iklan periskop
Kebudayaan

Cagar Budaya NTT Relatif Aman Pascagempa M7,7, Kemenbud Intensifkan Pemantauan

Kemenbud memastikan cagar budaya dan rumah adat NTT relatif aman pascagempa M7,7. BPK terus memantau aset budaya di kawasan terdampak

10 jam yang lalu · 4 mnt baca
Cagar Budaya NTT Relatif Aman Pascagempa M7,7, Kemenbud Intensifkan Pemantauan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat Taklimat Media Kementerian Kebudayaan, di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta. Periskop/Mila Yuliana.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) memastikan pemantauan terhadap cagar budaya, rumah adat, dan aset kebudayaan di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dilakukan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026). Hingga Minggu (16/8/2026), belum terdapat laporan kerusakan signifikan pada rumah adat maupun cagar budaya di sekitar kawasan terdampak.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan pemantauan dilakukan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) yang berada di wilayah NTT. Pemeriksaan tetap dilanjutkan karena dampak gempa tersebar di sejumlah kabupaten dan aktivitas gempa susulan masih berlangsung.

“Kita tentu sangat prihatin dan kita berduka cita saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur mengalami musibah gempa, kita terus memonitor melalui Balai Pelestarian Kebudayaan yang ada di sana. Sejauh ini, kita sejak kemarin juga memonitor terutama yang terkait dengan bidang kebudayaan,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Minggu.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI merupakan unit pelaksana teknis yang wilayah kerjanya mencakup Provinsi NTT. Tugasnya antara lain menjalankan pelestarian cagar budaya dan objek pemajuan kebudayaan di daerah, sehingga menjadi salah satu unsur penting dalam asesmen aset budaya setelah bencana.

Rumah Adat Belum Dilaporkan Rusak

Berdasarkan laporan sementara yang diterima Kemenbud, kerusakan akibat gempa lebih banyak ditemukan pada rumah penduduk dan sejumlah bangunan lainnya. Rumah-rumah adat yang dipantau sejauh ini belum dilaporkan mengalami kerusakan, meski banyak di antaranya menggunakan material kayu dan berada di kawasan yang turut merasakan guncangan.

Fadli menegaskan kondisi tersebut masih merupakan hasil pemantauan awal. Pemeriksaan akan berlanjut untuk memastikan tidak terdapat kerusakan yang baru teridentifikasi setelah asesmen lapangan dilakukan lebih menyeluruh.

“Nanti kalau ada laporan tambahan, nanti bisa kita lihat. Cagar-cagar budaya juga yang ada di sekitar lokasi gempa juga relatif aman,” kata dia.

Pemantauan berkelanjutan menjadi penting karena aktivitas kegempaan di Flores belum sepenuhnya mereda. BMKG mencatat gempa utama M7,7 terjadi pukul 04.58 WIB dengan kedalaman 15 kilometer dan pusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. Gempa dipicu mekanisme sesar naik dan sempat memunculkan peringatan dini tsunami sebelum dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB.

Pada Minggu sore, BMKG masih merekam gempa susulan di kawasan tersebut. Salah satunya gempa magnitudo 5,1 pada pukul 17.31 WIB yang berpusat di laut sekitar utara Ruteng, Manggarai, sehingga masyarakat tetap diminta berhati-hati terhadap kemungkinan guncangan susulan.

Pelestarian Aset Budaya Jadi Perhatian Kemenbud

Perlindungan aset budaya di daerah sebelumnya juga menjadi perhatian Kemenbud. Pada Mei 2026, Fadli meminta pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota memperbaiki pengelolaan museum maupun cagar budaya dengan melibatkan pemerintah pusat dan berbagai pemangku kepentingan.

"Kita juga mendorong pihak pemerintah provinsi, kabupaten, kota, untuk berbenah dengan aset-aset budayanya ya, berbenah dengan museum, dengan cagar-cagar budayanya," kata Fadli.

Sepanjang 2025, Kementerian Kebudayaan tercatat merevitalisasi 152 situs cagar budaya dan museum di berbagai wilayah Indonesia. Sementara 18 museum dan 34 situs cagar budaya yang dikelola unit pelaksana teknis kementerian mencatat total 4,32 juta kunjungan sepanjang tahun tersebut.

Data tersebut menunjukkan pelindungan cagar budaya tidak berhenti pada inventarisasi, tetapi mencakup perawatan dan revitalisasi. Pascabencana di NTT, asesmen kondisi fisik menjadi penting untuk menentukan apakah diperlukan tindakan pengamanan, perbaikan, atau rehabilitasi terhadap aset budaya yang terdampak.

Pemerintah Mulai Masuk Tahap Pemulihan

Di luar sektor kebudayaan, pemerintah pusat juga mengerahkan bantuan dan pejabat terkait ke NTT untuk mempercepat penanganan korban, pengungsi, serta pemulihan fasilitas dasar. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memberangkatkan 50.000 paket sembako untuk masyarakat terdampak.

Fadli mengapresiasi kecepatan pengerahan bantuan tersebut.

“Terutama instruksi langsung dari Presiden itu luar biasa cepat. Langsung ada 50 ribu paket sembako,” kata dia.

Fadli berharap kondisi kegempaan segera mereda sehingga pemerintah dapat beralih secara bertahap dari fase tanggap darurat menuju rehabilitasi, termasuk apabila nantinya ditemukan aset kebudayaan yang membutuhkan pemulihan.

“Mudah-mudahan juga tidak ada musibah lanjutan, susulan dan saya kira bisa tahap rehabilitasi,” tambah Fadli Zon.

Kemenbud memastikan pemutakhiran kondisi cagar budaya dan rumah adat akan disampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan. Dengan gempa susulan yang masih terjadi, pemantauan terhadap bangunan bersejarah dan aset budaya di kawasan terdampak masih akan terus dilakukan.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Fadli Zon, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), cagar budaya, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.