Periskop.id - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan siap menghadirkan regulasi, agar film Indonesia yang tayang di bioskop tidak cepat masuk ke platform digital atau over the top seperti Netflix. Ia menyebut kondisi ini membahayakan film Indonesia.
“Bioskop bisa tutup lama-lama kalau orang sudah mulai nonton langsung di gadget,” kata Fadli di Jakarta, Rabu (1/4).
Dukungan dari sisi regulasi yang dimaksudnya adalah, memberikan hak eksklusif penayangan film di bioskop selama empat bulan dan akan berdiskusi dengan produser film terkait hal itu. Hal itu ia sampaikan, berkaca dengan kondisi bioskop di berbagai negara, salah satunya di benua Eropa, di mana masyarakat setempat telah enggan ke bioskop, begitu juga masyarakat Korea Selatan.
“Di Eropa orang susah masuk datang ke bioskop lagi, sangat sedikit. Banyak bioskop yang tutup. Di Korea juga sekarang meskipun filmnya luar biasa kemana-mana tetapi orang yang datang ke bioskop sudah sangat sedikit,” tuturnya.
Padahal, bioskop memiliki dampak ganda atau multiplier effect yang berpengaruh pada perputaran ekonomi, seperti makanan dan minuman dan lainnya.
Ia menyatakan ini semua dalam peringatan Hari Film Nasional 2026 yang digelar bersama Lembaga Sensor Film (LSF) yang juga ditandai dengan nonton film “Darah dan Doa” karya Usmar Ismail.
Film yang telah tayang pada 1950 menjadi tonggak sejarah karya Bapak Perfilman Indonesia. Pemilihan film ini pun diharapkan menjadi pengingat akan kerja keras sineas nasional 76 tahun yang lalu, serta bentuk apresiasi atas karya monumental perfilman nasional.
Ie mengatakan, saat ini, pada hari ini kitab isa menikmati, bagaimana karya monumental pada 1950 dari bapak perfilman Indonesia Umar Ismail bisa kembali dinikmati.
“76 tahun, sampai hari ini kita bisa nikmati kembali. Ini bagian dari kerja keras dari upaya untuk melindungi artefak melindungi karya perfilman nasional kita, sehingga anak cucu di depan bisa kembali menikmati,” pungkas Ketua LSF Naswardi.
Cerita Otentik Indonesia
Sementara itu, Sutradara Joko Anwar menyebut, cerita yang otentik dan relevan dengan masyarakat, menjadi kekuatan film Indonesia.
"Tahun '50 Bapak Usmar Ismail membuktikan bahwa film Indonesia hanya akan bisa dimulai dari kekuatan bercerita yang relevan dengan masyarakat di Indonesia," serunya.
Dia menyampaikan, Indonesia memiliki beragam etnis dan suku dengan cerita-cerita yang menarik, termasuk di antaranya cerita-cerita horor. Karena itu, Joko mendorong pembuatan film-film dengan cerita otentik yang mencerminkan kondisi Indonesia dan masyarakatnya.
"Please bikin film yang otentik Indonesia, tentang hal-hal yang menjadi keresahan kita sebagai masyarakat Indonesia," imbuhnya.
Joko berharap Indonesia bisa mengembangkan industri film seperti Korea Selatan, yang film-filmnya telah dikenal di tataran global. Dengan jumlah penduduk lebih dari 284 juta, menurut dia, Indonesia memiliki kekuatan besar untuk mengembangkan industri film.
"Tahun lalu kita berhasil menjual 84 juta tiket hanya untuk film Indonesia. Itu sama saja dengan hampir Rp3,7 triliun hanya untuk tiket saja, belum termasuk bisnis yang ditimbulkan oleh adanya pemutaran film," tuturnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan festival film seperti Jakarta Film Week dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) mendukung penguatan ekosistem perfilman di Indonesia. "Ini adalah event-event yang membuat ekosistem kita semakin kuat," serunya.
Pada acara perayaan Hari Film Nasional 2026, Lembaga Sensor Film (LSF) sendiri mengampanyekan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNSM) dan peningkatan kualitas film Indonesia.
"Perayaan Hari Film Nasional dimaknai sebagai upaya untuk terus meningkatkan prestasi dan derajat perfilman nasional baik di tingkat regional, nasional,dan global," kata Ketua LSF Naswardi.
Tinggalkan Komentar
Komentar