Periskop.id - Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh Biro Statistik Ketenagakerjaan Amerika Serikat mengungkapkan fakta menarik mengenai dunia kerja. Selama ini, besaran gaji dan fasilitas tunjangan sering kali dianggap sebagai indikator tunggal untuk menentukan apakah suatu pekerjaan itu "baik" atau tidak. 

Namun, riset ini membuktikan bahwa rumus tersebut tidak selalu akurat. Berdasarkan data dari Survey of Household Economics and Decisionmaking (SHED) yang mengamati para pekerja yang berpindah kerja antara tahun 2021 hingga 2023, penilaian kualitas pekerjaan ternyata jauh lebih kompleks.

Studi ini menemukan bahwa menilai kualitas pekerjaan baru hanya berdasarkan perubahan gaji dan tunjangan saja menghasilkan prediksi yang salah sebanyak 30%. Artinya, ada banyak faktor di luar materi yang membuat seseorang merasa pekerjaan barunya jauh lebih baik daripada tempat kerja sebelumnya. 

Para peneliti menggunakan metode statistik linear probability model, yakni sebuah metode yang digunakan untuk melihat seberapa besar kemungkinan suatu faktor memengaruhi keputusan seseorang dengan menganggap faktor lain tidak berubah untuk mengukur apa saja yang paling dihargai pekerja.

Secara mengejutkan, faktor non-materi seperti rasa tertarik pada tugas atau bidang pekerjaan (interest in the work) menjadi penentu paling kuat. Ketika seseorang merasa tugas di tempat barunya lebih menarik, peluang mereka untuk menganggap pekerjaan tersebut "lebih baik secara keseluruhan" meningkat sebesar 27%.

Angka ini mengungguli faktor kenaikan gaji dan tunjangan yang hanya memberikan peningkatan peluang sebesar 19%. 

Sementara itu, faktor keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi (work–life balance) berada di posisi yang juga sangat penting, yakni meningkatkan peluang kepuasan sebesar 18%. Di sisi lain, perubahan pada tuntutan fisik pekerjaan justru memiliki pengaruh yang sangat kecil dan hampir tidak terdeteksi dalam riset ini.

Prioritas yang Berbeda Antarresponden

Riset ini juga membedah bagaimana kelompok masyarakat yang berbeda memiliki prioritas yang berbeda pula saat mencari pekerjaan baru. Faktor keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi, misalnya, terbukti 50% lebih krusial bagi perempuan dibandingkan laki-laki. 

Jika dibedah lebih dalam, para ibu yang memiliki anak di bawah usia 13 tahun menempatkan work–life balance sebagai prioritas yang sangat tinggi dengan angka pengaruh mencapai 29%, berbanding 19% pada kelompok ayah.

Perbedaan mencolok juga ditemukan berdasarkan faktor usia. Pekerja muda yang berusia di bawah 30 tahun cenderung menempatkan gaji dan tunjangan sebagai indikator utama kesuksesan perpindahan kerja mereka. 

Sebaliknya, bagi pekerja yang sudah menginjak usia 45 tahun ke atas, uang bukan lagi segalanya. Kelompok pekerja senior ini jauh lebih peduli pada seberapa menarik pekerjaan tersebut bagi mereka, sementara pengaruh faktor gaji dan peluang promosi jabatan justru menurun drastis.

Salah satu temuan krusial dalam studi ini adalah adanya perbedaan pola antara pekerja lulusan SMA atau di bawahnya dengan pekerja yang menyandang gelar sarjana. 

Pada kelompok pekerja dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah, peningkatan gaji biasanya otomatis diikuti oleh perbaikan fasilitas lain, seperti jam kerja yang lebih fleksibel, kesempatan naik jabatan, dan lingkungan kerja yang lebih menarik. Fenomena saling keterkaitan positif ini disebut sebagai korelasi kuat.

Hal ini berbeda dengan kelompok lulusan sarjana. Bagi mereka yang berpendidikan tinggi, peningkatan gaji belum tentu menjamin aspek work–life balance atau ketertarikan kerja mereka ikut membaik. 

Oleh karena itu, para peneliti mencatat bahwa bagi pekerja dengan pendidikan rendah, indikator perubahan gaji saja sebenarnya belum cukup untuk menggambarkan betapa besarnya peningkatan kualitas hidup dan pekerjaan yang mereka dapatkan di tempat baru.

Proses perpindahan kerja juga sangat dipengaruhi oleh alasan mengapa seseorang pindah. Studi ini memisahkan antara pekerja yang pindah secara sukarela dengan mereka yang terpaksa pindah karena terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 

Bagi korban PHK, korelasi atau hubungan antar-karakteristik pekerjaan barunya cenderung berjalan beriringan.

Hal ini terjadi karena korban PHK umumnya berada pada posisi yang tidak memiliki pilihan untuk kembali ke pekerjaan lama. Akibatnya, mereka lebih realistis dan cenderung menerima pekerjaan baru yang mungkin mengalami penurunan di beberapa aspek sekaligus. 

Menariknya, jika kelompok korban PHK ini berhasil mendapatkan tempat kerja dengan gaji dan tunjangan yang lebih baik, hal tersebut akan langsung mendongkrak penilaian positif mereka terhadap pekerjaan baru secara signifikan, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok pekerja yang pindah secara sukarela.