Periskop.id - Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat mengantisipasi perjalanan pada Jumat (12/6) karena adanya aksi penyampaian pendapat di sejumlah titik Ibu Kota. Sejumlah ruas jalan utama, mulai dari kawasan Sudirman, Kebon Sirih, Medan Merdeka Selatan, hingga Rawamangun, diperkirakan berpotensi mengalami kepadatan lalu lintas.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Budi Awaluddin meminta warga merencanakan perjalanan lebih awal, terutama bagi yang beraktivitas di pusat kota dan kawasan sekitar lokasi aksi. Pengguna jalan juga diminta menyiapkan rute alternatif agar tidak terjebak kemacetan.

Advertisement

“Kami mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan baik dan menggunakan rute alternatif apabila akan melintasi lokasi kegiatan. Petugas Dishub telah disiagakan untuk membantu pengaturan lalu lintas agar mobilitas masyarakat tetap aman, lancar, dan nyaman,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Budi Awaluddin di Jakarta, Jumat (12/6). 

Sejumlah ruas jalan yang diperkirakan terdampak antara lain Jalan Jenderal Sudirman, khususnya area depan Kantor Pusat BRI; Jalan Kebon Sirih di depan Kantor Badan Gizi Nasional atau BGN; Jalan Medan Merdeka Selatan di kawasan Balai Kota, Monas, dan Gambir; serta kawasan Kampus Universitas Negeri Jakarta atau UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur.

Dishub DKI menyiagakan 300 personel di sejumlah titik strategis. Fokus utama pengaturan lalu lintas berada di koridor Sudirman-Thamrin, mengingat kawasan tersebut merupakan jalur utama mobilitas warga, pekerja, transportasi umum, dan kendaraan pribadi.

Budi mengatakan, Dishub DKI terus berkoordinasi dengan kepolisian dan Satpol PP Provinsi DKI Jakarta untuk memantau perkembangan situasi di lapangan. Pengaturan arus kendaraan akan dilakukan secara situasional, menyesuaikan dinamika massa dan kondisi lalu lintas di sekitar lokasi aksi.

Aksi penyampaian pendapat oleh sejumlah elemen mahasiswa berlangsung di beberapa titik Jakarta Pusat. Selain Dishub, Polda Metro Jaya juga menyiagakan personel gabungan untuk mengawal jalannya aksi agar tetap aman dan tertib.

Pendekatan Humanis
Dalam apel kesiapan pengamanan, Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Asep Edi Suheri mengingatkan seluruh personel agar memperlakukan peserta aksi dengan pendekatan humanis. Ia menegaskan mahasiswa bukan lawan, melainkan warga yang sedang menggunakan hak konstitusional untuk menyampaikan pendapat.

"Saya titip kepada seluruh personel, adik-adik mahasiswa adalah keluarga kita. Mereka bukan lawan, melainkan warga masyarakat yang harus kita layani, kita jaga, dan kita amankan dengan sebaik-baiknya," kata Asep saat memimpin apel kesiapan personel di Jakarta, Jumat.

Asep menekankan pentingnya kesabaran, pengendalian diri, dan tindakan terukur dari aparat yang bertugas. Menurut dia, petugas tidak boleh mudah terpancing emosi dalam menghadapi dinamika massa di lapangan.

Polda Metro Jaya menyiagakan 6.088 personel gabungan TNI-Polri untuk mengamankan aksi tersebut. Rinciannya terdiri atas 500 personel TNI, 1.000 personel Korbrimob, 200 personel BKO Korsabhara, 3.802 personel Polda Metro Jaya, serta 586 personel dari jajaran Polres Metro.

Personel gabungan itu disebar untuk mengawal sejumlah titik aksi, termasuk kawasan Gedung DPR/MPR RI, Patung Kuda, hingga kawasan Cikini. Kepolisian juga menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi perubahan konsentrasi massa atau kepadatan lalu lintas di lokasi lain.

Untuk menjamin pendekatan humanis, Asep memastikan personel pengamanan tidak dibekali senjata api di lokasi aksi. Ia juga meminta seluruh tindakan petugas berada dalam satu komando resmi agar tidak ada tindakan di luar prosedur.

"Seluruh tindakan di lapangan harus satu komando. Tidak boleh ada inisiatif sendiri tanpa instruksi. Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, humanis, terukur, dan sesuai prosedur," kata Asep.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto juga menegaskan, kehadiran aparat bukan untuk menghalangi penyampaian aspirasi. Menurut dia, polisi bertugas memastikan aksi berjalan aman tanpa mengganggu hak masyarakat lain yang tetap harus beraktivitas.

"Kami mengimbau dan mengajak adik-adik mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya dengan baik, tertib, serta tetap menghormati pengguna jalan dan masyarakat lainnya yang beraktivitas," ujar Budi.

Kepolisian juga mengingatkan peserta aksi agar menjaga barisan masing-masing. Hal itu dinilai penting untuk mencegah penyusupan kelompok yang berpotensi memprovokasi atau mengganggu jalannya aksi.

Rekayasa Lalu Lintas
Untuk menjaga kelancaran arus kendaraan, Ditlantas Polda Metro Jaya menempatkan petugas di titik-titik rawan macet. Rekayasa lalu lintas di sekitar Jalan Medan Merdeka Selatan dan kawasan Monas disiapkan secara situasional, bergantung pada pergerakan massa serta kepadatan kendaraan.

"Kami berharap kegiatan pelayanan dan pengamanan penyampaian pendapat ini dapat berjalan aman, tertib, lancar, dan terkendali," kata Budi.

Bagi warga yang tidak berkepentingan melintas di sekitar titik aksi, Dishub DKI menyarankan agar menghindari kawasan terdampak dan menggunakan rute alternatif. Pengendara dari arah selatan menuju pusat kota dapat menyesuaikan perjalanan dengan menghindari koridor Sudirman-Thamrin apabila terjadi kepadatan. Sementara warga yang hendak menuju kawasan Balai Kota, Monas, Gambir, atau sekitar Kebon Sirih disarankan memantau informasi lalu lintas terkini sebelum berangkat.

Pengguna transportasi umum juga perlu memperhitungkan kemungkinan penyesuaian layanan, terutama jika terjadi penutupan jalan sementara di sekitar Monas, Patung Kuda, atau Medan Merdeka Selatan. Pengaturan layanan bus dapat berubah mengikuti kondisi di lapangan.

Aksi unjuk rasa di Jakarta kerap berdampak langsung pada mobilitas warga karena lokasi penyampaian pendapat berada di jalur-jalur vital. Koridor Sudirman-Thamrin merupakan salah satu urat nadi lalu lintas Ibu Kota, sedangkan kawasan Monas, Balai Kota, dan Gambir menjadi pusat aktivitas pemerintahan, transportasi, dan perkantoran.

Karena itu, imbauan Dishub DKI tidak hanya ditujukan kepada pengendara pribadi, tetapi juga pengguna transportasi umum, pekerja kantoran, pelajar, mahasiswa, serta warga yang memiliki agenda di sekitar pusat kota. Perencanaan perjalanan dinilai penting untuk menghindari keterlambatan dan penumpukan kendaraan.

Dengan pengamanan ribuan personel dan pengaturan lalu lintas secara situasional, pemerintah daerah dan kepolisian berharap aksi penyampaian pendapat tetap berjalan tertib. Di sisi lain, mobilitas masyarakat di Jakarta tetap diupayakan aman, lancar, dan tidak terganggu secara berlebihan.