Periskop.id - Penumpang TransJakarta yang biasa menggunakan rute 1N dan 10D perlu mulai menyesuaikan perjalanan. PT Transportasi Jakarta menyatakan dua layanan itu tidak lagi beroperasi setelah akhir Juni 2026.
Rute 1N selama ini melayani perjalanan Tanah Abang menuju Blok M. Sementara rute 10D menghubungkan Tanjung Priok dengan Kampung Rambutan. Keduanya akan berhenti beroperasi mulai 1 Juli 2026.
Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Welfizon Yuza mengatakan, kebijakan tersebut diambil untuk mengoptimalkan pelayanan kepada pelanggan. Menurut dia, penghentian rute dilakukan karena sebagian lintasan 1N dan 10D sudah dilayani rute TransJakarta lain yang melewati segmen jalan serupa.
"Kami juga telah menyiapkan alternatif perjalanan, sehingga pelanggan tetap dapat melakukan mobilitas dengan nyaman,” kata Welfizon di Jakarta, Jumat (26/6).
Dengan kata lain, TransJakarta tidak sepenuhnya memutus akses perjalanan penumpang. Pelanggan tetap bisa mencapai tujuan yang sama, tetapi perlu menggunakan rute pengganti dan melakukan transit di titik tertentu.
Kenapa Rute 1N dan 10D Dihentikan?
Alasan utama penghentian rute 1N dan 10D adalah adanya tumpang tindih layanan dengan rute eksisting. Dalam sistem transportasi massal seperti TransJakarta, tumpang tindih rute bisa membuat armada tidak digunakan secara maksimal.
Jika terlalu banyak bus melayani segmen jalan yang sama, sementara kebutuhan di rute lain lebih tinggi, maka waktu tunggu pelanggan di titik lain bisa tetap panjang. Karena itu, evaluasi rute menjadi penting agar armada bisa dialihkan ke layanan yang lebih padat dan lebih dibutuhkan.
Kebijakan semacam ini bukan hal baru di TransJakarta. Sebelumnya, perusahaan juga pernah menghapus atau memodifikasi rute yang berhimpitan dengan layanan lain.
Pada 2024, misalnya, TransJakarta pernah menghapus rute 7E Kampung Rambutan-Ragunan karena berhimpitan dengan rute 7A Kampung Rambutan-Lebak Bulus.
"Inti sebenarnya adalah rute itu kita evaluasi karena banyak rute yang berimpitan. Rute 7E berimpitan dengan rute 7A (Kampung Rambutan-Lebak Bulus)," kata Welfizon saat itu.
Welfizon juga menjelaskan, evaluasi dilakukan agar layanan tetap berpihak pada kebutuhan penumpang. "Jadi rute-rute yang berimpitan terlalu banyak, itu kita coba evaluasi. Kami ini punya target, satu adalah terkait layanan untuk masyarakat, sesuai itulah hal yang utama," ujar Welfizon.
Konteks ini memperlihatkan bahwa penghentian 1N dan 10D menjadi bagian dari pola evaluasi berkala, bukan keputusan mendadak tanpa dasar operasional.
Alternatif Rute 1N: Tanah Abang ke Blok M
Bagi pelanggan yang biasa menggunakan rute 1N dari Tanah Abang menuju Blok M, TransJakarta menyiapkan perjalanan pengganti menggunakan rute 9D. Penumpang dari Tanah Abang dapat naik rute 9D, kemudian transit di Bus Stop Plaza Sentral. Setelah itu, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan rute 1P menuju Blok M.
Sementara untuk arah sebaliknya, yaitu dari Blok M menuju Tanah Abang, pelanggan dapat menggunakan rute 1P terlebih dahulu. Penumpang kemudian transit di Bus Stop Benhil 3 dan melanjutkan perjalanan menggunakan rute 9D menuju Tanah Abang.
Skema ini membuat perjalanan Tanah Abang-Blok M tetap tersedia, tetapi tidak lagi dilayani satu rute langsung seperti sebelumnya.
Alternatif Rute 10D: Kampung Rambutan ke Tanjung Priok
Untuk pelanggan rute 10D dari Kampung Rambutan menuju Tanjung Priok, TransJakarta menyediakan dua pilihan perjalanan. Pilihan pertama, penumpang dapat naik rute 7F dari Halte Kampung Rambutan. Setelah itu, penumpang transit di Halte Utan Kayu Rawamangun dan melanjutkan perjalanan menggunakan Koridor 10 menuju Tanjung Priok.
Pilihan kedua, penumpang dapat menggunakan Koridor 7 dari Halte Kampung Rambutan. Kemudian, penumpang transit di Halte Cawang Cililitan dan melanjutkan perjalanan dengan Koridor 10.
Untuk arah sebaliknya, yaitu dari Tanjung Priok menuju Kampung Rambutan, pelanggan dapat menggunakan Koridor 10 dari Halte Tanjung Priok. Setelah itu, penumpang transit di Halte Utan Kayu Rawamangun dan melanjutkan perjalanan dengan rute 7F.
Alternatif lainnya, penumpang bisa tetap menggunakan Koridor 10 dari Halte Tanjung Priok, lalu transit di Halte Cawang Cililitan dan melanjutkan perjalanan menggunakan Koridor 7 menuju Kampung Rambutan.
Dampaknya bagi Penumpang
Bagi penumpang harian, perubahan ini kemungkinan akan terasa pada pola perjalanan. Pengguna 1N dan 10D yang sebelumnya bisa menempuh perjalanan secara langsung kini perlu melakukan transit.
Namun, TransJakarta menilai penyesuaian tersebut tidak menghilangkan akses mobilitas masyarakat karena jalur alternatif sudah disiapkan.
Tantangan utama berada pada masa transisi. Penumpang perlu memahami titik transit baru, waktu kedatangan rute pengganti, serta kemungkinan perubahan waktu tempuh.
Karena itu, informasi di halte, aplikasi, media sosial, dan petugas lapangan akan menjadi penting agar pelanggan tidak kebingungan saat kebijakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
Evaluasi Rute Jadi Kunci Layanan Transportasi Publik
Penghentian 1N dan 10D terjadi di tengah meningkatnya peran TransJakarta sebagai tulang punggung mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya.
Pada 2025, TransJakarta mencatat 413 juta pelanggan, dengan rata-rata sekitar 1,4 juta perjalanan harian. Angka ini menunjukkan besarnya beban layanan yang harus dikelola setiap hari.
Badan Pusat Statistik DKI Jakarta juga mencatat jumlah penumpang TransJakarta pada Februari 2026 mencapai 32.876.499 orang. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan MRT Jakarta dan LRT Jakarta pada periode yang sama.
Dengan jumlah penumpang sebesar itu, pengaturan rute menjadi krusial. TransJakarta harus memastikan armada tidak terlalu banyak terkonsentrasi di jalur yang sama, sementara wilayah lain justru kekurangan layanan.
Saat ini, TransJakarta mengoperasikan 14 koridor utama dengan total 244 rute serta didukung 5.151 unit armada, baik konvensional maupun berbasis listrik. Dalam skala sebesar itu, perubahan rute menjadi hal yang wajar selama dilakukan dengan sosialisasi yang jelas dan alternatif perjalanan yang memadai.
Bukan Cuma Soal Menghapus Rute
Penghentian layanan 1N dan 10D sebaiknya tidak dilihat hanya sebagai pengurangan layanan. Dari sisi operasional, kebijakan ini bisa menjadi langkah efisiensi jika armada yang sebelumnya digunakan pada dua rute tersebut benar-benar dialihkan ke jalur dengan permintaan lebih tinggi.
Welfizon berharap penyesuaian ini bisa dimanfaatkan untuk mendukung layanan pada rute yang memiliki kebutuhan perjalanan lebih besar. Dengan begitu, waktu tunggu penumpang di rute lain bisa dipersingkat tanpa mengurangi akses masyarakat.
Namun, keberhasilan kebijakan ini akan bergantung pada implementasi di lapangan. Jika alternatif rute berjalan lancar, waktu tunggu terkendali, dan informasi mudah dipahami pelanggan, penghentian 1N dan 10D bisa diterima sebagai bagian dari optimalisasi layanan.
Sebaliknya, jika penumpang kesulitan transit atau waktu tempuh menjadi terlalu panjang, TransJakarta perlu kembali mengevaluasi dampaknya.
Yang paling penting, perubahan rute harus diikuti dengan komunikasi yang jelas. Penumpang perlu diberi informasi sejak dini mengenai tanggal penghentian, titik transit, rute pengganti, dan pilihan perjalanan terbaik.
Mulai 1 Juli 2026, rute 1N Tanah Abang-Blok M dan 10D Tanjung Priok-Kampung Rambutan resmi tidak lagi menjadi pilihan perjalanan langsung. Namun, akses menuju titik-titik tersebut tetap tersedia lewat kombinasi rute lain dalam jaringan TransJakarta.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar