Periskop.id – Museum Sriwijaya Dharmakirti resmi dibuka di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi, Jambi. Museum tersebut tidak hanya dirancang sebagai tempat menyimpan dan memamerkan artefak, tetapi juga diproyeksikan menjadi laboratorium riset lintas disiplin untuk mengungkap sejarah kawasan Muarajambi dan peradaban Sriwijaya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, keberadaan museum harus menghubungkan upaya pelindungan peninggalan masa lalu dengan pengembangan pengetahuan, pendidikan, pariwisata, serta kesejahteraan masyarakat di masa depan.
"Mari kita jadikan Museum Sriwijaya Dharmakirti ini sebagai jembatan antara ingatan masa lalu dan juga rancangan masa depan, antara pengetahuan lokal dan percakapan global, serta antara perlindungan warisan budaya dan pemanfaatan untuk kesejahteraan masyarakat," kata Fadli saat peresmian di KCBN Muarajambi, Jumat (31/7).
Museum tersebut juga diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jambi, pemerintah kabupaten dan kota, perguruan tinggi, komunitas budaya, serta sektor swasta. Fadli sebelumnya menyebut Museum Sriwijaya Dharmakirti disiapkan sebagai pusat edukasi dan penyusunan narasi peradaban Sriwijaya.
Riset Tidak Hanya Berfokus pada Arkeologi
Pengembangan penelitian di museum akan melibatkan berbagai bidang, mulai dari arkeologi, sejarah, konservasi, bahasa, digitalisasi koleksi, hidrologi, hingga ekonomi budaya.
Pendekatan hidrologi dinilai relevan karena kompleks percandian Muarajambi berkembang di sekitar aliran Sungai Batanghari. Kajian mengenai kanal, kolam, sumber air, pola permukiman, dan bentang alam dapat membantu peneliti memahami kehidupan masyarakat yang dahulu menempati kawasan tersebut.
Sementara itu, teknologi digital dapat digunakan untuk mendokumentasikan koleksi, membuat rekonstruksi struktur kuno, serta memperluas akses masyarakat terhadap hasil penelitian. Museum diharapkan tidak hanya menghadirkan benda dalam ruang pamer, tetapi juga menjelaskan hubungan antara artefak, bangunan, lingkungan, dan perjalanan masyarakat di kawasan itu.
Museum Sriwijaya Dharmakirti memiliki koleksi berupa belasan arca, benda logam dan batu, keramik, bata bergambar, belanga, serta paku logam yang ditemukan di kawasan Muarajambi. Sejumlah benda dari wilayah lain di Provinsi Jambi juga dihimpun untuk melengkapi cerita sejarah yang ditampilkan.
Berdiri di Kawasan Arkeologi Seluas Hampir 4.000 Hektare
Kawasan Percandian Muarajambi merupakan kumpulan situs arkeologi berupa bangunan bata, kompleks percandian, dan jejak permukiman kuno yang mencakup sekitar 3.981 hektare. Situs-situs tersebut tersebar di dua kecamatan dan delapan desa di Kabupaten Muaro Jambi.
Pemerintah Provinsi Jambi mencatat kawasan itu menyimpan lebih dari 80 reruntuhan candi dan sisa permukiman dari rentang abad IX hingga XV. Muarajambi juga diyakini pernah menjadi salah satu pusat pendidikan dan pengembangan agama Buddha pada masa kejayaan Sriwijaya.
Kawasan tersebut kembali dimasukkan ke Daftar Tentatif Warisan Dunia UNESCO pada 15 April 2025. Status daftar tentatif berarti Muarajambi belum ditetapkan sebagai Warisan Dunia, tetapi telah masuk daftar situs yang dapat diajukan Indonesia untuk menjalani proses nominasi dan evaluasi lebih lanjut.
Pembangunan museum dilakukan di zona pengembangan KCBN Muarajambi. Sebelum konstruksi dimulai, tim melakukan uji arkeologi tanah untuk memastikan bangunan tidak menindih atau merusak struktur cagar budaya yang masih tersimpan di bawah permukaan.
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan mengatakan pelestarian kawasan dilakukan secara menyeluruh sejak revitalisasi bergulir pada 2022. Menurutnya, museum harus menjadi bagian dari upaya menyusun perjalanan peradaban bangsa, bukan sekadar bangunan baru di kawasan cagar budaya.
Dana Indonesia Raya Siapkan Rp500 Miliar
Kementerian Kebudayaan juga membuka peluang pembiayaan penelitian dan kegiatan kebudayaan melalui Dana Indonesia Raya yang bersumber dari hasil pengelolaan Dana Abadi Kebudayaan.
"Kita punya pembiayaan namanya Dana Indonesia Raya. Tahun ini kita manfaatkan sebesar Rp500 miliar, sekarang dalam proses akhir pengumuman. Jambi dapat cukup banyak," kata Fadli Zon.
Pada 2026, pemerintah mengalokasikan Rp500 miliar melalui Dana Indonesia Raya untuk mendukung pelestarian, pengembangan, dan pemajuan kebudayaan. Pendanaan dapat diakses oleh individu, komunitas, serta organisasi yang mengajukan kegiatan budaya dengan dampak nyata bagi masyarakat. Hingga 31 Maret 2026, program tersebut secara kumulatif telah menyalurkan sekitar Rp594 miliar kepada 3.036 penerima manfaat.
Dukungan tersebut dapat dimanfaatkan untuk penelitian, konservasi, dokumentasi, festival budaya, penguatan komunitas, serta pengembangan pengetahuan yang berkaitan dengan Museum Sriwijaya Dharmakirti dan KCBN Muarajambi.
Diharapkan Membuka Sejarah yang Belum Terungkap
Gubernur Jambi Al Haris menilai museum dapat membantu masyarakat memahami sejarah Muarajambi secara lebih utuh. Sebagian besar kawasan percandian dinilai belum sepenuhnya diteliti dan diperkenalkan kepada publik.
"Kehadiran museum diharapkan menjadi miniatur sejarah lampau yang merekam jejak peradaban, inilah miniatur sejarah lampau," kata Al Haris.
Menurutnya, museum dapat menjadi pintu masuk bagi wisatawan, pelajar, akademisi, dan peneliti sebelum menjelajahi kompleks percandian yang luas. Pemerintah daerah juga berharap penguatan riset dan narasi sejarah dapat mendukung proses pengajuan Muarajambi sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Keberhasilan museum nantinya tidak hanya diukur dari jumlah koleksi dan pengunjung. Perannya akan bergantung pada kesinambungan penelitian, kualitas konservasi, keterbukaan data, publikasi ilmiah, keterlibatan masyarakat, serta kemampuan menerjemahkan hasil riset menjadi pengetahuan yang mudah dipahami publik.
Tinggalkan Komentar
Komentar