Internasional

Banjir Nepal, 51 WNI di Nepal Dipastikan Aman

Kemlu memastikan 51 WNI di Nepal dalam keadaan baik setelah banjir bandang 26 Agustus 2026. Operasi pencarian berlanjut saat korban tewas menembus 900 orang

1 hari yang lalu · 5 mnt baca
Banjir Nepal, 51 WNI di Nepal Dipastikan Aman
Foto udara suasana rumah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Nuwakot, Nepal, Kamis (27/8/2026). dok. Xinhua/Sulav Shrestha
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan warga negara Indonesia (WNI) yang terdata di Nepal berada dalam kondisi baik setelah banjir bandang dan longsor dahsyat menerjang negara Himalaya tersebut pada Rabu (26/8/2026). Kepastian itu muncul ketika operasi pencarian masih berlangsung dan jumlah korban tewas telah melampaui 900 orang.

Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI Heni Hamidah mengatakan pemerintah terus memantau keberadaan warga Indonesia setelah bencana menghantam sejumlah distrik di sepanjang aliran Bhote Koshi dan Trishuli.

"Pantauan terhadap kondisi WNI seluruhnya dalam keadaan baik," kata Heni kepada media secara daring, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Berdasarkan data yang disampaikan Kemlu, terdapat 45 WNI residen dan enam wisatawan Indonesia yang dipantau, atau total 51 orang. Enam wisatawan tersebut berada di kawasan Pokhara dan sejauh ini tidak dilaporkan terdampak langsung bencana.

Sebelumnya, sehari setelah bencana, Kemlu juga telah menyatakan belum memperoleh laporan mengenai WNI yang menjadi korban. Pemantauan dilakukan KBRI Dhaka dan KBRI Beijing melalui koordinasi dengan jejaring WNI, otoritas setempat, serta Konsul Kehormatan RI di Kathmandu.

Data Korban Berubah Cepat, Lebih dari 900 Orang Tewas

Data yang disampaikan Heni dalam keterangannya mencatat 2.426 orang masih hilang atau belum dapat dihubungi, 4.451 orang berhasil dievakuasi, dan 101 orang menjalani perawatan di rumah sakit.

Namun, angka tersebut merupakan gambaran pada tahap sebelumnya dari operasi penyelamatan. Situasi di lapangan berubah cepat seiring ditemukannya korban baru dan pembaruan hasil verifikasi.

Kementerian Luar Negeri Nepal pada 31 Agustus melaporkan 903 jenazah telah ditemukan dan sekitar 4.200 orang masih belum diketahui keberadaannya. Pemerintah Nepal menegaskan angka korban, orang hilang, dan kerusakan masih dapat berubah selama operasi pencarian berlangsung.

Radio Nepal yang mengutip National Disaster Risk Reduction and Management Authority (NDRRMA) mencatat pada hari yang sama sebanyak 903 orang meninggal, 4.347 orang masih hilang, sedangkan jumlah warga yang berhasil diselamatkan telah mencapai 10.459 orang. Lebih dari 20.800 personel keamanan dikerahkan dalam operasi tersebut.

Reuters juga melaporkan tim penyelamat kini memberikan perhatian besar pada sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air di Rasuwa dan Nuwakot. Ratusan pekerja dikhawatirkan terjebak atau hilang di terowongan pembangkit akibat timbunan lumpur dan material banjir.

Ratusan Wisatawan Asing Sempat Hilang Kontak

Bencana Nepal terjadi di kawasan yang juga dilalui wisatawan dan peziarah internasional. Gangguan jalan, listrik, serta jaringan telekomunikasi membuat ratusan warga asing sempat tidak dapat dihubungi.

Data Nepal Tourism Board pada 29 Agustus mencatat 184 wisatawan asing telah diselamatkan, tiga lainnya berhasil kembali berkomunikasi dengan petugas, sementara 420 masih belum dapat dihubungi ketika itu. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk India, China, Korea Selatan, Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Jumlah itu terus berubah seiring berlangsungnya pencarian. Pada 30 Agustus, pemerintah Nepal melaporkan lebih dari 261 warga asing telah diselamatkan, sedangkan lebih dari 400 warga asing masih tercatat hilang.

Kemlu RI sejauh ini tidak menemukan warga Indonesia dalam daftar korban maupun wisatawan asing yang masih hilang tersebut.

Banjir Berawal dari Runtuhan Es dan Batu di Himalaya

Banjir bandang terjadi pada pagi 26 Agustus dan bergerak dengan cepat melalui sistem Sungai Lhende Khola, Bhote Koshi hingga Trishuli. Rasuwa, Nuwakot, Dhading dan beberapa distrik di bagian hilir menjadi wilayah yang mengalami kerusakan berat.

WHO menyebut informasi awal menunjukkan banjir di Rasuwa dipicu lonjakan air mendadak dari kawasan perbatasan Tibet, yang diduga berkaitan dengan longsoran es di hulu dan pembendungan sementara Sungai Lhende. Pemerintah dan ilmuwan masih melakukan kajian terhadap rangkaian pasti pemicu bencana.

Analisis citra satelit yang dikutip Reuters menunjukkan bagian bawah gletser di kawasan pegunungan Langtang runtuh lalu jatuh ratusan meter ke lembah. Massa es dan batu kemudian berkembang menjadi aliran material berkecepatan tinggi yang masuk ke sistem sungai dan memicu banjir dahsyat.

Sejumlah ilmuwan memperkirakan bagian gletser tersebut terlepas pada ketinggian sekitar 5.200 meter, lalu jatuh sekitar 1,2 kilometer secara vertikal. Namun, penelitian mengenai faktor yang menyebabkan runtuhan awal tersebut masih berlangsung.

Derasnya aliran air, lumpur, batu, dan es menghancurkan permukiman, jalan, jembatan, fasilitas perbatasan hingga pembangkit listrik tenaga air.

Reuters melaporkan bencana tersebut juga menghantam infrastruktur energi yang penting bagi Nepal. Sejumlah proyek PLTA di kawasan Trishuli mengalami kerusakan, sementara tim dari Nepal, India, China dan Korea Selatan terlibat dalam upaya pencarian pekerja yang terjebak.

Pemerintah Nepal Kerahkan Operasi Besar

Besarnya skala bencana membuat Pemerintah Nepal menetapkan sejumlah wilayah sebagai kawasan terdampak krisis bencana. WHO menyebut 15 pemerintah lokal di distrik terdampak memperoleh status tersebut selama tiga bulan.

Bantuan internasional juga mulai masuk. WHO mengalokasikan US$150.000 dari dana darurat kesehatan regional serta mengirim perlengkapan medis yang dapat membantu kebutuhan sekitar 10.000 orang selama tiga bulan.

Sementara Pemerintah Nepal mengerahkan puluhan ribu personel tentara, polisi dan aparat keamanan serta helikopter untuk menjangkau wilayah yang terisolasi. Bantuan tenaga ahli juga didatangkan untuk pencarian korban yang diduga terjebak di terowongan proyek PLTA.

WNI Diminta Tetap Waspada

Meski seluruh WNI yang dipantau saat ini dalam kondisi baik, kewaspadaan masih diperlukan karena pencarian korban belum selesai dan sejumlah jalur transportasi terdampak.

Kemlu sebelumnya memberikan perhatian khusus terhadap WNI yang bepergian sebagai wisatawan, terutama mereka yang merencanakan aktivitas pendakian. Pemerintah meminta warga Indonesia menghindari lokasi terdampak, memantau perkembangan cuaca dan kondisi akses jalan, serta mengikuti instruksi pemerintah Nepal.

Kepastian bahwa 51 WNI berada dalam keadaan baik menjadi kabar melegakan di tengah besarnya skala tragedi. Namun, bagi Nepal, fase darurat masih jauh dari selesai. Ribuan orang masih dicari, ratusan warga asing sempat kehilangan kontak, sementara petugas terus berpacu membuka akses menuju daerah dan terowongan yang tertimbun material banjir.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Nepal, WNI, dan Bencana Alam dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.