iklan periskop
Kota

Sambut Transjakarta Kelola Kapal Kepulauan Seribu 2027, Warga Minta Beroperasi Tiap Hari

Transjakarta akan mengelola transportasi laut Kepulauan Seribu mulai 2027. Warga meminta kapal beroperasi setiap hari, tiket terintegrasi dan tarif terjangkau

3 jam yang lalu · 5 mnt baca
angkuta laut, kepulauan seribu
Kapal yang menjadi angkutan laut penyeberangan dari daratan Jakarta ke sejumlah pulau di Kepulauan Seribu. dok. Pemkab Kepulauan Seribu
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyerahkan pengelolaan transportasi laut Kepulauan Seribu kepada PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mulai 2027 mendapat respons positif dari warga. Namun, masyarakat berharap perubahan operator benar-benar diikuti peningkatan frekuensi kapal, harga yang terjangkau, kepastian tiket, serta konektivitas antarpulau.

Salah seorang warga Pulau Sabira, Agung, menilai, pengalihan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperbaiki layanan transportasi yang selama ini masih terbatas. Menurut dia, kapal Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang melayani Pulau Sabira saat ini hanya beroperasi tiga kali dalam sepekan. Kondisi tersebut menyulitkan warga yang harus bepergian secara rutin ke daratan Jakarta, termasuk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Rencana pengalihan pengelolaan transportasi laut kepada Transjakarta sangat tepat,” kata Agung.

Ia berharap frekuensi keberangkatan dapat ditingkatkan setelah layanan berada di bawah Transjakarta. "Kami sangat berharap jadwal kapal bisa ditingkatkan menjadi setiap hari dengan harga semakin terjangkau,” lanjutnya.

Kepastian jadwal, menurut Agung, bukan hanya penting bagi warga. Wisatawan yang hendak berkunjung ke pulau-pulau permukiman juga membutuhkan jaminan ketersediaan kapal untuk perjalanan kembali ke daratan Jakarta. Ketidakpastian tiket selama ini disebut ikut berdampak terhadap pelaku usaha lokal, mulai pemilik homestay hingga penyedia jasa kapal nelayan.

“Kondisi ini turut berimbas pada menurunnya pendapatan pemilik homestay dan penyedia jasa kapal nelayan,” tuturnya.

Warga Usul JakLingko Laut

Selain menambah jadwal, warga menginginkan sistem transportasi laut yang lebih terintegrasi. Salah satu usulannya adalah penggunaan sistem tiket elektronik berbasis tapping, sehingga pembelian dan distribusi tiket lebih transparan serta mengurangi potensi percaloan.

Sebenarnya, Dishub DKI saat ini telah memiliki JaketBoat atau Jakarta Electronic Ticketing Boat, yang memungkinkan calon penumpang mengecek jadwal, memilih lintasan dan membeli tiket kapal secara daring. Sistem tersebut melayani 11 kapal dengan tarif Rp44.000-Rp74.000.

JaketBoat mencatat empat lintasan utama dari Muara Angke menuju Kepulauan Seribu. Pulau yang dijangkau antara lain Untung Jawa, Lancang, Payung, Tidung, Pari, Panggang, Pramuka, Kelapa, hingga Sabira. Untuk Pulau Sabira, salah satu lintasannya adalah Muara Angke-Kelapa-Sabira.

Dengan beralihnya pengelolaan kepada Transjakarta pada 2027, warga berharap sistem tiket tersebut dapat dikembangkan lebih jauh dan terhubung dengan ekosistem transportasi Jakarta.

"Kami berharap Transjakarta juga bisa menyediakan transportasi antarpulau. Mungkin bisa bersinergi dengan kapal tradisional milik warga untuk masuk dalam sistem JakLingko Laut," ungkap Agung.

Gagasan serupa disampaikan anggota Dewan Kabupaten Kepulauan Seribu Munawar Salagau. Menurut dia, kapal tradisional tidak perlu tersingkir ketika Transjakarta mengambil alih rute utama, melainkan dapat menjadi angkutan pengumpan untuk penumpang maupun logistik antarpulau.

"Ibaratnya Transjakarta sebagai bus besar, kapal tradisional sebagai angkot atau JakLingko, dan speedboat swasta sebagai layanan premium. Sehingga, pelayanan kepada masyarakat dan wisatawan tetap terpenuhi secara merata," ujarnya.

Skema tersebut dinilai penting terutama ketika terjadi lonjakan wisatawan pada hari libur. Munawar mengatakan jumlah penumpang pada periode tertentu dapat mencapai ribuan orang sehingga kapasitas kapal pemerintah saja berpotensi tidak mencukupi.

Transjakarta Ambil Alih Mulai 2027

Rencana perubahan operator sebelumnya diumumkan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Pengelolaan transportasi laut yang selama ini berada di bawah Dishub akan dialihkan kepada Transjakarta mulai tahun depan.

Pramono mengatakan kebijakan itu didorong prinsip pemerataan akses transportasi. Warga Kepulauan Seribu dinilai harus mendapatkan kualitas layanan yang setara dengan masyarakat di lima kota administrasi Jakarta.

“Kita harus adil bagi semua warga Jakarta, termasuk di Kepulauan Seribu. Maka saya sudah memutuskan, mulai tahun depan nanti, dari seluruh kota yang ada di Jakarta mau ke Kepulauan Seribu itu transportasinya harus lebih mudah, lebih efisien, dan Kepulauan Seribu merasa memiliki dan menjadi bagian itu," kata Pramono.

Bupati Kepulauan Seribu Muhammad Fadjar Churniawan juga melihat penguatan transportasi laut dapat memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar perjalanan penumpang.

“Kemudahan akses transportasi akan berdampak langsung terhadap mobilitas warga, terutama dalam memperoleh layanan kesehatan, pendidikan, serta menunjang aktivitas ekonomi,” kata dia di Jakarta, Senin.

Akses tersebut sangat krusial karena secara geografis aktivitas masyarakat Kepulauan Seribu sangat bergantung pada angkutan perairan untuk terhubung dengan daratan Jakarta maupun antarpulau.

Transjakarta Layani 1,4 Juta Penumpang per Hari

Pramono memilih Transjakarta salah satunya karena BUMD tersebut dinilai telah memiliki pengalaman besar dalam pengelolaan transportasi publik massal.

“Ini menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta sekarang memberikan kepercayaan kepada Transjakarta. Berdasarkan itu, akhirnya saya memutuskan untuk mengelola transportasi dari, katakanlah Jakarta daratan, ke Kepulauan Seribu, itu akan dikelola oleh Transjakarta,” jelas Pramono di Jakarta Utara, Senin.

Data resmi Transjakarta per Juni 2026 menunjukkan perusahaan mengoperasikan 5.151 unit armada pada 14 koridor utama dan 244 rute, mencakup BRT, Non-BRT, Mikrotrans hingga Transjabodetabek. Rata-rata jumlah pengguna mencapai sekitar 1,4 juta pelanggan per hari.

Angka resmi itu perlu dicatat karena dalam pernyataan terpisah Pramono sempat menyebut Transjakarta telah mengelola “kurang lebih hampir 10.000 bus”. Data operasional terbaru yang dipublikasikan Transjakarta sendiri menunjukkan 5.151 armada per 22 Juni 2026.

Cakupan layanan Transjakarta juga telah mencapai sekitar 92,5% populasi Jakarta. Sepanjang 2025, enam rute baru Transjabodetabek saja melayani lebih dari 4,5 juta pelanggan, sementara ekspansi layanan pada 2026 terus diarahkan menuju wilayah penyangga.

Pengalaman mengelola jaringan besar tersebut kini akan diuji dalam konteks yang berbeda. Transportasi laut memiliki tantangan operasional tersendiri, mulai kondisi cuaca, keselamatan pelayaran, kapasitas dermaga, ketersediaan kapal, hingga karakter pergerakan warga dan wisatawan.

Karena itu, bagi warga Kepulauan Seribu, pergantian operator akan dinilai berhasil apabila membawa perubahan nyata pada frekuensi perjalanan, kepastian jadwal, keterjangkauan tarif dan integrasi tiket.

Dengan target pengalihan pada 2027, Pemprov DKI dan Transjakarta masih memiliki waktu untuk merancang model operasional, termasuk menentukan rute, jumlah kapal, tarif, sistem pembayaran dan pola kerja sama dengan angkutan tradisional. Harapan warga jelas: transportasi laut tidak lagi menjadi layanan yang harus ditunggu beberapa hari, tetapi berkembang menjadi bagian dari jaringan angkutan publik Jakarta yang dapat diandalkan setiap hari.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai dishub dki jakarta, transjakarta, kepulauan seribu, dan penyebrangan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.