Sepuluh Provinsi Dikepung Karhutla, Bromo Terbakar 520 Hektare
BNPB mencatat karhutla melanda 10 provinsi pada awal Agustus 2026. Kebakaran Gunung Bromo menjadi sorotan dengan area terdampak mencapai 520 hektare

Periskop.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di berbagai wilayah Indonesia pada pekan pertama Agustus 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kejadian karhutla tersebar di sedikitnya 10 provinsi, mulai dari Aceh hingga Papua Barat Daya, dengan kebakaran di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, menjadi salah satu yang paling luas karena telah terdampak hingga 520 hektare.
Laporan BNPB, Senin (10/8) menunjukkan kebakaran muncul di Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya. Sejumlah kejadian berhasil dipadamkan, tetapi beberapa lokasi masih membutuhkan penanganan lanjutan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebut musim kemarau yang berlangsung saat ini telah meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi kering, termasuk karhutla. BNPB juga mencatat pemicunya beragam, mulai dari pembakaran sampah, pembersihan lahan dengan cara membakar, hingga kondisi lahan yang kering dan cuaca panas.
Kebakaran Bromo Capai 520 Hektare
Kondisi paling menonjol terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Hingga Minggu (9/8) pukul 23.30 WIB, luas kawasan yang terdampak kebakaran tercatat mencapai 520 hektare. Vegetasi yang terbakar antara lain cemara gunung, mentingen, akasia, dan semak belukar.
Besarnya kebakaran membuat seluruh pintu masuk wisata Gunung Bromo ditutup sementara sejak 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB sampai batas waktu yang belum ditentukan. Titik api di kawasan Lembah Dingklik juga sempat terpantau membesar.
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha sebelumnya mengonfirmasi besarnya area terdampak tersebut.
"Tercatat hingga saat ini ada 520 hektare kawasan terdampak kebakaran," kata Rudijanta, Minggu (9/8/2026).
Kementerian Kehutanan menyebut angin kencang menjadi salah satu tantangan karena mempercepat penjalaran api di kawasan savana dan lereng yang sulit dijangkau dari darat. Tiga helikopter telah digunakan untuk membantu pemadaman dari udara.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga memerintahkan penutupan sementara kawasan tersebut agar sumber daya dapat difokuskan untuk pemadaman sekaligus menjaga keselamatan pengunjung.
“Menginstruksikan Kepala Balai untuk menutup sementara secara total TN Bromo Tengger Semeru,” ujar Raja Juli.
Sulawesi hingga Maluku Utara Juga Terbakar
Karhutla dalam skala cukup besar juga terjadi di luar Jawa. Di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, kebakaran yang muncul di kawasan Pulau Bakalan menghanguskan sekitar 72,4 hektare hutan dan semak belukar. Api diduga meluas akibat angin kencang dan kondisi lahan yang kering, sebelum akhirnya berhasil dipadamkan pada Minggu.
Di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sedikitnya 15 hektare lahan terbakar. Hingga Minggu, petugas gabungan masih melakukan pemadaman pada dua titik di wilayah Tallang Sura. Sementara di Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, kebakaran melanda tiga kecamatan dengan total luas sekitar 23 hektare.
Kebakaran dengan luasan lebih kecil juga tercatat di Aceh Besar, Belitung Timur, Subang, Jepara, Banyumas, Jember, Tojo Una-Una, serta Kota Sorong. Salah satu kasus di Subang bermula dari pembakaran sampah yang kemudian merambat ke area kebun bambu seluas dua hektare. Di Belitung Timur, api dipicu aktivitas pembersihan lahan sebelum meluas.
Situasi tersebut memperlihatkan ancaman karhutla tidak hanya terkonsentrasi di Sumatera dan Kalimantan yang selama ini dikenal memiliki banyak kawasan gambut, tetapi juga meluas ke Jawa, Sulawesi, Maluku hingga Papua.

Karhutla Nasional Sudah Tembus 107 Ribu Hektare
Meluasnya kebakaran pada Agustus terjadi ketika luas karhutla nasional sejak awal tahun sudah meningkat tajam. Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan 107.465,47 hektare hutan dan lahan terbakar sepanjang Januari-Juni 2026. Luasan tersebut meningkat sekitar 366% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Data tersebut merupakan luas kumulatif area yang mengalami kebakaran selama enam bulan pertama 2026, sehingga bukan berarti seluruh 107 ribu hektare masih terbakar secara bersamaan saat ini. Penghitungan Kemenhut menggunakan analisis citra satelit yang dikombinasikan dengan sebaran hotspot, pengecekan lapangan, dan laporan pemadaman.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, pemerintah juga mendeteksi 8.069 hotspot di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 329 titik telah dikonfirmasi sebagai kejadian karhutla.
Enam provinsi yang menjadi prioritas utama pengendalian karhutla pemerintah adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Namun, kejadian pada awal Agustus menunjukkan kebakaran juga muncul di banyak daerah di luar enam wilayah prioritas tersebut.

El Nino Kuat Perbesar Risiko Karhutla
Risiko kebakaran diperkirakan masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan. BMKG mencatat 73,8% wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim telah memasuki musim kemarau pada akhir Juli 2026. Curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 80,77% wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut diperparah oleh El Nino kuat. Pada awal Agustus, indeks Niño 3.4 dasarian berada di level +2,45, sementara sekitar 92,59% wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan rendah pada Dasarian I Agustus. BMKG memperingatkan kombinasi musim kemarau dan El Nino meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.
Pemerintah telah mengandalkan kombinasi operasi darat, water bombing, patroli udara hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan kebakaran. Di Kalimantan Tengah, misalnya, BNPB memperkuat operasi gabungan dan menambah armada untuk menghadapi puncak El Nino setelah luas karhutla di provinsi tersebut mencapai 3.069,52 hektare pada akhir Juli.
BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, membakar sampah di area terbuka, maupun membuang puntung rokok sembarangan. Masyarakat juga diminta menghemat dan menyiapkan cadangan air bersih selama musim kemarau berlangsung.
Dengan kemarau yang semakin luas dan El Nino kuat masih berlangsung, pengendalian karhutla kini tidak hanya bergantung pada pemadaman setelah api muncul. Pencegahan pembakaran terbuka, deteksi titik panas sejak dini, serta kesiapan personel dan peralatan di daerah menjadi penting agar kebakaran yang awalnya berskala kecil tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Raja Juli Antoni, Rudijanta Tjahja Nugraha, Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), dan karhutla dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.