran tersebut memiliki konteks sebelumnya. Pada Juli 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah memprotes keputusan Bulgaria yang mengizinkan penempatan sementara pesawat militer AS di Pangkalan Udara Bezmer. Parlemen Bulgaria menyetujui penempatan maksimal delapan pesawat tanker KC-135 AS dan 250 personel.

Iran saat itu memperingatkan negara-negara yang wilayahnya digunakan untuk mendukung operasi militer AS dapat menghadapi konsekuensi.

Araqchi juga menghubungi pemerintah Siprus dan meminta pangkalan militer asing di wilayah tersebut tidak digunakan melawan Iran. Siprus menjadi lokasi dua pangkalan militer berdaulat Inggris, termasuk RAF Akrotiri yang sebelumnya pernah terkena serangan pesawat nirawak pada Maret 2026.

Salah satu sumber yang dikutip Financial Times menggambarkan, kemungkinan respons Iran apabila Washington memperluas serangan. "Jika AS bertindak terlalu jauh, Iran akan mempertahankan diri dengan cara apa pun, melampaui kawasan dan menyerang Eropa juga," kata sumber tersebut.

Selain target militer, Financial Times melaporkan, Iran juga mengkaji kemungkinan menjadikan kabel serat optik bawah laut di Selat Hormuz sebagai bagian dari opsi jika terjadi eskalasi lebih jauh. Risiko terhadap infrastruktur tersebut sebelumnya sudah menjadi perhatian karena Selat Hormuz dilewati sejumlah jaringan kabel komunikasi internasional.

Reuters mencatat kabel bawah laut membawa sekitar 99% lalu lintas internet dunia, menurut International Telecommunication Union (ITU). Sejumlah kabel yang melintasi kawasan Hormuz menghubungkan Asia Tenggara dan India dengan Timur Tengah hingga Eropa, sehingga gangguan dapat berdampak pada konektivitas, perdagangan elektronik, dan transaksi keuangan.

Perundingan AS-Iran Buntu

Eskalasi terbaru terjadi setelah tenggat perundingan selama 60 hari dalam memorandum kesepahaman AS-Iran berakhir pada 17 Agustus 2026 tanpa kesepakatan akhir.

MoU yang disepakati pada Juni sebelumnya mengamanatkan penghentian operasi militer dan memberi waktu maksimal 60 hari untuk merundingkan penyelesaian konflik serta persoalan program nuklir Iran. Namun, kesepakatan sementara itu dengan cepat mengalami keretakan dan kedua pihak saling menuding melakukan pelanggaran.

Trump pada 18 Agustus bahkan mengatakan, tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung ataupun dijadwalkan dengan Iran. Pernyataan itu berbeda dengan komentar utusan khusus Jared Kushner yang mengatakan komunikasi dengan Teheran masih berlangsung.

Salah satu sumber sengketa terbesar adalah Selat Hormuz. Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026, jalur tersebut dilalui pengiriman energi setara sekitar seperlima konsumsi minyak global. Iran menyatakan selat masih ditutup, sedangkan Trump bersikeras jalur itu telah terbuka.

Data Kpler memperlihatkan lalu lintas masih sangat rendah. Pada Rabu (19/8), hanya terdapat sembilan kapal komoditas yang tercatat melintasi Hormuz, sama dengan sehari sebelumnya. Sebagian kapal memang dapat berlayar dengan transponder dimatikan sehingga tidak seluruh pergerakan tercatat.

Ketidakpastian tersebut ikut menjaga harga minyak pada level tinggi. Pada perdagangan Kamis (20/8), minyak Brent untuk pengiriman Oktober berada di sekitar US$91,87 per barel, sedangkan WTI September sekitar US$86 per barel. Keduanya mencatat kenaikan untuk hari kelima berturut-turut.

Dengan ancaman "Economic D-Day", strategi Washington kini terlihat semakin menitikberatkan tekanan ekonomi untuk memaksa perubahan sikap Teheran. Namun, sejauh ini Trump belum menjelaskan bentuk konkret, waktu pelaksanaan, maupun negara yang akan terkena langkah baru tersebut. Di sisi lain, laporan bahwa Iran mempertimbangkan respons hingga ke Eropa menunjukkan risiko konflik tidak hanya menyangkut Iran dan AS, tetapi juga dapat semakin meluas ke negara sekutu serta perdagangan dan energi global.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Donald Trump, Amerika Serikat, ancaman Trump, dan Ekonomi global dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.