periskop.id - Gen Z kerap dicap boros, manja, dan mudah resign. Namun, survei Jakpat bertajuk Understanding Gen Z: Preference in the Workplace yang digelar pada 9–12 Februari 2024 dengan melibatkan 295 responden justru memperlihatkan realita yang berbeda. Data ini membuka cara pandang baru tentang bagaimana Gen Z mengelola gaji, menjaga keseimbangan hidup-kerja, hingga menentukan kapan harus bertahan atau pergi dari sebuah perusahaan.
Ke Mana Gaji Gen Z Pergi? Bukan Sekadar Gaya Hidup
Banyak yang mengira gaji Gen Z habis hanya untuk kopi susu kekinian atau konser musik. Namun, data Jakpat memberikan tamparan realita yang positif. Meskipun pengeluaran terbesar tetap berada pada sektor makanan (75%), ada angka yang sangat menarik pada urutan berikutnya, yaitu 63% Gen Z memprioritaskan menabung dan investasi. Ini adalah bukti bahwa kesadaran finansial anak muda zaman sekarang justru jauh lebih tinggi. Mereka sadar bahwa ketidakpastian ekonomi di masa depan hanya bisa dilawan dengan persiapan aset sejak dini.
Namun, yang paling mengharukan adalah fakta mengenai Sandwich Generation. Sebanyak 62% Gen Z mengalokasikan pendapatan mereka untuk membantu orang tua. Angka ini identik dengan jumlah mereka yang mengeluarkan uang untuk self-care. Artinya, bagi Gen Z, berbakti kepada keluarga memiliki nilai yang setara dengan mencintai diri sendiri. Mereka memikul beban finansial keluarga di pundak mereka sambil tetap berusaha menjaga kewarasan lewat self-care.
Mengapa Work-Life Balance Menjadi Prioritas Utama Gen Z?
Istilah work-life balance sering dianggap sebagai alasan untuk malas bekerja oleh generasi sebelumnya. Padahal, bagi Gen Z, work-life balance adalah sistem pertahanan diri. Bayangkan, 92% responden dalam laporan ini menyatakan bahwa keseimbangan kehidupan kerja adalah hal yang penting. Mengapa? Karena 74% dari mereka sadar bahwa kesehatan mental adalah aset termahal. Tanpa mental yang sehat, performa kerja justru akan terjun bebas. Mereka tidak ingin terjebak dalam budaya hustle culture yang toxic yang pada akhirnya hanya berujung pada burnout berkepanjangan.
Bagi Gen Z, bekerja dengan cerdas jauh lebih penting daripada bekerja hanya dengan otot. Sebanyak 69% merasa work-life balance akan meningkatkan antusiasme mereka dalam bekerja. Dampaknya, perusahaan mendapatkan karyawan yang lebih kreatif dan energik. Tidak heran jika 34% Gen Z mendambakan sistem kerja work from anywhere.
Mereka ingin fleksibilitas untuk bisa bekerja dari mana saja, entah itu dari kafe yang tenang atau dari rumah sambil menjaga orang tua, tanpa harus terjebak macet berjam-jam yang hanya menghabiskan energi secara sia-sia. Work-life balance bagi mereka bukan berarti bekerja lebih sedikit, tapi bekerja dengan cara yang lebih manusiawi dan efektif.
Mengapa Gen Z Mudah Pindah Kerja?
Ada anggapan kalau Gen Z adalah “kutu loncat” karena dinilai lebih mudah resign. Data menunjukkan 31% Gen Z memang pernah berpindah perusahaan setidaknya sekali. Namun, alasan mereka pindah bukan semata-mata karena tidak loyal, melainkan karena mereka tahu apa yang layak mereka dapatkan. Gaji memang penting, tapi itu bukan satu-satunya magnet.
Faktanya, 59% Gen Z bertahan di perusahaan karena lingkungan kerja yang nyaman, dan 49% karena fleksibilitas waktu. Mereka lebih memilih kantor yang menghargai keberadaan mereka sebagai manusia daripada kantor yang hanya melihat mereka sebagai angka dalam tabel produktivitas.
Selain itu, gaya kepemimpinan di kantor memegang peranan kunci. Gen Z sangat selektif soal siapa yang mereka ikuti. Mereka mencari pemimpin yang adil (87%), bertanggung jawab (77%), dan yang paling penting, yaitu terbuka terhadap masukan (70%). Mereka tidak suka dengan atasan yang otoriter atau kaku. Mereka ingin bos yang bisa menjadi mentor, yang mau mendengarkan ide-ide segar mereka tanpa memandang senioritas.
Jadi, loyalitas Gen Z tidak bisa dibeli hanya dengan uang, loyalitas mereka harus dipupuk dengan rasa hormat, keterbukaan, dan ruang untuk bertumbuh bersama. Jika perusahaan mampu memberikan ini, Gen Z akan menjadi aset yang paling loyal dan inovatif yang pernah dimiliki perusahaan.
Tinggalkan Komentar
Komentar