Update Gempa NTT M7,7: Korban Tewas 38 Orang, BMKG Catat 235 Gempa Susulan
Gempa NTT M7,7 menewaskan 38 orang. BMKG mencatat 235 gempa susulan hingga Sabtu siang dengan kekuatan mencapai M6,2 dan aktivitas belum meluruh signifikan.

Periskop.id - Dampak gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Hingga Sabtu (15/8/2026) sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 38 orang meninggal dunia, dua orang mengalami luka berat, dan 11 lainnya luka ringan. Di saat bersamaan, aktivitas gempa susulan masih terus terjadi di sekitar utara Pulau Flores.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam konferensi pers daring mengatakan pihaknya menerima informasi mengenai puluhan gempa susulan setelah gempa utama terjadi pada pukul 04.58 WIB.
"Dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah memberikan informasi bahwa sampai pukul 15.00 hari ini sudah terjadi 31 kali gempa susulan," kata Suharyanto dalam konferensi pers daring di Jakarta, Sabtu (15/8).
Namun, pembaruan resmi BMKG yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan angka lebih tinggi. BMKG mencatat 235 aktivitas gempa susulan hingga pukul 14.00 WIB, dengan kekuatan berkisar magnitudo 2,5 hingga 6,2. BMKG juga menyatakan grafik pemantauan belum menunjukkan peluruhan aktivitas gempa susulan secara signifikan.
Dengan demikian, terdapat perbedaan angka antara data yang disebut Kepala BNPB dalam konferensi pers dan pembaruan teknis yang diterbitkan BMKG. Untuk data aktivitas kegempaan, rilis resmi BMKG pada Sabtu sore menjadi pembaruan yang lebih mutakhir dan mencakup keseluruhan aktivitas aftershock yang terekam jaringan pemantauan.
Empat Gempa Susulan Berkekuatan Besar
Dalam paparannya, Suharyanto menyoroti sedikitnya empat gempa susulan dengan magnitudo relatif besar yang terjadi tak lama setelah gempa utama.
"Yang pertama, gempa susulan yang cukup besar magnitudonya 6,2, pada pukul 05.13, hampir sama dengan gempa yang pertama, di kedalaman 10 km dan tetap berada di laut," kata dia.
Gempa susulan berikutnya tercatat bermagnitudo 5,5 pada pukul 05.13 lewat 53 detik dengan kedalaman 10 kilometer. Setelah itu, gempa bermagnitudo 6,2 kembali terjadi pada pukul 05.28 WIB di kedalaman 10 kilometer, kemudian disusul gempa magnitudo 5,6 sekitar pukul 05.37 WIB.
"(Gempa susulan) yang cukup besar ini ada di pagi hari. Sejak pukul 07.00 pagi sampai sekarang sudah tidak ada lagi gempa-gempa dengan magnitudo besar," kata Suharyanto.
Meski gempa susulan berkekuatan besar lebih banyak terjadi pada pagi hari, aktivitas kegempaan masih terus terekam. Bahkan, data BMKG menunjukkan pada pukul 14.39 WIB kembali terjadi gempa magnitudo 5,1 berkedalaman 10 kilometer dengan pusat sekitar 82 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, NTT. BMKG meminta masyarakat tetap berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan aktivitas sesar membutuhkan waktu sebelum kembali stabil. “BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Faisal.
Dipicu Flores Back Arc Thrust
BMKG memastikan gempa utama merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back Arc Thrust atau sesar naik busur belakang Flores. Parameter gempa dimutakhirkan menjadi magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer dan pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo.
Guncangan terkuat tercatat mencapai VII MMI di sejumlah kawasan, termasuk Aesesa di Kabupaten Nagekeo, Riung di Kabupaten Ngada, serta beberapa kawasan Manggarai dan Ruteng. Intensitas VI MMI juga tercatat di Wolowae dan Kota Bajawa.
Sesar yang sama memiliki catatan panjang gempa merusak di Flores. BMKG menyebut kawasan tersebut pernah diguncang gempa besar pada 1992 yang juga menimbulkan kerusakan dan tsunami. Karena pusat gempa kali ini relatif dangkal, dampak terhadap bangunan dan infrastruktur menjadi lebih berat.
Tsunami Sempat Capai 1,61 Meter
Gempa M7,7 pada Sabtu pagi juga sempat memicu peringatan dini tsunami. BMKG mengeluarkan peringatan hanya sekitar dua menit setelah gempa utama dan kemudian mengakhirinya pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan kondisi muka air laut telah kembali aman.
Pemantauan tide gauge BMKG mencatat tsunami tertinggi mencapai 1,61 meter di kawasan Reo, Manggarai dan Manggarai Timur. Gelombang setinggi 0,94 meter tercatat di Maurole, Ende, sedangkan pengamatan di Bulukumba dan Sape, Bima menunjukkan ketinggian lebih dari 0,5 meter.
Sebelumnya, pemantauan awal juga mendeteksi perubahan muka air laut di sejumlah titik pesisir lain, termasuk Sikka, Labuan Bajo, Flores Timur, Dompu, Alor, Baubau hingga Kolaka.
Korban Meninggal Bertambah Jadi 38 Orang
Sementara aktivitas gempa masih berlangsung, proses pencarian dan pendataan korban terus dilakukan. Data BNPB pada pukul 15.00 WIB mencatat jumlah korban meninggal telah meningkat menjadi 38 orang. Jumlah itu bertambah signifikan dari pembaruan pukul 12.30 WIB yang masih mencatat 14 korban meninggal dunia.
Pemerintah dan tim gabungan masih melakukan evakuasi, verifikasi korban, pendataan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak. Ribuan warga sebelumnya juga dilaporkan melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri akibat gempa tersebut. Pada pembaruan pukul 12.30 WIB, BNPB mencatat sekitar 2.000 warga telah mengungsi atau melakukan evakuasi mandiri.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, Basarnas dan kementerian terkait terus mengerahkan personel untuk penanganan darurat. Masyarakat diminta menjauhi bangunan yang rusak atau retak karena aktivitas gempa susulan masih berlangsung dan berpotensi memicu keruntuhan bangunan.
BMKG juga mengingatkan warga tidak mempercayai informasi yang tidak terverifikasi dan selalu memantau perkembangan melalui kanal resmi. Aktivitas seismik diperkirakan masih membutuhkan waktu sebelum benar-benar kembali stabil.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Letjen TNI Suharyanto, BNPB, gempa bumi, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.