Periskop.id - Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut aliran dana yang mengalir ke daerah berkat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai Rp1 triliun per hari. Dana ini juga diserap oleh lebih dari 1 juta pekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), utamanya dari kelompok miskin ekstrem.

"Rata-rata uang pemerintah yang mengalir ke daerah mencapai sekitar Rp1 triliun per hari. Sekitar Rp117 miliar diserap oleh 1,8 juta pekerja, terutama kelompok miskin ekstrem, dan lebih dari Rp600 miliar diserap oleh pedagang beras, sayur, ikan, telur, daging, hingga buah," kata Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Sony Sonjaya di Jakarta, Kamis (16/4). 

Sony menjelaskan insentif untuk SPPG sebesar Rp6 juta per hari bukan keuntungan, melainkan investasi untuk pemberdayaan masyarakat. Ini karena jumlah anggaran tersebut, lanjutnya, akan kembali kepada masyarakat.

"Sebanyak Rp117 miliar per hari diserap oleh 1,8 juta relawan yang terlibat menyalurkan makanan bergizi kepada penerima manfaat. Dana tersebut menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang terlibat langsung dalam pelaksanaan Program MBG," ujar Sony.

Ia menambahkan Program MBG juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi para pelaku usaha bahan pangan, dengan besaran ratusan miliar rupiah yang mengalir setiap hari. Dana sebesar itu, terserap oleh pedagang bahan makanan yang menjadi pemasok program prioritas nasional itu.

Menurut Sony, wujud pemberdayaan masyarakat terlihat nyata dalam rangkaian rantai pasok MBG yang selama ini selalu melibatkan Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Ia pun mengimbau seluruh SPPG untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah guna menyiapkan rantai pasok MBG. Pasalnya, kebutuhan SPPG yang dipenuhi dari pasar tradisional berpotensi mengganggu perputaran ekonomi di tengah masyarakat yang selama ini sudah berjalan.

"Pemerintah daerah harus mulai serius dan berkonsentrasi bagaimana menyiapkan rantai pasok,” serunya. 

Ia pun mewanti jangan sampai kebutuhan SPPG dipenuhi dari pasar tradisional, karena tempat itu puluhan tahun digunakan untuk memenuhi kebutuhan ibu-ibu rumah tangga. “Jangan sampai buncis, kacang panjang, telur, itu di pasar tradisional rebutan antara emak-emak, ibu-ibu rumah tangga dengan kepala SPPG," tuturnya.

Saat ini, menurutnya, Program MBG telah menjadi fenomena baru yang memunculkan perubahan model usaha di berbagai daerah. "Ada showroom mobil, hotel-hotel kecil, rumah kantor (ruko), gedung olahraga (yang beralih menjadi SPPG). Ini artinya merupakan satu fenomena, adanya perubahan model usaha," ucap Sony.

Ia menegaskan sebanyak 70% dana digunakan untuk bahan baku dan langsung masuk ke Virtual Account (VA) SPPG, tidak melalui kementerian atau pemerintah daerah, yang memastikan pencairan dana dilakukan dengan penuh akuntabilitas.

"Pencairan dana ini memerlukan dua otorisasi, sehingga pengawasan ketat," kata Sony Sonjaya.