Periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp112,67 triliun hingga 30 Juni 2026. Realisasi tersebut diraih melalui 126 aksi korporasi sepanjang paruh pertama tahun ini.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi merinci, dana yang berhasil terkumpul berasal dari berbagai instrumen, mulai dari IPO, rights issue, hingga penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS).
"Hingga 30 Juni 2026 telah terealisasi penghimpunan dana di pasar modal sebesar Rp112,67 triliun melalui 126 penawaran umum," ujar Hasan dalam paparan OJK, Selasa (7/7).
Dari sisi IPO, tujuh emiten berhasil mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan total nilai Rp2,16 triliun. Sementara itu, jalur rights issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) menyumbang Rp12,70 triliun dari 12 aksi korporasi.
Untuk penerbitan EBUS, Hasan menyebutkan dua kategori pencatatan. Penerbitan perdana EBUS mengumpulkan Rp8,30 triliun melalui 9 penawaran umum, sedangkan penerbitan lanjutan melalui skema penawaran umum berkelanjutan (PUB) Tahap II, III, dan seterusnya membukukan nilai jauh lebih besar, yakni Rp89,51 triliun dari 98 penerbitan.
Besarnya kontribusi PUB lanjutan itu menjadikan instrumen obligasi dan sukuk sebagai penyumbang terbesar penghimpunan dana pasar modal semester I/2026, melampaui IPO maupun rights issue.
Hasan menambahkan, aktivitas penghimpunan dana diperkirakan masih berlanjut di paruh kedua 2026. OJK mencatat ada 11 aksi korporasi yang masih masuk dalam daftar antrean (pipeline) dengan potensi nilai total Rp15,84 triliun.
Pipeline tersebut mencakup 2 rencana IPO senilai Rp140 miliar, 5 rights issue senilai Rp10,45 triliun, 2 penerbitan EBUS senilai Rp2,50 triliun, serta 2 penerbitan lanjutan EBUS senilai Rp2,75 triliun.
Capaian penghimpunan dana ini terjadi di tengah tekanan yang melanda pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 34,74% secara year-to-date hingga akhir Juni 2026, ke level 5.643,19.
Kondisi tersebut mencerminkan pasar modal Indonesia tetap aktif sebagai kanal pendanaan korporasi, meski kinerja harga saham di bursa mengalami koreksi cukup dalam sepanjang semester pertama tahun ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar