iklan periskop
Moneter

BI Tegaskan Digitalisasi Bukan Pengganti Uang Rupiah Fisik

Bank Indonesia menegaskan uang digital dan uang tunai bukan saling menggantikan, melainkan saling melengkapi kebutuhan transaksi masyarakat.

2 hari yang lalu · 2 mnt baca
Gedung Bank Indonesia, Bank Indonesia, BI, Gedung BI
Suasana kompleks Bank Indonesia di Jakarta, Senin (13/4/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Bank Indonesia menegaskan transformasi transaksi digital tidak akan menggantikan keberadaan uang rupiah fisik. Asisten Gubernur Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Anwar Bashori menyebut keduanya justru saling melengkapi di tengah perubahan pola transaksi masyarakat.

Anwar menuturkan, pertumbuhan transaksi digital memang tercatat sangat pesat belakangan ini. Namun menurutnya, digitalisasi dan uang tunai tetap berjalan beriringan, bukan saling menggantikan satu sama lain.

"Digitalisasi luar biasa kenaikannya, tapi Bank Indonesia mengatakan bahwa antara digitalisasi dengan cash itu adalah bukan saling menggantikan, tapi komplementari, saling melengkapi," kata Anwar dalam acara pembukaan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (Ferbi) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat.

Dukungan BI terhadap transaksi digital, kata Anwar, tercermin dari perluasan QRIS yang kini masif dipakai di berbagai wilayah Indonesia. Meski begitu, kondisi geografis Indonesia yang punya lebih dari 17 ribu pulau membuat uang fisik tetap jadi kebutuhan mendasar.

Konektivitas jaringan telekomunikasi yang belum merata di sejumlah daerah, menurut Anwar, menjadi alasan utama kenapa uang kartal masih harus terus diedarkan untuk menopang roda ekonomi masyarakat.

Ia mencontohkan wilayah terpencil dengan akses internet minim dan tingkat pendidikan yang timpang dibanding Pulau Jawa. Kondisi itu membuat BI rutin mengganti uang di daerah-daerah tersebut setiap tahun, bahkan lewat kerja sama dengan patroli Angkatan Laut untuk mengantarkan uang ke pelosok.

"Kalau di Jakarta, kalau ada namanya uang kurang bagus, bisa kita ATM ada, setiap waktu bisa kita dropping, tapi kalau wilayah terpencil itu cycle-nya cukup lama karena medannya nggak bisa, tapi karena harus hadir kita dengan kapal laut untuk mengganti, setiap tahun itu mengganti tempat-tempat yang terpencil itu kita ganti uangnya," kata Anwar.

Selain persoalan geografis, uang fisik juga masih jadi alat tukar utama di pasar tradisional. Anwar menjelaskan, mayoritas pedagang dan pembeli di pasar tradisional belum terhubung dengan sistem pembayaran digital seperti QRIS.

Lembaran uang kertas, lanjutnya, juga tetap punya fungsi sosial tersendiri. Tradisi berbagi angpao saat lebaran maupun hari besar keagamaan lain, menurut Anwar, masih mengandalkan uang tunai sebagai medianya.

Di situasi darurat seperti bencana alam, kata Anwar, uang kertas juga jadi andalan karena tidak bergantung pada ketersediaan listrik atau jaringan telekomunikasi. Faktor itulah yang membuat BI terus memastikan pasokan uang kartal tetap terjaga di seluruh wilayah.

"Hal-hal itu yang terus kita perhatikan, dan tidak ada negara satu pun negara ini yang meninggalkan uang kartal, digitalisasi bukan substitusi, tapi saling melengkapi," kata Anwar.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Bank Indonesia (BI), Rupiah, keuangan digital, dan digitalisasi dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.