Periskop.id - Ratusan siswa SMK Negeri 3 Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (20/1), dilaporkan mengalami diare, diduga setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah tersebut sehari sebelumnya. Akibat kejadian itu pihak sekolah memulangkan seluruh siswa lebih awal agar mendapatkan penanganan medis.
Wakil Kepala SMKN 3 Boyolangu Bidang Kesiswaan Yuga Hermawan mengatakan, dugaan gangguan kesehatan itu mulai terdeteksi pada Selasa pagi, setelah sejumlah siswa terlambat masuk kelas dan mengeluhkan diare.
"Awalnya ada beberapa siswa yang terlambat masuk kelas dan dibawa ke ruang kesiswaan. Setelah dimintai keterangan, mereka mengeluh mengalami diare dan harus antre di toilet," kata Yuga.
Keluhan serupa kemudian disampaikan siswa lain yang mendatangi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk meminta obat. Berdasarkan pendataan sementara, tercatat sebanyak 123 siswa SMKN 3 Boyolangu mengalami diare dengan gejala yang sama.
Yuga menyebutkan, para siswa menduga gangguan kesehatan itu berkaitan dengan menu MBG yang dikonsumsi pada Senin (19/1) pagi. Gejala diare mulai dirasakan sekitar 12 jam setelah makanan dikonsumsi.
"Menu MBG dikonsumsi siswa sekitar pukul 08.00 WIB dan keluhan diare mulai muncul sekitar pukul 20.00 WIB. Sementara guru yang mengonsumsi MBG siang hari baru merasakan gejala dini hari," ujarnya.
Ia menambahkan, sekitar 80% siswa dan tenaga pendidik di sekolah tersebut mengeluhkan kondisi serupa, termasuk dirinya. Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Rawa Selatan Moyoketen selaku penyedia MBG.
Sebagai langkah antisipasi, penyedia MBG menarik seluruh menu yang telah didistribusikan pada hari itu. Pihak sekolah juga memutuskan memulangkan siswa lebih awal agar yang sakit dapat segera mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan.
"Saat ini kami masih melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan wali murid terkait kemungkinan adanya siswa yang menjalani perawatan medis," tuturnya.
Dihentikan Sementara
Terkait dengan kejadian tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Rawa Selatan di Desa Moyoketen, Kabupaten Tulungagung diminta menghentikan sementara penyaluran program MBG. Sekretaris Satgas MBG Tulungagung, Jawa Timur Sony Welly Ahmadi mengatakan, penghentian sementara dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, terhadap sampel makanan MBG yang diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan tersebut.
"Kami menerima laporan ada 123 pelajar mengalami diare diduga setelah mengonsumsi menu MBG pada Senin (19/1). Hari ini kami melakukan peninjauan langsung ke sekolah dan SPPG," kata Sony di Tulungagung, Selasa.
Peninjauan lapangan tersebut melibatkan Dinas Kesehatan Tulungagung, Badan Gizi Nasional (BGN), serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat. Tinjauan dilakukan untuk mengevaluasi penerapan standar operasional prosedur (SOP) dan higienitas dapur SPPG, sekaligus pengambilan sampel makanan.
Sony menjelaskan, menu MBG yang dikonsumsi pelajar pada Senin (19/1) terdiri atas nasi putih, ayam bakar, tahu kuning, sambal kecap, selada, dan buah semangka. Sementara menu MBG untuk Selasa belum sempat dibagikan karena langsung ditarik setelah muncul keluhan diare.
"Dugaannya berasal dari menu yang dikonsumsi kemarin, karena makanan untuk hari ini belum dibagikan," ujarnya.
Selain 123 pelajar yang melaporkan diare, pihaknya juga menerima informasi sekitar 70 pelajar tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Namun, Satgas MBG masih mendalami apakah ketidakhadiran tersebut berkaitan dengan konsumsi MBG atau disebabkan faktor lain.
Sebagai langkah antisipasi, Satgas MBG telah meminta Dinas Kesehatan Tulungagung menyiagakan 32 puskesmas di wilayah setempat untuk menangani kemungkinan adanya pelajar yang membutuhkan perawatan lanjutan.
"Hasil uji laboratorium akan menjadi dasar penentuan langkah selanjutnya. Untuk sementara, operasional SPPG kami hentikan hingga hasil pemeriksaan keluar," kata Sony.
Tinggalkan Komentar
Komentar